Breaking News

Pahlawan Sampah dari Lengkong

Pahlawan Sampah dari Lengkong
Pabrik Kompos milik Zarkasyi | foto syafrul

Langsa, BERITAMERDEKA.net
Surya masih jingga di ufuk timur. Perlahan gerak sinar merona memantul bumi. Sepoi dingin menusuk tulang. Seperti pagi sebelumnya, kicau merdu penghantar pertukaran waktu.

Pria paruh baya di pagi itu, bergegas menganti pakaiannya. Sarung tangan, masker lengkap dengan sepatu boot sudah menjadi atribut wajib setiap hari.

Sebut saja, Zarkasyi (48) warga Gampong Lengkong Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa. Ia memiliki sebuah pabrik mini daur ulang sampah hingga menjadi pupuk organik atau disebut juga Kompos.

Pabrik itu hanya beberapa langkah saja dari tempat tinggalnya. Luas bangunan ukuran 10x10 meter. Beberapa alat alat pengolahan tersusun rapi ditempatnya. Terlihat juga pupuk cair dalam jerigen tertata disudut ruangan.

Ayah dari satu putra dan dua putri itu, bukan tanpa alasan membangun pabrik daur ulang sampah.Keprihatinannya terhadap sampah rumah tangga yang kian hari kian tak terkendali, meski petugas kebersihan saban hari mengangkut, namun sampah tetap berserakan di setiap sudut kota.

Menurutnya, pabrik daur ulang sudah ada sejak tahun 2016 namun banyak kendala yang dihadapi maka daur ulang sampah ini jalan ditempat.

Berbekal becak motor, ia selalu mengutip sampah, kemudian di kumpulkan. Bila sudah menumpuk dan perkiraan sudah dapat diolah.

Memilih dan memilah adalah pekerjaan selanjutnya. Beberapa sampah berbahan plastik dan benda keras dipisahkan. Sisanya seperti sisa makanan, sayuran serta buah buahan yang tidak layak konsumsi dimasukkan pada mesin penggiling (mesin komposter) yang digerakkan motor mesin sederhana.

"Dengan 5 unit alat komposter mampu mengolah 4 ton sampah selama sebulan dan menghasilkan 60 liter kompos cair dan 300 kg kompos padat,"jelasnya pada BERITAMERDEKA.net, Minggu, 31 Mei 2020.

Asap mengepul dengan hingar bising deru mesin Dongfeng, menjadi keseruan tersendiri di hati kami awak media di siang menjelang sore itu.

Disela waktu bekerja ianya bercerita, pada saat Pemkot Langsa akan mengikuti salah satu ajang penghargaan nasional di bidang lingkungan, beberapa petinggi di Pemerintahan mengunjungi pabrik daur ulangnya.

"Pernah waktu itu pak wakil walikota bersama yang lain datang kesini agar pabrik daur ulang ini dijadikan salah satu bahan penilaian, setelah itu tidak pernah lagi datang," kata Zarkasyi polos.

Dengan cekatan mengoperasikan sejumlah alat daur ulang tanpa dibantu oleh asisten ataupun pekerja lainnya. Maklum, pengalaman dan teori sudah memiliki jam terbang tinggi. Selalu berinovasi menjadi keharusan, agar produk yang dihasilkan lebih efektif dan lebih efesien dalam memproduksinya.

Hasil olahan sudah diperjual belikan beberapa toko pertanian seputaran kota Langsa dan Kota Kuala Simpang. Namun karena keterbatasan anggaran, produksi hingga pemasaran hanya sebatas kemampuan kantong Zarkasyi.

"Kalau ada yang berminat, boleh tanam saham, insyaallah saya akan berusaha lebih keras lagi agar produk ini di terima oleh masyarakat banyak, dikarenakan harga jual berbanding terbalik dengan pupuk sintetis," tukasnya bersemangat, tanpa menyebut harga per liternya.

Kini, pabrik daur ulang itu, banyak diamnya dari pada suara bising mesin. Meski sampah berserak dijalankan, namun apa daya, kantong Zarkasyi tak kuat menopang biaya operasional yang begitu tinggi. Ayo,, siapa mau berinvestasi. | syafrul |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...