Breaking News

Pertanda Banjir akan Surut, Rombongan Sepat dan Nila Bermunculan

Pertanda Banjir akan Surut, Rombongan Sepat dan Nila Bermunculan
Seorang warga sedang manjala ikan di Krueng Daroy | foto R Ismail

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Banjir melanda kawasan Kota Banda Aceh dan meningkatnya debit air Krueng (Sungai) Daroy dalam dua hari ini tidak hanya membuat nestapa bagi ribuan warga di Banda Aceh dan Aceh Besar yang rumahnya terendam.

Dibalik duka itu, rombongan ikan Nila dan Sepat bermunculan dan hadir sebagai berkah bagi warga untuk tambahan penghasilan, ditengah banjir melanda ibukota provinsi itu.

Sepintas ikan nila dan sepat itu mirip mujair, bentuk tubuhnya sama dengan mujair, namun ukurannya lebih kecil.

Warnanya hitam kecoklatan dan ditubuhnya terdapat garis hitam dan putih kekuningan.

Kedua jenis ikan itu merupakan spesies ikan istimewa yang ada di sungai Aceh Krueng Daroy, Banda Aceh.

Konon katanya, ikan ini hanya didapati dialiran Krueng Daroy ketika saat debitnya meningkat atau bertambah yang nyaris meluap.

Salah satu yang menjadikan ikan-ikan tersebut begitu istimewanya yakni kemunculannya di Sungai Daroy hanya ketika setiap kali banjir.

Menurut kepercayaan masyarakat bataran sungai Aceh masa lampau, kemunculan ikan ini memberi pertanda bahwa banjir nyaris mencapai puncaknya.

Seperti banjir yang telah menyebabkan ribuan warga di Banda Aceh dan Aceh Besar ini dalam dua hari terakhir misalnya. Sejak, Kamis hingga Jumat sore (7 dan 8 Mei 2020), Nila dan Sepat mulai bermunculan dan suatu kebetulan luapan air sungai pun berhenti dan bertahan, bahkan saat ini belum surut.

Warga pinggiran sungai yang umumnya nelayan pun mulai berburu ikan di sungai tersebut.

“Sudah dua hari ini Nilai dan Sepat bermunculan. Lumayanlah, hasil tangkapan ini dapat dijual untuk menambah uang, karena selama virus corona (Covid-19) dan banjir kami tidak dapat mencari nafkah, “kata Jamal, salah seorang penjaring ikan itu, Jumat 8 Mei 2020 sore.

Penangkapan Nila dan Sepat dilakukan warga dengan cara menjala atau menjaring.

Hanya bermodalkan peralatan tradisional sederhana, mereka mengumpulkan kedua jenis ikan untuk dikonsumsi dan sebagian lainnya dijual sebagai tambahan penghasilan.

Ikan ini biasanya berada di aliran air yang tidak deras, karena hidupnya tidak melawan arus. Dalam sekali usaha menjala dan menjaringnya, rata-rata warga mampu mendapatkan satu timba ikan atau sekitar 25 mangkuk takar.

Hasil tangkapan itu, dijual warga dengan memanfaatkan pinggiran jembatan sungai Aceh sebagai lapak. “Nila dan Sepat ini mampu hidup hingga berjam-jam di air sungai keruh.

“Hanya tinggal satu mangkuk yang ada, tadi banyak yang membeli, “kata Jamal.

Nila dan Sepat cukup laris diburu masyarakat untuk dikonsumsi, sebab bukan saja rasanya yang enak dan gurih, ikan ini juga harga tidak mahal alias murah.

Nila dan Sepat biasanya dijual seharga Rp.10.000 hingga Rp.20.000 persatu takaran (mangkuk pencuci tangan).

Setiap orang biasanya membeli satu sampai  dua takar untuk diolah dan dijadikan makanan.

Meski demikian ada juga yang membeli dalam jumlah banyak untuk diolah, sehingga lebih tahan lama.

Meski ukuran sangat kecil, masyarakat di Aceh Besar dan Banda Aceh khususnya. Dan sekitarnya meyakini ikan ini halal untuk dikonsumsi.

Tidak mengherankan jika musim Nila dan Sepat saat banjir datang menjadi berkah bagi masyarakat pinggiran Krueng Daroy yang diterpa banjir, karena ikan tersebut menjadi alternatif mata pencaharian bagi mereka.

Bagi warga asli Aceh Besar dan sekitarnya, Nila dan Sepat bukan barang aneh, bahkan sejumlah warga di sana suka untuk mengkonsumsi ikan ini.

Karenanya, kalau sedang musim, banyak warga berebut untuk membelinya. Semoga dengan bermunculan dua jenis ikan itu, banjir benar banar surut. | r ismail |

Sponsored:
Loading...
Loading...