Breaking News

Bank Aceh

Petani Kakao Pijay Keluhkan Serangan Hama Buah Busuk

Petani Kakao Pijay Keluhkan Serangan Hama Buah Busuk

Meureudu, BERITAMERDEDKA.net – Secara umum para petani cokelat (kakao) di Kabupaten Pidie Jaya dan khususnya di Kecamatan Meureudu dan Kec. Meurah Dua, sejak lama sudah mengeluhkan dengan serangan hama yang menyerang buah kakao, sehingga membusuk di batang sebelum masa panen tiba.

Hal sebagaimana diungkapkan, Hasbi petani di Desa Geunteng, Kuta Rentang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Jumat 05 Juni 2020. Pria pensiunan guru itu menyebutkan, serangan hama busuk buah itu sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami sebagai petani tradisional tidak tahu jenis hama apa yang menyerang tanaman kakao, sehingga mengakibatkan buahnya membusuk. Tak sedikit petani yang gagal panen," kata dia.

Dijelaskan, bila buah kakao yang terserang hama ini tidak segera dipetik, maka pohonnya akan layu dan mati. Akibatnya, tidak sedikit pula pohon kakao petani yang mati akibat dari serangan hama tersebut.

Biasanya, kata Hasbi, penyakit ini menyerang pada buah kakao yang masih kecil, sehingga kondisi buahnya menjadi lebam, lalu perlahan membusuk hingga berubah menjadi warna hitam.

Buah kakao yang sudah diserang hama ini, bijinya sudah dipastikan dalam keadaan rusak atau tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Diakui Hasbi, petugas dinas terkait sudah turun ke lokasi, tetapi hingga kini belum ada penangkalnya. "Padahal mereka telah memberikan pupuk serta pestisida, akan tetapi belum ada hasilnya. Itu sebabnya, para petani sangat resah dengan serangan hama jenis ini, "katanya.

Serangan hama ini tentu mengakibatkan para petani merugi, karena hasil produksi kakao mereka anjlok. Di lain sisi, biaya untuk perawatan seperti membeli pupuk dan pestisida juga tergolong tinggi, sehingga tidak sebanding dengan hasil panen.

Selain hasil produksinya yang terus melemah (berkurang) disusul lagi dengan kondisi harga komoditas eksport itu terus melemah hingga Rp.18.000/kg dari harga normal berkisar Rp.40.000 hingga Rp.50.000 per kg 

Selain itu produksi kakao di Aceh juga masih yang terendah di Sumatera, dengan rata-rata hanya 350-400 kg per hektare.

Jumlah itu jauh dibandingkan dengan produksi normal per hektar yaitu 700-800 kilogram per hektar.
Hal itu dikatakan Sekjen forum Kakao Aceh T Zulkarnaen.

“Kondisi itu sudah terjadi sejak tahun 2012 hingga sekarang, makanya petani kakao di Aceh terus mengalami kondisi pahit, “kata Zulkarnaen.

Dia mengatakan, kondisi itu, selain karena cuaca, juga terjadi karena minimnya pengetahuan petani kakao di Aceh dan metode tanam yang tradisional. Hal ini menurutnya, menjadi kendala untuk mendorong peningkatan produksi dan juga banyak pohon yang sudah tua.

“Padahal, perkebunan kakao di Aceh sangat potensial sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang signifikan, maka kita akan terus memperbaiki kondisi ini, hingga mencapai apa yang kita inginkan, “ujarnya.

“Produksi kita sudah menurun 30 persen hingga 40 persen, maka kita akan fokus ini, dengan menjembatani para petani, agar mampu meningkatkan produksi, serta bersama-sama mencari solusi masalah yang ada, apalagi masalah yang terbesar saat ini masalah hama.| rusli ismail | 

Sponsored:
Loading...