Breaking News

Pidie Jaya Banjir, antara Kumuh Dan Wabah

Pidie Jaya Banjir, antara Kumuh Dan Wabah

BANJIR merupakan permasalahan yang begitu merebak di hampir semua daerah, walaupun secara georafis memang rawan banjir, seperti halnya banjir musiman di daerah pesisir pantai yang datangnya bulanan maupun tahunan.

Penyebab terjadinya banjir, selain curah hujan yang cukup deras, sehingga membuat luapan air dari drainase yang tidak sanggup menampung debit yang cukup besar, juga dikarenakan air bah di hulu sungai, menyebabkan daerah yang biasanya kering menjadi genangan air.

Pertanyaan, bagaimana upaya penanggulangannya? Terlebih daerah perkotaan yang menurut logika pastilah penataan drainasenya mengkaji antisipasi terjadinya banjir.

Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya merupakan dua kabupaten bertetangga, tak luput dari terjangan banjir yang datang musiman, terlebih dimusim penghujan seperti sekarang. “Bukan hal baru, Pidie dan Pidie Jaya sering digenangi banjir, “ujar Sulaiaman, warga Padang Tiji, mengingat banjir yang terjadi di kawasan Blang Putek beberapa waktu lalu.

Katanya, kalau hujan deras lebih kurang tiga jam tidak tertutup kemungkinan banjir pun terjadi di wilayah Kecamatan Padang Tiji, Pidie Aceh sekitarnya dan pemukiman warga, sehingga menimbulkan kesan kumuh di kawasan terkena banjir itu.

Peristiwa banjir lain yang baru beberapa hari lalu terjadi sebagaimana dialami warga masyarakat di Kabupaten Pidie Jaya, hingga menyebabkan 500 hektare tanaman padi terendam air, dan juga ribuan rumah terendam.

Pantauan beritamerdeka.net di beberapa sudut perkampungan di Meureudu dan Meurah Dua merupakan kawasan terparah diserang banjir sehingga banyak warga yang terpaksa mengungsi ke rumah family di desa lain.

Selain luapan air dari meluapnya sejumlah sungai juga saluran yang tidak sanggup menampung curah hujan, tak pelak juga terlihat tumpukan sampah ikut terangkat dari saluran dan sungai berserakan di permukaan air, sehingga menimbulkan bau tak sedap.

“Kayak kawasan perkampungan tak terurus pasca banjir sehingga banyak meninggalkan sampah dan kotoran yang terbawa air bah,“ kata seorang ibu saat melihat kondisi di kawasan banjir termasuk di perkampungan tempat tinggalnya yang ikut tergenang banjir tiga hari lalu itu. 

Tidak tahu, apakah saluran air dan sungai yang tidak sanggup menampung curah hujan, atau air yang jatuh ke pemukiman penduduk tidak mengalir lancar ke saluran atau sungai yang permukaannya sudah tertutup. Perlu diwaspadai wabah penyakit akibat dampak lingkungan jorok, pasca banjir.

Memang masalah banjir tanggungjawab semua lapisan masyarakat. Semua punya peran penting dalam menjaga lingkungan, bukan semata-semata tertumpu kepada pemerintah. “Namun, pemerintah diharapkan serius menangani permasakahan banjir di Aceh,“ kata warga.

Instansi terkait harus kebih pro-aktif masalah penanggulangan banjir dengan melalukan upaya, walaupun tidak bisa maksimal, setidaknya menimalisasi luapan air akibat terjadinya hujan. Banyak hal harus dilakukan guna mengantisipasi dampak banjir, seperti datangnya wabah penyakit, terlebih di lingkungan warga yang rawan banjir sangat diperlukan upaya menjaga kesehatan, seperti damam berdarah.

Dampak banjir menimbulkan rusaknya lingkungan, bahkan tidak tertutup akan merenggut nyawa manusia seperti terjadi di Uleegle, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, yang dilaporkan seorang pria tewas terbawa arus banjir beberapa hari lalu itu. 

Karenanya, perlu keseriusan penanganannya. Hal yang lumrah, terjadinya banjir adanya faktor alam dan campur tangan manusia seperti semakin maraknya terjadi perambahan hutan yang sering disebut illegal logging, keduanya saling berhubungan. Mencegah terjadinya banjir jauh lebih baik ketimbang memberi bantuan terhadap korban bencana banjir.| Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...