Breaking News

Ombudsman : Program Peternakan Sapi Aceh Perlu Pembenahan

Ombudsman : Program Peternakan Sapi Aceh Perlu Pembenahan
DR Taqwaddin Ketika berada di Camp Penggemukan Sapi Saree Aceh Besar | foto ist.

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Berdasarkan informasi dari berbagai media yang memberitakan tentang sapi kurus di UPTD Inseminasi Buatan dan Inkubator (IBI) Dinas Peternakan Aceh, Tim Ombudsman Aceh melakukan investigasi langsung ke lokasi pada Jumat (5/6) ke Saree, Aceh Besar.

Dari hasil turun langsung ke lapangan, ditemukan sejumlah kelemahan program proyek besar Peternakan Aceh itu. Misalnya, regulasi belum jelas, sehingga sulit ditetapkan salah satu sumber PAD.

Berdasarkan hasil investigasi Ombudsman, didapatkan informasi bahwa sapi-sapi tersebut kurus karena kurang asupan makanan. Sehingga menjadi kurus, sakit, kurang gizi, dan sangat memprihatinkan.

"Berdasarkan informasi yang kami terima, sapi-sapi tersebut kurus karena kurang diberi makanan. Ini patut kita pertanyakan, kemana anggaran selama ini yang dianggarkan untuk pakan konsentrat dan pakan hijauan ternak tersebut" kata Dr Taqwaddin, Kepala Ombudsman Aceh yang turun langsung ke lapangan.

"Kami berharap pemerintah menjelaskan kepada publik terkait manfaat dari pengadaan bibit yang selama ini menggelontarkan anggaran ratusan milyar. Akan tetapi dampak dari program tersebut tidak dirasakan oleh publik" jelas Taqwaddin.

Berdasarkan informasi, sampai sekarang belum ada payung hukum tentang pemanfaatan sapi tersebut untuk menambah Penghasilan Asli Daerah (PAD). Sehingga sapi-sapi tersebut tidak dapat dimanfaatkan dan hanya dipelihara saja sejak pengadaannya pada tahun 2016 dan 2017.

"Saat ini kita belum ada payung hukum tentang pemanfaatan sapi hasil ternak tersebut, masih berorientasi pada bidang pendidikan saja. Sehingga sapi disini terkadang sudah mengalami sampai tiga kali penggemukan" kata Zulfadli Kepala UPTD IBI Sare saat dimintai keterangan oleh Tim Ombudsman.

"Terkait sapi-sapi yang kurus, dapat saya jelaskan bahwa hal ini terjadi karena kekurangan konsentrat dan bukan karena proses adaptasi" tambah Zulfadli.

"Seharusnya program itu berorientasi pada kemanfaatan baik bagi daerah dan publik. Pada program pembibitan sapi ini apa dampak bagi masyarakat Aceh??" Tanya Taqwaddin.

"Program ini sudah berjalan empat tahun, dari 2016 sampai 2020 sekarang. Semestinya setiap tahun di evaluasi apa capaian atau output nya, ini malah anggaran digelontorkan terus menerus untuk program yang tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Idealnya, dengan proyek pengadaan penggemukan sapi yang mencapai 700-an ekor pada tahun 2016 dan 2017 harga daging sapi di Aceh bisa turun. Tapi faktanya, tidak juga," papar Taqwaddin.

"Kami berharap ini menjadi bahan evaluasi Pemerintahan Aceh, khususnya DPRA dalam pembahasan anggaran nantinya," pungkas Taqwaddin.(*)

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...