Breaking News

Puasa sebagai Psikoterapi Masa Pandemi Covid-19

Puasa sebagai Psikoterapi Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Karjuniwati, S.Psi, M.Psi

SEHAT mental merupakan hal penting saat ini bagi setiap orang, apalagi di tengah pandemi covid 19. Menjaga mental agar tetap sehat sangat perlu dilakukan.

Di tengah pandemi corona, banyak kita melihat dan mendengar baik di media elektronik maupun media cetak bahwa kesehatan mental seseorang terganggu karena tertekan oleh situasi pandemi.

Sebagian besar masyarakat merasakan kecemasan dengan penyebaran virus tersebut.

Semua tidak dapat menghindari bahwa penyebaran virus itu sangat cepat dan tidak diketahui bagaimana sumbernya. Sehingga membuat warga was-was dan khawatir tertular.

Selain itu, berada dalam kondisi ketidakpastian kapan akan berakhir virus corona menjadi kekhawatiran pada setiap orang.

Belum lagi terjadinya perubahan perilaku masyarakat dari sebelumnya memiliki mobilitas tinggi seperti pergi bekerja, sekolah, kuliah, rapat serta nongkrong bersama teman-teman atau keluarga.

Namun sekarang harus melakukan semua aktivitas tersebut dari rumah, bekerja dari rumah, dan belajar dari rumah. Selain itu, beberapa orang harus belajar menggunakan berbagai aplikasi untuk dapat mudah berinteraksi dan berkomunikasi dalam bekerja, belajar, dan sebagainya.

Tentu hal ini tidak mudah untuk dilakukan secara tiba-tiba, sehingga sering muncul tekanan psikologis, seperti stres.

Nah apakah cemas dan takut menghadapi pandemi ini dianggap wajar?. Di sini, perlu dipahami bahwa saat situasi mengancam seseorang, dan responnya adalah takut atau cemas maka hal itu masih dikatakan normal atau wajar.

Karena pada dasarnya otak manusia terprogram untuk menghindari ancaman, termasuk penyakit, sehingga menjadi cemas adalah respons otak untuk membantu tubuh menghindari ancaman penyakit tersebut.

Ketika seseorang merasa cemas, ada upaya dari dirinya untuk mencegah tidak terjadi penularan, misalnya memakai masker, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun, melakukan physical dan social distancing.

Artinya, dengan kecemasan yang dialaminya membuat seseorang untuk menjaga pola hidup lebih baik dan mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sedangkan rasa cemas menjadi tidak wajar atau normal adalah saat cemas yang dialaminya menjadi berlebihan, sehingga dapat mengganggu aktivitas dan fungsi kehidupan sehari-harinya.

Cemas yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan dalam pikiran, perasaan dan perilakunya, pada akhirnya mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Kesehatan mental merupakan kondisi psikologis di mana individu menyadari kemampuannya, mampu menghadapi stres, dan menyelesaikan dengan cara positif. Mampu bekerja produktif, efisien, dan siap memberikan kontribusi terhadap komunitas apa pun.

Apabila seorang tidak mampu menyeimbangkan aspek fisik, psikis, dan sosial akan mengakibatkan munculnya gangguan mental.

Gangguan mental yang kerap terjadi pada masa pandemi corona adalah timbulnya gangguan obsesif compulsif , yaitu terjadinya perilaku berulang-ulang, karena adanya pikiran yang tidak masuk akal dan ketakutan.

Misalnya mencuci tangan berkali-kali, meskipun tangannya sudah bersih.

Gangguan psikosomatis yaitu terjadinya penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh.

Pikiran mempengaruhi tubuh sehingga muncul penyakit, seperti jantung berdebar-debar, sesak nafas, sakit mag, migren dan sebagainya.

Gangguan depresi, gangguan ini menyebabkan seseorang tidak berdaya, kehilangan minat, dan tidak bersemangat dalam beraktivitas karena merasa tertekan.

Bagi umat Islam, tentunya dengan kehadiran Ramadan merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Sebab setiap amalan akan Allah lipat gandakan.

Keberadaan Ramadan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan meningkatkan ketakwaan pada Allah.

Ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan membuat pikiran manusia menjadi lebih tenang. Meskipun Ramadan tahun ini terasa berbeda dengan sebelumnya.

Dimana kita menyambutnya dengan penuh suka cita. Namun Ramadan 1441 H yang dijalani tidak sebebas tahun lalu, karena harus psychical dan social distancing.

Menurut WHO, sehat adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap. Dengan berpuasa maka dapat meningkatkan kesehatan seseorang.

Secara biologis, ketika tubuh merasa lapar dalam jangka waktu pendek, sebenarnya tubuh melepaskan zat kimia yang dapat melindungi otak dari pikiran negatif.

Bagi seseorang yang mengalami permasalahan secara mental, dapat ditangani dengan cara memberikan psikoterapi.

Psikoterapi berasal dari kata psiko yaitu jiwa, dan terapi yaitu penyembuhan.

Jadi psikoterapi adalah penyembuhan jiwa/mental. Menurut American Psychological Association (APA) Psikoterapi adalah suatu pengobatan kolaboratif berdasarkan pada hubungan antara individu dan psikolog, yaitu orang yang membutuhkan bantuan dari orang yang profesional.

Di sini, klien dan psikolog bekerja sama untuk mengidentifikasi dan mengubah pikiran dan pola perilaku yang menjaga klien dari perasaan baik.

Dalam kontek Islam, tentunya ada bentuk pengobatan yang dikenal dengan psikoterapi Islam.

Psikoterapi Islam adalah teknik pencegahan dan pengobatan gangguan kejiwaan yang berasal dari permasalahan kehidupan manusia, dengan menggunakan kombinasi pendekatan keagamaan dan pendekatan psikologi dalam perspektif Islam. Metode tersebut dapat diterapkan sendiri atau dibantu oleh psikoterapis.

Dalam penerapan psikoterapi islami, ada beberapa bentuk metode, yaitu psikoterapi melalui iman, psikoterapi melalui ibadah, dan psikoterapi melalui ruqyah.

Dalam bulan Ramadan ini, puasa merupakan salah satu psikoterapi melalui ibadah.

Puasa adalah bentuk ibadah berupa menahan sesuatu yang bersifat materi, seperti makan, minum, dan aktivitas seksual.

Serta menahan sesuatu yang bersifat non materi seperti pikiran, perkatan, dan perbuatan tercela.

Puasa Ramadan yang dilakukan dengan penuh penghayatan akan menyebarkan getaran kebaikan, kejujuran, kedamaian, dan kenyamanan kepada siapa saja yang berada di sekitarnya.

Ibadah puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia secara fisik, psikologis, dan sosial. Puasa yang dilakukan selama satu bulan, sangat membantu seseorang sembuh dari permasalahan mentalnya.

Puasa Ramadan berfungsi untuk :
1) mengendalikan diri; puasa dapat mengontrol dari perbuatan yang tidak terpuji. Puasa juga dapat menjaga ruh, hati, dan tubuh dari segala macam penyakit. Dengan berpuasa kita bisa mengontrol diri dari emosi negatif seperti sedih dan khawatir.

2) melatih diri untuk bersabar dan ikhlas. Puasa melatih diri untuk mampu menghindari dan bertahan dari perasaan berkeluh kesah terhadap cobaan dan kesulitan yang dialaminya. Sehingga mampu untuk menghadapi dan menerima ujian, menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.

3) menumbuhkan rasa simpati dan empati. Dengan berpuasa dapat merasakan orang-orang yang selama ini sulit memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan, atau para fakir miskin yang hidupnya penuh kekurangan, seperti yang terjadi pada masa pandemi ini, menjadikan semangat muslim untuk berbagi dan saling tolong menolong.

4) mengurangi gejala depresi dan cemas. Saat berpuasa terjadi pelepasan hormon endorfin, yaitu hormon yang memicu perasaan positif dan mengurangi rasa sakit, sehingga seseorang yang memiliki rasa cemas dan depresi akan menurun tingkatannya. Puasa juga dapat melepaskan diri dari perasaan bersalah dan dosa sehingga mendapatkan ketenangan dalam jiwanya.

5) meningkatkan kualitas tidur. Saat berpuasa ada peningkatan kualitas tidur pada seseorang, dengan kualitas tidur yang baik dapat meningkatkan mood positif.

6) meningkatkan semangat. Dengan berpuasa kadar glukosa dalam tubuh menjadi teratur sehingga dapat mengurangi perasaan lemas dan meningkatkan semangat dan membantu untuk fokus dalam mengerjakan suatu hal.

Selain itu, selama Ramadan ada dorongan untuk meningkatkan amal ibadah seperti tadarus, bersedekah, dan berbuat baik pada orang lain.

Referensi :
Kurniawan, Y., (2020, April). Cemas dimasa pandemi wajarkah?. Buletin KPIN. Vol.6 No. 07. Diakses dari http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/591-cemas-di-masa-pandemi-wajarkah
Reza, I.F. (2017). Teori dan Praktik Psikoterapi Islami. Palembang : Noer Fikri Offset

Penulis Adalah :
- Psikolog
- Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry
- Pengurus Ikatan Psikolog Klinis Aceh
- Pengurus Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN)

Sponsored:
Loading...
Loading...