Breaking News

Pulo Aceh, Transportasi Sulit dan Harga Barang Melambung

Pulo Aceh, Transportasi Sulit dan Harga Barang Melambung
WARGA Pulo Aceh menggunakan transport laut menuju pusat Kota Banda Aceh | foto rusli ismail

Banda Aceh,BERITAMERDEKA.net - Ribuan jiwa penduduk di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan hingga kini masih mengalami kesulitan sarana dan alat transportasi. Akibatnya harga barang kebutuhan pokok di kepulauan itu melambung tinggi.

Kondisi itu sudah berlangsung lama sejak kawasan itu dihuni masyarakat. Transportasi untuk akses ke pusat kota menjadi barang mahal dan sulit. Mereka masih menggunakan boat nelayan yang dibuat khusus untuk jalur transportasi warga sehari-harinya, kata beberapa warga Pulo Aceh yang baru mendarat di Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, Minggu 28 Juni 2020.

Selama ini warga di Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar belum ada sarana transportasi yang memadai sehingga sangat kepayahan bila hendak menuju ke daratan seperti Kota Banda Aceh dengan berbagai keperluan, kata Amir, seorang warga setempat. 

“Sejak saya lahir hingga sekarang beginilah nasib warga di kawasan kepulauan Pulo Aceh yang belum mendapatkan bantuan sarana transportasi khusus berupa kapal untuk jalur akses, baik ke pulau tempat kami tinggal maupun sebaliknya untuk menuju daratan seperti Banda Aceh, “sebut Amir.

Untuk menuju Kec. Pulo Aceh dan sebaliknya ke Banda Aceh, saat ini warga mendarat di Pelabuhan Ulee Lheu, Kec. Meuraxa dan atau Pelabuhan Samudra Lampulo, Kec. Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Tidak hanya warga yang berlayar dengan kapal nelayan, tapi termasuk juga hewan ternak seperti sapi diangkut dengan kapal nelayan bercampur dengan manusia, katanya.

Hingga kini penduduk yang bermukim di pulau tidak ada cara lain menuju Kota Banda Aceh, kecuali melalui akses jalur laut dan masuk sungai dengan menempuh jarak puluhan kilometer dan menghabiskan waktu selama 2 jam. “Itu bila cuacanya normal, tapi saat cuaca tidak normal bisa menghabiskan waktu mengarungi ombak besar di laut 3 sampai 4 jam.

Disebutkan Amir, hingga kini ribuan warga Pulo Aceh masih ketergantungan dan bergantung hidup dari pusat Kota Banda Aceh, sebab sebagian besar warga bermata pencaharian utama nelayan yang harus mendistribusikan hasil panen ke Kota Provinsi Aceh itu dengan harga jauh lebih rendah.

Seorang warga Pulo Aceh lainnya, Mukhtar menyebutkan, jika hendak ke Pulo Aceh atau sebaliknya ke Kota Banda Aceh warga harus mengeluarkan ongkos Rp.40.000, ditambah ongkos barang atau bawaan ringan itu gratis, barang dalam jumlah besar dan lembu antara Rp.50.000 hingga Rp.150.000 dan paling murah Rp.20.000 per paket, “ujarnya.

Menurutnya, berbagai jenis hasil laut diperoleh masyarakat Pulo Aceh diperdagangkan ke Banda Aceh. Namun, harganya masih rendah karena mengeluarkan biaya besar. Dicontohkannya, bila di Banda Aceh harga ikan itu mencapai Rp.25.000, maka di sana hanya Rp.13.000/kg, begitu juga harga gabah sama saja, pokoknya bedanya sampai 20 hingga 25 persen. Sebaliknya harga kebutuhan pokok dan barang lainnya lebih mahal 20 -25 persen, “ungkapnya. | rusli ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...