Breaking News

Bank Aceh

Wanita yang Berendam di Krueng Cut itu...

Wanita yang Berendam di Krueng Cut itu...
Inilah hasil berendam di sungai (krueng ) cut , wanita itu..

SIANG itu, cuaca tak seberapa panas, deru mesin kenderaan di atas jembatan Krueng Cut pun tidak terlalu bising maklum karena hari belum begitu siang dan suasana puasa Ramadhan. Sejumlah anak-anak kecil yang tidak berpakaian berenang dengan senangnya, sambil berlompatan ke dalam air dan bercengkerama  dengan sesamanya.

Namun di sebuah selokan kecil yang juga masih merupakan bagian dari aliran Sungai Krueng Cut ini, yang memisahkan Kota Banda Aceh dengan Aceh Besar, terlihat sekelompok wanita tengah baya dengan tekunnya sedang mengambil tiram untuk dibawa pulang ke rumah dan dicungkil kemudian dijual yang  biayanya buat hidup, plus biaya sekolah anak-anak mereka.

Sesekali mereka menyelam ke dalam air dan mengangkat setumpuk benda hitam yang terkadang bermata tajam atau sebongkol batu ukuran sedang yang telah melekat sejumlah tempurung tiram. Dengan teliti benda itu dipisahkan dari bebatuan atau dibersihkan dengan parang kecil (pisau) dan kemudian dimasukkan ke dalam keranjang.

Bila keranjang telah penuh, maka diisi lagi ke dalam karung yang telah disiapkan di darat. Begitulah terus kegiatan yang mereka lakukan. Kepada BERITAMERDEKA.net yang sengaja meliput kegiatan wanita tepi pantai itu, Selasa 28 April 2020, salah seorang diantara mereka mengaku bernama Mariana (38 tahun), warga Desa Payueng mengatakan, tiram-tiram itu akan mereka jual lagi. Ya, tentu saja setelah dikupas (dicungkil) dari tempurungnya telebih dahulu.

Tambahnya lagi, dalam setengah hari mereka berhasil mengumpulkan empat atau sampai lima mok tiram setelah dikupas. Ukuran satu mok yang dibuat dari kaleng susu isinya sekitar 3,5 ons. Sedangkan harga satu mok mereka jual Rp15.000 dari sebelumnya Rp12.000 per mok-nya.

“Jadi dalam satu hari kami rata-rata bisa mendapatkan uang Rp.50.000 sampai Rp.70.000,“ jelas Mariana, warga Payueng, Kecamatan Baitussalam itu.

Hal sama diakui Salamah (35 tahun) dan Naimah (40 tahun), warga Alue Naga, yang saat ditemui BERITAMERDEKA.net di pondok kecilnya di tepi selokan kecil dan tepi jalan Alue Naga. Dua wanita yang masih kakak beradik ini mengaku, perjaan itu mereka lakukan mengingat kondisi ekonomi keluarga yang kini sangat memprihatinkan. Lagi pula tak ada pekerjaan lainnya yang bisa dikerjakan. Bahkan anak gadis dari keluarga yang hidup di pesisir pantai ikut membantu orang tuanya mencari tiram ini, ujarnya Salamah.

Mereka menjelaskan alasan yang sama, yaitu untuk menambah penghasilan keluarga. Karena pendapatan suami tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dalam membiayai keluarga mereka. Sehingga terpaksa mereka yang mencari tambahan penghasilan keluarga.

Para wanita pesisir ini mengaku sejak dari remaja sudah terbiasa hidup dalam berbagai cuaca. Alam sudah menuntun mereka menjadi pekerja kasar yang selalu akrab dengan aroma laut. Tirom alias tiram menjadi bagian dari hidup mereka.

Menariknya, diantara lima orang wanita itu, ada seorang pria yang ikut bergabung melakoni pekerjaan mencari tiram secara bersama-sama yang seolah-olah terkesan tidak bisa dipisahkan dari biota laut itu. Kendati tidak menjamin masa depan, namun mereka tidak kekurangan pangan dari hasil mencari dan menjual tiram itu, kata pria tadi yang mengaku bernama Muhammad Nur (38 tahun) warga Krueng Cut.

Dari tiram inilah mereka mendongkrak pendapatan keluarga. Bagi Muhammad Nur Cs, ini cukup bermanfaat untuk menutupi surplus kebutuhan dapur. Dia mengaku tentu saja tak cukup jika semata-mata mengandalkan biaya hidup dari hasil mencari tiram.

“Jika ada yang sudi memberikan sedikit bantuan modal kepada kami untuk bidang usaha lain seperti untuk pengadaan perahu untuk mengangkut tempurung tiram dari tengah sungai ke darat. Kami sangat beterima kasih sekali," ujarnya.

Tapi lain lagi yang diungkapkan kelima wanita tadi mereka tidak butuh bantuan perahu, alasannya karena mereka wanita. Yang dibutuhkan adalah pisau, keranjang, sarung tangan, dan sarung kaki agar terhindar dari goresan ketajaman tempurung tiram.

“Kami sangat mengharapkan kepada pemerintah, agar mau mengucurkan sedikit dana untuk kami juga dapat menyekolahkan anak-anak kami seperti orang lain,“ harap mereka polos.

Siang pun tiba yang ditandai panasnya terik matahari yang menyengat umbul-umbul kepala mereka. Satu per satu wanita ini bangun dari air dan bergerak mengumpulkan hasil yang di dapatnya pada hari itu dan berangkat pulang untuk mengurus anak di rumah dengan memikul beban berat di atas pundaknya. Bahkan harus berjalan jauh ke rumahnya, diantara bunyi klakson mobil mewah warga kota.| R. Ismail |.

Sponsored:
Loading...