Breaking News

Sampah Merenggut Keindahan Kotaku

Sampah Merenggut Keindahan Kotaku

Oleh: Rahmati, S. Ag., MA

SAMPAH merupakan benda padat, tidak dipakai, jarang diinginkan, kurang beraturan dan kerap dibuang. Banyak masyarakat beranggapan bahwa sampah tergolong barang sepele. Ada yang membuangnya sesuka hati, di mana pun berada, seperti di samping rak dagangan, bahkan di lokasi dekat manusia.

Tanpa sadar, banyak warga sudah biasa beberadaptasi dengan singar binger bau sampah. Luar biasa memang. Kerap sekali terlihat pengguna jalan raya seenaknya membuang sampah di depan dagangan orang lain, tanpa merasa risih.

Sering terlihat pula di tepi jalan nasional, tumpukan sampah yang menggunung dan berserakan. Di parit-parit juga terlihat penuh dengan aneka sampah.

Kenyataan seperti ini, minim sekali pihak yang mau menanganinya, termasuk kesemrautan pasar akibat tumpukan benda tidak bermanfaat itu. Mereka seakan saling melepas tanggung jawab, entah karena tidak ada iuran kebersihan, atau cuek terhadap keindahan lingkungan.

Biasanya, kalau ada iuran, ramai muncul orang baik hati, yang giat menuntaskan masalah sampah, bahkan tanpa instruksi, alias SK tugas.

Realita ini, bisa memicu pro dan kontra, bakal muncul oknum yang menyalahkan masyarakat. Padahal, masyarakat dan para pengguna pasar belum mengerti tentang kebersihan dan bahaya dari sampah itu sendiri.

Sebaiknya, masyarakat diimbau agar selalu menjaga lingkungan, di sekitar rumah dan pasar, dengan mengadakan tempat penampungan sampah dan pengadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang layak dan memadai.

Fenomena yang sering terjadi, selama ini pemerintah kecamatan kerap lepas tangan. Tentu tidak bisa dipungkiri, sampah memicu dampak terhadap kesehatan masyarakat dan terjadi lingkungan kumuh, khususnya di pasar kota.

Tempo dulu, sampah belum menjadi masalah. Tetapi dengan bertambahnya penduduk, semakin hari problematika sampah kian besar dan meresahkan. Kemajuan zaman tanpa dibarengi perubahan pola pikir masyarakat, tentu dapat melahirkan masalah baru. Sehingga kesemrautan kota itu bukan lagi dianggap problematika oleh masyarakatnya. Meningkatnya jumlah sampah merupakan bagian dari perubahan, modernisasi kehidupan dan perkembangan teknologi, sebab aktivitas manusia meningkat.

Semakin beragamnya aktivitas, bermacam pula jenis sampah yang diproduksi, terutama sampah dari perumahan, bukan sampah masyarakat. Artinya, sampah ini dihasilkan oleh penduduk setempat, yang membuang sisa-sisa barang atau produk usai dimanfaatkan. Sampah konsumsi merupakan bekas yang dihasilkan manusia sebagai konsumen abadi.

Keberadaan manusia erat kaitannya dengan sampah, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun budaya. Kesehatan seseorang merupakan masalah sosial, yang berkaitan antara komponen-komponen dalam masyarakat, termasuk kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Tumpukan sampah akan menimbulkan bau busuk dan kotoran. Inilah kondisi yang sulit diubah, meskipun telah diedukasi bertahun-tahun.

Di dekat pasar ikan Kecamatan Dewantara, pemandangan itu dapat disaksikan setiap hari. Selain bau yang menyengat, juga terganggu sebab adanya lalat-lalat yang setiap saat dapat hinggap di makanan, terlebih makanan yang terletak di area terbuka. Sangat disayangkan, pada masa Covid-19 seperti ini, di satu sisi pemerintah mengajak masyarakatnya hidup sehat, namun sisi lain justru mengundang penyakit berbahaya lainnya, lewat pembiaran sampah yang semakin menggunung.

Artikel ini, mencoba memaparkan beberapa terobosan atau langkah- langkah proaktif, agar pasar dan kota tertata rapi tanpa.

Pertama, pengadaan tong sampah berwarna di setiap toko atau rumah. Tong sampah sangat efektif untuk mengatasi penumpukan sampah. Pihak pemerintah bisa sosialisasikan pada setiap warganya tentang penggunaan tong sampah berwarna. Tong sampah berwarna hijau untuk sampah organik, seperti daun-daun atau sampah yang dapat membusuk dan sebagainya. Pemerintah desa juga harus dapat mengikuti aturan yang ditugaskan oleh pemerintah kecamatan.

Kedua, adanya iuran kebersihan. Iuran kebersihan merupakan dana yang dikeluarkan oleh tiap-tiap Kepala Keluarga (KK) dan dikelola oleh aparatur setempat, sebagai dana operasional petugas kebersihan yang mengambil sampah kerumah- rumah warga. Di kota-kota besar, program ini sudah lama dilaksanakan. Toh dana yang dikumpulkan sangat terjangkau, sehingga masyarakat tidak pernah mengeluh dengan retribusi tersebut.

Ketiga, adakan lomba lingkungan sehat, bersih, dan asri. Penulis pernah berkunjung ke suatu tempat, pada Agustus. Kelurahan mengadakan kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI. Salah satu kegiatannya adalah lomba mengumpulkan barang bekas oleh karang taruna. Para pemuda karang taruna diberi tantangan untuk mengumpulkan barang-barang bekas, baik kaleng bekas minuman, bekas air kemasan dan sebagainya. Setelah dikumpulkan sebanyak- banyaknya, mereka menukarkan pada ketua RT, lalu diberikan hadiah sesuai dengan kategori barang yang dikumpulkan. Ini merupakan satu motivasi luar biasa, yang ditanamkan pada genersi muda untuk memelihara linkungan tempat tinggal agar bebas sampah.

Keempat, libatkan petugas keamanan (Kamtibmas). Salah satu tugas dan fugsi petugas keamanan adalah menjaga ketertiban dan dan kenyamanan warga. Persoalan semrautnya kota karena tumpukan sampah, itu adalah sudah tergolong mengganggu ketertiban dan kenyamanan. Boleh jadi akan ada hal-hal buruk yang muncul, misalnya saat pembuangan sampah di depan toko orang lain, sehingga cek cok pun tidak bisa di hindari. Agar ketenteraman itu dapat terwujud, maka pihak berwajib atau Kantibmas difungsikan pada tempat-tempat rawan penumpukan sampah.

Petugas difungsikan untuk menjaga lokasi TPA, guna mengontrol warga agar benar-benar membuang sampah pada tempatnya. Sehingga sampah tidak ada yang berserakan keluar area, atau berceceran di jalan, akses kendaraan. Terkait biaya operasional, dapat dianggarkan oleh pemerintahan desa dan kecamatan. Juga dapat memberdayakan generasi muda sebagai tim kebersihan dan keamanan.

Kelima, daur ulang sampah. Khusus sampah-sampah organik dapat dijadikan pupuk organik yang ramah lingkungan (pengolahan biologis). Zat biologis dapat berupa zat tanaman, sisa makanan atau kertas. Salah satu contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengomposan adalah Green Bin Program (Program Tong Hijau) di Toronto, Kanada. Yakni, sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman, dikumpulkan dalam kantong khusus untuk dikomposkan.

Mengubah sampah organik terkadang membawa keuntungan. Pupuk yang berasal dari sampah organik bisa digunakan untuk keperluan pribadi, bahkan untuk dijual. Bahan pupuk organik sangat mudah didapatkan. Pupuk ini terkenal ramah lingkungan. Sampah non organik seperti botol-botol, dan kaleng bekas dapat dijadikan benda berguna, bila ada sentuhan seni. Dengan kreativitasnya, manusia bisa menciptakan bunga tiruan, seperti plastik dan bekas pipet serta menggunakan kaleng bekas untuk potnya. Banyak juga mainan yang bisa dibuat dari sampah-sampah non organik, seperti kaleng dan botol, misalnya untuk membuat mobil mainan. Singkatnya, kita bisa menyulap sampah menjadi barang bernilai ekonomis.

Harapannya, tak ada lagi sampah yang memenuhi parit di sekitar rumah, sehingga menyebabkan banjir. Musim penghujan menjadi fase yang tidak mengenakkan bagi masyarakat, apalagi di permukiman yang padat. Parit-parit tidak mampu lagi mengalirkan air secara maksimal, karena terhalang oleh tumpukan sampah. Hal ini mengakibatkan air hujan terbendung dan menggenangi pekarangan rumah. Genangan air terkadang membawa bau tidak sedap, serta membunuh rumput-rumput di halaman rumah dan ruang terbuka lainnya.

Mengakhiri tulisan ini, ada secuil harapan, agar program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) tidak hanya intervensi secara fisik saja, melainkan juga dapat terwujud dan dapat mengubah sisi sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku hidup masyarakat. Karenanya, perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan tempat kumuh. Seperti pengadaan pos penjagaan di daerah yang rawan kumuh. Jangan sampai lokasi bersih, tetapi malah jadi kumuh atau muncul tempat kumuh baru di kawasan-kawasan lainnya. Tentunya, perlu dilakukan langkah taktis dan berkelanjutan oleh seluruh komponen masyarakat, demi kelangsungan hidup manusia.

Penulis Adalah : Pengawas SMA Dinas Pendidikan Aceh

Sponsored:
Loading...