Breaking News

Pelatihan Perhitungan Cadangan Karbon Hutan Aceh, Diprakarsai 3 Universitas

Pelatihan Perhitungan Cadangan Karbon Hutan Aceh, Diprakarsai 3 Universitas
Teks Foto: 60 peserta pelatihan perhitungan cadangan karbon hutan Aceh, foto bersama setelah usai melaksanakan workshop, Kamis (18/02/2021). Foto: Syafrul.

Langsa, BERITAMERDEKA.net - Sebanyak 60 orang mengikuti pelatihan perhitungan stock carbon (cadangan karbon), biodiversity (keanekaragaman hayati), dan kondisi kesehatan hutan (forest integrity) di Aceh. Kegiatan ini, diprakarsai tiga universitas, yaitu Michigan State University (MSU) bekerjasama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Pertanian (Instiper) Jogjakarta sejak tanggal 7 - 19 Februari 2021 di Meulaboh dan Langsa, Kamis (18/02/2021).

Kepada awak media, Ketua Pelaksana Pelatihan, Subhan Bakri, mengatakan hutan Aceh mewakili berbagai tipe ekosistem, yaitu kawasan Pesisir Pantai Barat Aceh, mewakili kawasan ekosistem rawa gambut dan tanah mineral serta kawasan Pesisir Pantai Timur Aceh yang mewakili kawasan ekosistem mangrove.

Pelatihan yang dilaksanakan selama 2 pekan ini, mengikutsertakan perwakilan stakeholder bidang kehutanan, akademisi, dan perwakilan kelompok masyarakat yang terlibat dalam berbagai program perhutanan sosial.

"Terdiri dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Aceh, KPH Tahura Pocut Meurah Intan, BKSDA Aceh, BPDASHL Kr. Aceh, BBTNGL, perwakilan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Program Studi Kehutanan Unsyiah serta perwakilan kelompok masyarakat, dengan jumlah keseluruhan mencapai 60 orang," ujar Subhan.

Adapun pelatihan yang dikemas dengan tema : Ecosystem Service Measurement and Monitoring Tools, di buat Workshop yang disponsori oleh Asia Pasific Network (APN) berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka, satu diantaranya adalah program studi kehutanan Universitas Syiah Kuala.

Pada kesempatan itu, Ketua Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian Unsyiah, Dr. Ashabul Anhar, mengatakan pelatihan bertujuan memperkenalkan teknik (tools) pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan (Forest Integrity) Aceh kepada para pemangku kepentingan dalam upaya mengelola dan mempertahankan kelestarian hutan di Provinsi Aceh.

Saat ini, tambahnya lagi, Aceh memiliki lebih dari tiga juta hektare kawasan hutan, namun dalam pengelolaannya belum dapat disajikan secara akurat dan aktual berbagai potensi yang dimiliki.

"Salah satu persoalannya adalah keterbatasan SDM dan pendanaan yang tidak memadai untuk melakukan aktivitas tersebut. Titik lemah pengelolaan hutan, tidak tersedianya data berbagai potensi baik hasil hutan kayu maupun non kayu serta manfaat hutan lainnya yang up to date, " pungkasnya.

Selaku penanggung jawab pelatihan, Dr. Ashabul Anhar menambahkan, PUP ini, nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pembelajaran bagi para mahasiswa kehutanan untuk meningkatkan kompetensi lulusan dalam upaya memantau jasa ekosistem hutan.

Dr. Jay Samek dari MSU sebagai salah seorang narasumber menyampaikan melalui daring bahwa tools yang dikembangkan oleh MSU, tidak hanya berguna untuk mengetahui carbon stock yang dikandung oleh suatu kawasan hutan.

Namun dapat digunakan untuk merancang pengelolaan hutan secara lestari, misalnya untuk melakukan rehabilitasi, sehingga dapat menggunakan data ketersediaan anakan yang sesuai dengan kondisi lokal dan kelimpahan jenis yang tersedia secara alami di wilayah atau kawasan hutan setempat, tanpa harus mendatangkan jenis dari luar kawasan.

Dalam pelatihan ini, Program Studi Kehutanan FP Unsyiah juga berkolaborasi dengan Instiper Jogyakarta. Pelatihan ini, menghadirkan Siti Maimunah sebagai narasumber yang turut serta mengembangkan tools yang dipakai menghitung karbon.

Siti Maimunah, salah satu srikandi yang meraih penghargaan kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta mendapat penghargaan sebagai sosok hero oleh CNN-Indonesia atas inisiatifnya mengembangkan model hutan pendidikan di Kalimatan Tengah.

Menurutnya, pelatihan berguna bagi KPH untuk mengetahui potensi hutan yang mereka kelola.  Dan target di masa mendatang, KPH dapat melanjutkan pengumpulan data potensi secara mandiri, sehingga akan sangat membantu pengelolaan hutan di tingkat tapak, termasuk di dalamnya menyusun rencana kegiatan pengelolaan hutan lainnya.

Dirinya berharap Pemerintah Aceh melalui DLHK, dapat melibatkan KPH dan perguruan tinggi saat melakukan monitoring karbon, biodiversity dan kesehatan hutan secara periodik, sehingga akan tersedia informasi tentang potensi hutan Aceh yang akurat dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Sementara itu, salah seorang peserta dari pecinta dan pegiat hutan di Langsa, Reza Arizqi, mengaku sangat terkesan. "Saya sangat senang dengan dilaksanakannya kegiatan ini. Kami para peserta khususnya saya pribadi dapat mengetahui berapa banyak jumlah karbon yang terdapat di hutan, serta dapat mengetahui berbagai macam keaneka ragaman hayati yang terdapat di hutan itu," tutup Reza. | Syafrul |

Editor:
Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...