Breaking News

Meskipun Surplus

Petani Aceh Masih Kekurangan Modal Tani

Petani Aceh Masih Kekurangan Modal TaniFOTO: Istimewa
Petani Cabai di Aceh Besar

Banda Aceh,BERITAMERDEKA.net – Provinsi Aceh merupakan daerah penghasil pangan yang sangat menjanjikan. Selain tanah atau lahannya yang masih tebentang luas juga memiliki kesuburan yang sangat bagus.

Beberapa pelaku usaha tani tanaman pangan kepada BERITAMERDEKA.net, di Sibreh, Aceh Besar, Rabu 15 Juli 2020 mengatakan, hingga saat sekarang daerah Aceh masih memiliki banyak dan luas lahan untuk dikembangkan berbagai komoditas pertanian terutama tanaman pangan.

Hanya saja menurut Ibrahim, seorang tokoh tani di Aceh Besar, yang menjadi kendala dalam pengembangannya adalah modal usaha tani. Pasalnya, rata-rata petani atau warga Aceh, kurang mampu mengembangkan usaha mereka karena terbentur persoalan dana (modal).

Surplus

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Provinsi, Aceh, A Hanan SP MM, mengungkapkan, jika dilihat dari target produksi dan kebutuhan untuk tiga jenis komoditas pangan (beras, bawang merah, dan cabai merah) untuk tahun 2020, maka beras dan cabai merah mengalami surplus.

“Sementara stok bawang merah lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga kini masih kurang,” ujarnya.

Untuk beras, lanjut A Hanan, lahan baku sawah Aceh hingga tahun ini seluas 213.997 hektare (ha) dengan target tanam 334.353 ha (IP 1,6), dan luas panen 317.653 ha (estimasi antara luas panen dibanding target tanam sebesar 95 persen). Angka-angka tersebut merupakan akumulasi dari semua kabupaten/kota yang ada di Aceh.

Adapun produksi per tahun (provitas) padi di Aceh untuk tahun ini sebagai 5,7 ton/ha. Jika disetarakan dengan Gabah Kering Giling (GKG) jumlah sebanyak 1.778.865 ton atau jika dihitung dengan beras setera dengan 1.054.540 ton.

Sedangkan kebutuhan konsumsi penduduk Aceh, kata AHanan, berkisar sebanyak 689.408 ton/tahun (kebutuhan beras 56.701 ton/bulan dengan konsumsi 126.28 kilogram/kapita/tahun (jumlah penduduk Aceh sebesar 3.388.093 jiwa).

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kata A Hanan, jumlah ini jauh di atas rata-rata nasional yang konsumsi berasnya hanya sebanyak 106-108 kg/tahun. Jadi, menurut saya ini sangat tinggi perbedaan konsumsi beras masyarakat Aceh dibanding provinsi lain, “jelasnya Hanan.

 Walaupun demikian, menurut A Hanan, ada juga kabupaten/kota di Aceh yang ketersediaan gabahnya minus, seperti Simeulue, luas tanam sedikit sehingga gabah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kabupaten itu. Hal tersebut terjadi karena petani di wilayah kabupaten itu hanya menanam padi sekali dalam setahun.

“Jadi, beras untuk memenuhi kebutuhan mereka harus dipasok dari daratan. Karena itu, ke depan kita akan mendorong petani di Simeulue untuk turun ke sawah dua kali dalam setahun,“ ungkap A Hanan.

Sedangkan konsumsi kebutuhan nonpangan gabah di Aceh sebesar 7,3 persen per tahun,  dengan kebutuhan beras nonpangan sebesar 3,33 persen per tahun.

“Dengan kondisi yang ada saat ini, pada tahun 2020 kita perkirakan Aceh bisa surplus beras sebanyak 339.016 ton,“ timpalnya.| Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...