Breaking News

Semoga Negara tak "Durhaka " dengan Putera Aceh Kivlan Zen

Semoga Negara tak "Durhaka " dengan Putera Aceh Kivlan Zen
Usapan air mata oleh istri tercinta..

BERITAMERDEKA.net - Masih ingat kita dengan sosok Putra Aceh, Mayjen (Pur) TNI Kivlan Zen, SIP M.Si seorang tokoh militer Indonesia.

Kivlan Zen lahir di Langsa Aceh 24 Desember 1946. Masa muda dan saat jadi pelajar ia juga aktif dalam organisasi Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Pada tahun 1965, Kivlan muda masuk Akademi Militer (Akmil) setelah lulus SMA.

Sejumlah jabatan strategis pernah ia pegang, dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan RI. Ia pernah menduduki jabatan Kepala Staf Kostrad ABRI, dan sebelumnya mengemban 20 jabatan lainnya, khusus bidang tempur.

Beberapa kali ianya berhasil melakukan negosiasi dengan pemberontak Philipina, ketika menculik sejumlah ABK dari Indonesia. Sebuah bukti putra Aceh ini hebat dan punya jaringan internasinal.

Setelah pensiun, Kivlan Zen, tidak diam. Dia tetap peduli dengan kondisi negaranya. Sifat kritis terhadap kebijakan pemerintah, ia pun dibenci. "Memang ada yang ingin masukkan saya ke penjara," katanya dalam acara ILC suatu waktu.

Firasatnya, terbukti menjadi kenyataan. Kini ia jadi pesakitan dan bolak balik ke pengadilan. Tuduhan makar dan memiliki senjata api ilegal, perangkap yang sedang dipasang menuju bui.

Jasa beliau selama aktif di TNI, bagaikan sirna ditelan bumi. Setelah pensiun negara malah membenci dan bermaksud menjeblosnya ke penjara. Naif, sedih, dan apa yang sedang terjadi di negara ini.

Namun partisipasi sesama purnawirawan yang sedang membangun kekuatan untuk melawan kezaliman terstuktur.

Kabarnya, ribuan purnawirawan TNI dan Polri diklaim memberikan dukungan kepada terdakwa kasus kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen.

Setidaknya ada 3.332 purnawirawan TNI/Polri yang pasang badan dan meminta agar kasus Kivlan dihentikan.

"Mereka purnawirawan minta persidangan dihentikan," kata pengacara Kivlan, Tonin Tachta.

Tonin mengklaim, ribuan para purnawirawan itu telah mengetahui duduk perkara kasus yang menjerat Kivlan.

Terutama setelah melihat hasil pemeriksaan terhadap salah satu tersangka yakni Iwan alias Helmi Kurniawan.

"Tidak ada perintah pembunuhan, tidak ada pembelian senjata setelah Iwan terima uang, karena senjata sudah ada di tangan Iwan, tidak ada rekaman suara seperti yang digadang-gadang, dan lain-lain," tutur Tonin.

Salah satu purnawirawan yang memberikan dukungan yakni Kolonel (purn) Sugengwaras. Seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Sugengwaras menyampaikan sejumlah hal yang diharapkan bisa dijadikan pertimbangan oleh majelis hakim.

Mulai dari karakter Kivlan selama berdinas aktif di militer, pernyataan bahwa Kivlan tidak pernah terlibat kasus pidana selama mengabdi di TNI AD, prestasi Kivlan, hingga kondisi kesehatannya saat ini yang membutuhkan perawatan intensif.

Dari berbagai pertimbangan itu, Sugengwaras berharap majelis hakim mengadili Kivlan secara adil. Serta meminta majelis hakim untuk menghentikan proses persidangan.

"Memohon kepada majelis hakim, untuk memutuskan bebas murni, tanpa syarat dari segala tuduhan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum," ucap Sugengwaras dalam surat tersebut.

Dalam kasus ini, Kivlan didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum atas kepemilikan empat senjata api dan 117 peluru tajam. Kivlan juga disebut menerima aliran dana dari Habil Marati.

Habil merupakan terdakwa dalam kasus perencanaan pembunuhan terhadap empat tokoh nasional.

Dalam eksepsi yang langsung dibacakan oleh Kivlan pada persidangan 22 Januari lalu, ia meminta majelis hakim membebaskannya dari perkara ini.

Kivlan berpendapat dakwaan yang telah disusun Jaksa Penuntut Umum tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap.

Saat kini negara (presiden), hendaknya punya perhatian khusus dalam kasus Kivlan Zen. Apalagi kondisi kesehatan beliau sangat menurun saat ini. Semoga negara tidak "nurhaka" dengan seorang pejuang tangguh, sosok Kivlan Zen. | tarmilin usman |

Sponsored:
Loading...
Loading...