Breaking News

Produksi Robusta Tangse Anjlok

Produksi Robusta Tangse AnjlokFOTO: Istimewa
Jemur Kakao

Banda Aceh,BERITAMERDEKA.net – Kawasan pegunungan Kecamatan Tangse, Manee, dan Geumpang yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil utama kopi di Kabupaten Pidie, tampaknya terancam sirna menyusul hasil produksi semakin anjlok dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pasalnya, biji kopi lokal dari Tangse, Manee, dan Geumpang saat ini tidak banyak lagi dibudidaya para petani sekaligus membuat produksi biji kopi turun drastis. Demikian dikatakan beberapa petani Tangse kepada BERITAMERDEKA.net, Jumat 10 Juli 2020.

Seorang pelaku usaha penampungan hasil perkebunan di Gampong Blang Lileue, Kecamatan Mutiara, Pidie, Junaidi, mengakui kopi lokal daerah pegungan Pidie itu dalam dua tahun terakhir semakin menurun (anjlok).

“Jika sebelumnya produksi kopi lokal dari daerah pegunungan itu misalnya mencapai 30-40 ton, kini hanya tinggal berkisar antara 20-25 ton saja,” ujarnya.

Dikatakan Junaidi, pihaknya selain menampung biji kopi juga menampung hasil perkebunan lainnya seperti kakao, pinang dan lainnya.

Pemilik usaha penampungan hasil perkebunan itu juga menyebutkan, dalam sepekan pihaknya menampung kakao petani sebanyak 20 ton. Namun, kakao yang berasal dari Pidie hanya berkisar sekira 5 hingga 7 ton dalam sepekan.

“Kakao yang kami tampung ada yang berasal dari Gayo, Bireuen, dan Pidie Jaya,” jelasnya.

Di tempat penampungan miliknya itu juga ditampung hasil perkebunan lainnya seperti pinang, kopi, dan kacang tanah. Semua hasil pekebunan kami tamping dan beli dari petani atau agen itu, sebelum dikirim ke Medan, Sumatera Utara, terlebih dulu dijemur dulu selama tiga hari.

Sementara salah seorang pekerja pada pengusaha penampung hasil perkebunan di Gampong Blang Lileue, Kecamatan Mutiara, Pidie, Muhammad Usman, mengatakan, dalam sehari pihaknya mengeringkan 5 ton biji kakao dengan cara menjemur biji-biji tersebut di bawah sinar matahari.

“Saat ini memang hampir habis masa panen kakao. Musim panen kakao dalam setahun dua kali. Yakni Bulan Febuari hingga April panen pertama dan Oktober hingga Desember untuk panen yang kedua kalinya, ”kata Muhammad.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Pidie Saiful Bahri SP mengatakan, menurunnya produksi kopi robusta lokal di Pidie disebabkan alih fungsi lahan, hama penyakit, dan banyak tanaman kopi yang sudah tua alias mati.

“Masa-masa gemilang atau keemasan kopi lokal di Pidie itu periode tahun 70-an sampai 90-an sudah hilang. Setelah itu, banyak lahan kopi petani terbengkalai karena konflik bersenjata,” kata Saiful seraya menambahkan, untuk kakao dan pinang cenderung stabil baik produksi maupun harga di pasaran.| Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...