Breaking News

Revilla Oulina Piliang, Wanita Komandan Pasukan PBB Pertama di Dunia

Revilla Oulina Piliang, Wanita Komandan Pasukan PBB Pertama di Dunia
Revilla saat memimpin pasukan PBB

Jakarta, BERITAMERDEKA.net - Kalau dilihat lebih jeli, sebenarnya jarang sekali kita mendengar perempuan sukses berkarier di dunia militer di Indonesia.

Sebab selama ini ya lebih banyak didominasi laki-laki. Tapi Revilla Oulina Piliang seolah mematahkan anggapan itu. Kemampuan perempuan asal Pariaman, Sumatera Barat itu justru sudah diakui dunia.


Revilla adalah prajurit TNI Angkatan Udara (AU) berpangkat Letnan Kolonel, yang namanya belakangan ini ramai diperbincangkan.

Karena Villa, sapaan akrabnya, pernah tercatat sebagai perempuan pertama di dunia yang menjabat sebagai Chief U9 Unamid (United Nations African Mission In Darfur). Asal tahu saja, Unamid adalah misi kerjasama antara PBB dan Uni Afrika untuk mengamankan wilayah Darfur, Sudan.

Awalnya, saat tawaran itu datang, Villa sempat menolak ikut tes jadi pasukan perdamaian PBB. Hingga akhirnya memutuskan ikut juga. Bahkan yang tak disangka, perempuan berusia 46 tahun ini malah lolos jadi pemimpin salah satu tim pasukan perdamaian PBB di Sudan, Afrika Utara pada tahun 2017-2018.

“Tugas saya itu mengoordinasikan pembangunan di wilayah Sudan. Misalnya PBB mau bangun masjid, jembatan, sekolah, penjara, itu saya koordinasikan dengan satuan tugas. Dan iya, (jabatan) Chief U9, ini pertama kali dipegang perempuan, dan saya bangga,” tukas ibu dari dua anak ini senang.
Lantas, bagaimana sosok Villa sampai tertarik dengan dunia militer.

Ternyata, sejak kecil Villa memang tertarik dengan dunia militer. Ketika itu, dia sering melihat tentara lalu-lalang di desanya, yang lokasinya boleh dibilang jauh dari perkotaan, di wilayah Pariaman.

Tentara yang dia lihat saat itu hampir semuanya laki-laki, dia nyaris tak pernah melihat ada tentara perempuan bertugas di desanya.

Suatu saat, ketika berlibur ke Jakarta, Villa melihat pemandangan yang makin meyakinkan niatnya jadi tentara.

“Pas bus berhenti di Tugu Tani, saya lihat bus TNI AU. Itu isinya tentara perempuan semua. Mereka cantik-cantik dan keren. Saya langsung pengin jadi tentara. Saya ikutan Menwa (Resimen Mahasiswa). Katanya bisa jadi militer kalau ikutan Menwa,” cerita Villa.

Villa sempat meminta izin kepada ibunya untuk jadi tentara. Sang ibu sempat ragu, karena khawatir dia enggak bisa bertahan. Kata Villa, “Ibu bilang latihan fisiknya itu berat. Katanya, kalau enggak kuat ya enggak usah dilanjutin. Ternyata saya kuat. Karena sudah dilatih pas ikut Menwa.”

Ada kisah mengesankan selama Villa menjabat Chief U9. Dia cerita, Sudan merupakan salah satu negara konflik yang miskin, dan masih kental dengan perang suku. Villa sering menangis melihat kondisi warga di sana.

Kata Villa, “Sedih, sumber air itu enggak ada. Pas ke pasar, saya lihat orang-orang jualan di atas pasir, itu kan panas. Sekolah di sana juga bangunannya menyedihkan. Saya beruntung sekali, Indonesia jauh lebih baik.”

Selain itu, selama bertugas di sana, Villa harus ekstra hati-hati. Setiap ke luar kantor untuk bertugas, dia harus dikawal pasukan PBB lain. Karena kalau sendirian bisa disandera warga setempat.

“Sekalinya dikawal itu bisa tujuh mobil, mobil saya di tengah. Kayak di film-film itu. Mereka menculik orang PBB buat minta uang. Jujur, saya takut. Tapi tugas harus saya selesaikan,” kisah Villa. Lantas, bagaimana melepas kangen dengan keluarga?

Villa bersyukur, karena di sana tersedia fasilitas wifi, sehingga setiap hari bisa video call dengan kedua anaknya untuk penambah semangat. Kini, setelah setahun tugas, Villa pulang ke Indonesia dengan kondisi selamat.


Saat ini dia bertugas sebagai pengajar di Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) di Jakarta.

Villa mengajar bahasa Inggris untuk prajurit muda. Wah, hebat ya!.(*)

Sumber:Nova.id
Sponsored:
Loading...
Loading...