Breaking News

Polisi Ringkus Empat Pelaku Transaksi Penjual Kulit dan Taring Harimau

Polisi Ringkus Empat Pelaku Transaksi Penjual Kulit dan Taring Harimau
Barang Bukti Kulit Harimau

Aceh Timur, BERITAMERDEKA.net - Empat orang pelaku pembunuh hewan liar dilindungi, MR (43), MD (50), S (45) dan A (47) ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh.

Keempat pelaku tertangkap tangan saat akan menjual kulit dan organ tubuh harimau Sumatera kawasan SPBU Aceh Timur.

Sementara salah seorang rekan dari empat pelaku HD masuk dalam Daftar Pencarian Orang, kini keempat pelaku sudah diamankan Polda Aceh.

Direskrimsus Polda Aceh Kombes Pol Margiyanta menyebutkan ke empat pelaku tersebut, ditangkap di depan SPBU Lhok Nibong Desa Meunasah Leubok, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

"Penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat akan adanya transaksi perdagangan kulit harimau, selanjutnya keempat pelaku berhasil diringkus di SPBU saat ingin bertransaksi" kata Margiyanta, Senin 22 Juni 2020.

Didampingi Kabid Humas Kombes Pol Ery Apriyono, Margiyanta menyebutkan harimau Sumatera tersebut diburu dengan cara di jerat. Ini dibuktikan di bagian kaki harimau tersebut terdapat luka jeratan.

"Ada bekas jeratan di kakinya. Hewan dilindungi tersebut di tangkap di pegunungan Gayo Lues," kata Margiyanta menjelaskan.

Dari penangkapan itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa kulit harimau basah, empat taring harimau beserta tulang, empat taring beruang madu dan 20 kuku beruang madu.

"Kulit harimau ini mau dijual dengan harga tinggi minimal Rp100 juta ke pembeli. Begitu juga dengan tulang, gigi harimau dan gigi beruang madu sengaja disimpan karna ada nilai ekonomisnya," katanya.

Menurut keterangan BKSDA, harimau yang dibunuh untuk diperdagangkan kulit dan organ tubuhnya itu berusia dua tahun berjenis kelamin perempuan.

Kini, keempat pelaku harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan dijerat dengan UU RI pasal 40 ayat (2) Undang-undang RI nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.| syafrul |

Sponsored:
Loading...
Loading...