Breaking News

Pembiayaan Bank Aceh tak Pernah ada Intervensi

Pembiayaan Bank Aceh tak Pernah ada IntervensiDok. BeM
Kantor Bank Aceh

Banda Aceh, BeM - Bank Aceh Syariah,  mengedepankan profesionalisme dalam pembiayaan produktif. Mekanisme pembiayaan seperti layaknya Bank Syariah, tidak ada intervensi pihak mana pun ketika menyalurkan pembiayaan ( kredit ) baik skala kecil, menengah maupun besar.

Proses pencairan pembiayaan tidak seperti membalikkan telapak tangan, namun butuh proses yang panjang dan melibatkan para profesional lain diluar dari Bank Aceh Syariah, selain tim dari internal Bank, seperti Otoriras Jasa Keuangan (OJK), Kantor Jasa Penilai Publik atau KJPP yang menilai kelayakan anggunan dan rencana pembiayaan, juga melibatkan Kantor Akuntan Publik yang telah terakriditasi oleh negara dan banyak lagi yang harus dilengkapi oleh calon debitur, demikian Amal Hasan, Direktur Dana dan Jasa PT.Bank Aceh Syariah,  Senin, 23 Maret 2020 kepada media ini, dalam menyikapi beredarnya informasi bahwa Bank Aceh Syariah telah memberikan kredit sebesar Rp108 milyar kepada PT. Bumi Samaganda, milik Makmur Budiman. " Tidak benar Rp 108 milyar. Tapi hanya Rp 83 Milyar," tegasnya

Amal menambahkan, pihak Bank Aceh tidak melihat siapapun dia yang memohon pinjaman pembiayaan,  namun itu semua berlandaskan dari ingin meningkatkan daya produktivitas dan daya saing dalam pengembangan usaha yang akhirnya akan muncul multiplier effect kepada masyarakat.

Bank Aceh Syariah satu - satunya bank lokal di Aceh yang sudah survev, sudah semestinya pro kepada pengusaha lokal untuk pengembangan usaha, tentunya tidak hanya berorientasi bisnis namun dampak sosialnya juga penting.

Dia juga mengingatkan tentang adanya rilis dari Bank Indonesia hasil Kajian Ekonomi Regional Aceh, bahwa tingkat pengangguran terbuka di Aceh sudah sangat meresahkan, pada Desember 2019 Aceh berada pada tingkat 6,2 % , meski menurun sedikit dari tahun sebelumnya, sedangkan angka kemiskinan pada angka 15,01 % pada tahun 2019, sehingga diharapkan Bank Aceh harus proaktif dalam mendorong sektor ril di Aceh.

Jika ada pengusaha lokal yang memiliki kapabilitas dalam pengembangan usaha ekspor impor serta sektor produktif, pihak Bank Aceh tentu siap membantu dalam pembiayaan,  namun tetap menggunakan prinsip - prinsip kehati - hatian dengan menggunakan four eye principle, dimana setiap keputusan pembiayaan melibatkan sinergi antara unit bisnis yang bertanggung jawab, studi profitabilitas dan unit resiko atau management resiko.

Melihat fenomena pembiayaan Bank Aceh Syariah kepada pengusaha lokal menjadi polimik, bahkan disebut  di back up oleh penguasa dalam memperoleh angka kredit sebesar itu, maka Pengamat Ekonomi Aceh, Rustam Effendi angkat bicara soal polimik yang tidak mendasar itu.

Menurut Rustam Effendi, sikap Bank Aceh Syariah sudah tepat memberikan pembiayaan kepada pengusaha Aceh dalam mengembangkan usaha di Aceh, "Angka sebesar itu sudah biasa digunakan oleh pengusaha di Indonesia, bahkan pernah mencapai diatas Rp 500 miliar yang dibiayai oleh bank," ujarnya.

Rustam Effendi sebagai pengamat ekonomi Aceh yang juga kandidat doktor disalah satu Universyitas di Malaysia, menilai ekonomi Aceh harus bangkit dari berbagai sektor dan harus di evaluasi tingkat kegagalannya dimana usai diberikannya modal pembiayaan dari bank selevel Bank Aceh Syariah, tentunya.

"Jangan cepat dicurigai macam - macam, seolah  dana di Bank Aceh itu akan menghancurkan ekonomi Aceh, orang luar maju terus, pengusaha Aceh keok terus," kata Rustam.

 Rustam  melalui hand phone selurarnya, kepada salah seorang wartawan mengatakan jika Bank Aceh tidak bersikap cepat dalam membackup kredit produktif kepada pengusaha lokal, Aceh akan terus terlambat dalam mendongkrak pendapatan pajak sektor rill dan serapan tenaga kerja lokal sehingga akan tergeser angka kemiskinan dan bergerak naik angka pertumbuhan ekonomi khususnya sektor ril.

 Rustam Effendi memberikan apresiasi  kepada Bank Aceh Syariah telah mengambil langkah - langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Aceh, bahkan jika banyak pengusaha di Aceh yang diberikan pembiayaan produktif oleh perbankan, dua prediksi ditahun - tahun mendatang tidak lagi disebut Aceh predikat daerah miskin, bahkan saya yakin akan berubah menjadi daerah ramah investasi.

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...