Breaking News

Tradisi Bubur Kanji Bulan Ramadhan di Bireuen

Tradisi Bubur Kanji Bulan Ramadhan di Bireuen
Bubur kanji yanag mentradisi di bulan Ramadhan. (Foto Umar A Pandrah)

Bireuen, BERITAMERDEKA.net - Enam hari sudah umat muslim yang beriman menjalani puasa bulan ramadhan, Keuchik Firdaus Salatina, Gampong  Rheum Timu, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, bersama Tgk. Imum Sulaiman, dan masyarakat mengadakan musyarawah  menentukan  siapa bersedia masak bubur kanji pada bulan Ramadhan tahun ini. Begitu juga Gampong Cot Leubeng, Pandrah, Kabupaten Bireuen, menentukan jadwal woet kanji.

Musyawarah menentukan bubur kanji milik siapa hari pertama, kedua dan sampai hari yang terakhir. Gampong-gampong  mendapatkan kuota bersedekah bubur kanji,  hampir semua warga berkeinginan beramal melalui kenduri kanji  bulan Ramadhan.

Jumlah kepala keluarga dalam satu gampong sangat banyak untuk bersedekah bubur kanji, namun kuota masak bubur kanji hanya ada 30 hari, untuk mengantisipasi agar merata, warga gampong kadang kala terpaksa  membagi satu hari berdua, bahkan sampai bertiga dengan cara berkongsi.

Banyak juga warga perantau  berkeinginan mengambil bagian mensedekahkan bubur Kanji pada bulan yang penuh berkah, rahmat dan pengampunan tersebut. Dengan cara memesan terlebih dahulu melalui Keuchik atau keluarga yang tinggal di gampong untuk mencatat namanya agar mendapatkan jatah kanji sebelum musyawarah digelar.

Singkat cerita. Hari H pun tiba. Jadwal setiap KK yang mensedekahkan masak bumbu kanji telah dikantongi. Kini giliran memasaknya. Bagaimana caranya? Bubur Kanji dimasak dalam sebuah kuali ukuran besar yang bisa menampung kanji atau dapat dibagi kepada 80 sampai 140 KK. Setiap keluarga mendapat jatah satu sampai tiga liter bubur kanjinya setiap hari puasa Ramadhan.

Memasak kanji biasanya dimulai pukul 11.00 WIB sampai selesai pukul 17.00 WIB setiap hari bulan Ramadhan. Di gampong-gampong tertentu, memasak bubur kanji di bulan Ramadhan sudah membudayakan. Begitu jam lima sore,  anak-anak datang berbondong-bondong untuk mengambil kanji. 

Seolah- olah belum sempurna puasa bagi keluarga sebelum pergi ke Meunasah untuk mengambil kanji. Apalagi tradisi ini dilakukan sejak lama, sehingga membudaya di masyarakat  Kabupaten Bireuen.  |Umar A Pandrah |

Editor:
Sponsored:
Loading...