Breaking News

Video Call, Cara Nia Bersilaturahmi pada Masa Pandemi Covid-19

Video Call, Cara Nia Bersilaturahmi pada Masa Pandemi Covid-19

Sejak awal Ramadan 1442 H, tidak dapat dipungkiri sebagian besar masyarakat di negeri ini, memiliki rencana bakalan pulang kampung alias mulih dilik (Mudik) yang artinya pulang sebentar, saat lebaran Idul Fitri. Termasuk muslimin rakyat Aceh yang berkeinginan merayakan hari kemenangan Idul Fitri bersama orang tua, sanak-saudara, dan keluarga dekat. Namun, keinginan tersebut terbentur dengan keluarnya Surat Edaran Gubernur Aceh, pada 12 April 2021. Isi SE itu, tentang Pembatasan Kegiatan Berpergian ke Luar Daerah dan/atau Mudik dan/atau Cuti bagi Aparatur Sipil Negara dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selain itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh menerbitkan larangan operasional angkutan umum, yang berdampak pada tiada penumpang yang mudik. Melalui instruksi tersebut, Gubernur Aceh Nova Iriansyah punya niat baik terhadap warganya, agar mereka tidak terkontaminasi dengan Covid-19, dimana sejak sebulan terakhir ini, angka kasus yang terpapar virus ini, semakin menignkat dari hari ke hari.

Akibatnya, semua angkutan umum berhenti beroperasi. Banyak masyarakat, termasuk supir jasa angkutan kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil atas kebijakan tersebut. Padahal, Pemerintah Aceh bukan bertujuan mengecewakan pihak perusahaan transportasi dan menzalimi rakyat, tetapi pemimpin di Aceh, tidak ingin terjadi peningkatan dan meluasnya penyebaran Covid-19, yang berdampak pada bertambahnya korban virus ganas itu.

Melihat faktanya dilapangan, tertanggal diberlakukannya larangan mudik, ada yang patuh dengan surat edaran tersebut, namun tak sedikit yang melanggarnya, bahkan di daerah lain, nekad menerjang barikade tim gabungan di pos penyekatan, hanya demi mudik.

Tetapi, tidak semua yang melanggar. Ada yang patuh, salah satunya, Nia Santi, warga Aceh. Ia bersama suami dan ketiga anaknya berdomisili di Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Mereka mengurungkan niat untuk tidak mudik ke Beureunun, Kabupaten Pidie. Bukan tidak punya uang atau kendaraan, tetapi karena cintanya pada orang tua dan kerabat lainnya, agar tidak menjadi korban Covid-19, sebab kenakalannya menorobos akses-akses penyekatan mudik dan membangkang kebijakan pemimpin.

Pada Jumat, 13 Mei 2021, Nia bercerita kepada wartawan BERITAMERDEKA.net, selama setahun ini, ia hanya menatap foto orang tua dan keluarga yang tersimpan di galeri gadget. Sesekali melakukan video call untuk meredamkan rasa rindu. Ketika merayakan Idulfitri 2021, masih dalam suasana pandemi, tanpa mudik, ia tetap mendapatkan kebahagian bersama keluarga yang jauh di Beureunun.

Justru rindunya pada orang tua melebur jadi cinta, yang tidak ingin kembali ke tanah kelahiran, demi menghindari penularan penyakit tidak kasat mata pada orang tua. Ia pun sadar, selama ini orang tuanya memiliki riwayat asma, yang sangat rentan diserang Covid-19. Baginya, lebih baik kehilangan orang tua beberapa saat daripada hilang untuk selamanya.

Sebenarnya, Nia harus pulang kampung Idul Fitri ini, sebab pada awal Syawal, keponakannya akan melaksanakan resepsi peminangan, namun karena larangan mudik, keinginannya untuk ikut andil dalam prosesi sakral itu harus ditunda.

Nia memahami kelelahan pemerintah, aparat penegak hukum dan keamanan, serta tim Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 yang setiap hari memberikan edukasi bagi masyarakat, mengajak untuk patuh protokol kesehatan (prokes). Semua ini dilakukan bukan untuk mereka, tetapi untuk kepentingan umum, supaya masyarakat kembali bisa beraktifas secara normal dan pulih secara ekonomi.

Jauh-jauh hari, suami Nia yang bernama Fadhil sudah programkan mudik,  tetapi mengingat lonjakan kasus Covid-19 meningkat, terutama di Banda Aceh, membuat suaminya membatalkan mudik. Lagi pula, Fadhil sosok yang sangat mendengar pesan istri, mereka selalu diskusi demi melahirkan sebuah keputusan konkret. Nia pun memberikan saran menunda pulang kampung, itu lebih indah, indah dalam arti aman dari ancaman Covid-19, walaupun dalam pandangan orang lain terkesan buruk, karena enggan menjenguk orang tua.

Setelah salat Idul Fitri, Nia telah sediakan kuota internet, untuk video call dengan keluarga dan keluarga mertua di Aceh Tamiang. Walau terlihat kurang sempurna, tetapi mereka sangat bahagia, senyum ria terlihat jelas ketika mereka sapa dan memohon maaf atas kesalahan. Nia juga meminta orang tua agar memahami situasi terkini, yang menyebabkan mereka tidak bisa pulang. Kerinduan terhadap orang yang telah melahirkan dan membesarkannya sedikit terobati, setelah saling sapa dalam video call.

Kehadiran gadget dengan segala fitur telah memberikan kemudahan bagi pengguna, sehingga sedikitnya dapat terobati kangen yang lama tidak bertemu. Allah memang tahu, saat orang-orang harus di rumah karena pandemi, ternyata Allah telah menyiapkan zaman digital, sehingga mereka yang di rumah saja bisa bertegur sapa dengan anak, istri, suami, dan orang tua sambil menatap wajah lewat Vicall.

Sebagai muslim, pandemi ini tidak hanya menjadi musibah, tetapi pelajaran. Nia menunturkan, semua orang harus memanfaatkan waktu saat bersama orang tua, supaya rindu dan kesempatan berbakti benar-benar dilakukan. Jangan sampai tiba suatu kondisi yang menghambat kesempatan berbakti, seperti pandemi Covid-19 yang menghalangi semua kebersamaan dengan ibu dan bapak.

Nia menyadari, kepulangannya sangat dirindukan oleh orang tua dan mertua. Tetapi ia tidak ingin membawa virus jahat, yang dapat menular pada orang-orang berusia lanjut, apalagi Covid-19 ini lebih ganas jika ada penyakit penyerta, yang menderita pada siapa pun.

Menghindari lebih baik daripada mengobati, begitu ucapan yang terus terdengar dari mulut Nia. Islam pun telah mengajarkan, menutup jalan yang mengarah pada kerusakan adalah wajib. Dalam hal ini, rusak sebab menciptakan peluang penyebaran Covid-19 secara lebih luas, terutama keluarga dekat.

Nia termasuk pecinta keluarga, yang selalu mengharapkan perjumpaan dengan orang tua. Sebelum Covid-19, Nia mencatat setahun tiga kali menjenguk orang tua. Namun sejak dua tahun ini, ia hanya menjenguk orang tua lewat alat komunikasi demi menatap wajah dan silaturahmi.

Perempuan pembisnis ini mengaku, pandemi Covid-19 berhasil menghalangi orang berjumpa dengan orang lain. Tetapi tidak mampu menyekat komunikasi antarkeluarga, sebab perkembangan teknologi berhasil menyediakan fasilitas silaturahmi sebagai perekat persaudaraan. Bagi perempuan tiga anak itu, tidak ada penghalang untuk memohon maaf pada ibu dan bapak, termasuk pada saudara.

Walau air mata mengalir saat video call, namun itu tanda bahagia, bukan kesedihan yang harus disesali. Mungkin ia harus bersabar beberapa hari, agar bisa bersama selamanya.

Kebiasaan ziarah ke makam nenek setiap Lebaran bukan masalah, doa untuk orang meninggal bisa dibacakan di mana saja, asalkan niatnya jelas, hanya raga saja tidak hadir di komplek makam untuk doa bersama dan membersihkan makam. (Oleh Amiruddin, Wartawan BERITAMERDEKA.net)

Editor:
Sponsored:
Loading...