Breaking News

Pemuka Katolik Nilai Aplikasi “Kitab Suci Aceh” Ganggu Kerukunan

Pemuka Katolik Nilai Aplikasi “Kitab Suci Aceh” Ganggu Kerukunan
Baron F Pandiangan

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net – Menyangkut semakin marak dan berkembangnya aplikasi “Kitab Suci Aceh” yang diduga sengaja dipublikasikan. Juga mendapat tanggapan dari  Pemuka Katolik di Aceh, Baron F Pandiangan. Bahkan dia sangat menyayangkan munculnya aplikasi “Kitab Suci Aceh” di Google Playstore itu.

Bahkan, menurut Pemuka Katolik itu, aplikasi tersebut berisi terjemahan injil, Taurat dan Zubur dalam Bahasa Aceh. Baron mengatakan, jika merujuk pada nama aplikasi dan isinya sangat rancu dan tidak sesuai.

Baron F Pandiangan yang juga menjabat Pembimas Katolik di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh itu menjelaskan, meskipun aplikasi tersebut berisi terjemahan kitab injil, namun isinya tidak bisa dijadikan rujukan untuk umat Katolik.

“Bahkan untuk Katolik sendiri, isi kitab yang ditampilkan tidak bisa menjadi rujukan Alkitab resmi, karena pada dasarnya Alkitab yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia maupun terbitan lembaga Biblika Indonesia, “ujar Baron, Rabu 03 Juni 2020.

Ditambahkan Baron F Pandiangan, aplikasi yang diilakukan itu diduga, diunggah oleh oknum yang tidak paham kearifan lokal Aceh. “Ya, dugaan kami sementara bahwa aplikasi “Kitab Suci Aceh” dibuat oleh oknum yang tidak memahami lokal wisdom Aceh yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai toleransi yang membangun kerukunan antar maupun intern umat beragama, “kata Baron.

Baron juga menyampaikan apresiasi terhadap Pemerintah Aceh yang telah menyatakan keberatannya terhadap keberadaan aplikasi tersebut.

“Kami juga mendukung bila Pemerintah Aceh mengambil langkah-langkah sesuai prosudur hukum berlaku menyampaikan nota keberatan bahwa aplikasi itu berpotensi membuka peluang ketidak rukunan, sekaligus meminta kepada pihak Google untuk menghapus aplikasi tersebut, “kata Baron.

Sebelumnya, Kanwil Kemenag Aceh melalui Kasubbag Kerukunan Umat Beragama dan Ortala, M. Nasir, Lc, MA menyatakan keberatan atas pencatutan nama Aceh pada aplikasi terjemahan tersebut. Kemenag Aceh menyatakan, mencatut nama Aceh dalam aplikasi ini hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Ia mengatakan, pihaknya meminta pihak pengembang aplikasi tersebut untuk segera mengubah nama dan mencopot aplikasi tersebut.

“Aceh sangat rukun saat ini, jangan usik kerukunan tersebut hanya dengan aplikasi, kami mohon kepada pembuat untuk segera mencopotnya., “kata Nasri. | rusli ismail |

Sponsored:
Loading...
Loading...