Breaking News

Nyak-nyak Penjual Ikan Emperan Pasar

Nyak-nyak Penjual Ikan Emperan PasarFOTO: Rusli Ismail
nyak-nyak penjual ikan di emperan pasar peunayong

KAUM ibu penjual ikan segar di emperan toko amupun di trotoar jalan pasar peunayong di Kota Banda Aceh, tampaknya punya cara tersendiri untuk menarik perhatian pembeli agar dagangannya laris.

Di tengah kebisingan kota, sapaan lembut dan sedikit rayuan pastilah terlontar di keramaian pengunjung. Yang ditegurpun menoleh ke arah dagangan di atas trotoar beralas plastik atau meja berukuran kecil dan seadanya. Maka, terjadilah tawar menawar.

“Pioh-pioh neuek, Nyoe na uengkot murah” (mampir-mampir nak, Ini ada ikan murah), kata Nyak Aminah. Salah seorang wanita tua penjual ikan dengan bahasa Aceh yang sangat kental di Pasar Peunayong, Banda Aceh.

Bahasa Aceh pasaran sudah umum terdengar di pasar ikan itu yang bermakna. Wanita tua yang akrab dipanggil ‘Nyak’ itu menjual berbagai jenis ikan dengan cara mereka sendiri khas perempuan Aceh, berbeda dari cara kaum lelaki.

Ikan kecil hingga ukuran sedang yang dijual kepada warga sudah bersih. Sisik dan isi perut ikan pun telah dibuang (dibersihkan). Tetapi, ikan yang dijual kaum lelaki pastilah masih utuh, belum dibersihkan.

“Kami berjualan dengan cara kami sendiri. Ikan harus sudah siap dimasak. Harganya pun lebih murah dari yang ditawarkan kaum pria,“ kata Nyak Ani.

Nyak-nyak itu menjual ikannya terpisah dari kaum laki-laki. Emperan pasar, toko dan lorong-lorong pusat pasar merupakan tempat mereka berjualan, sedangkan kaum laki-laki berjualan di dalam los atau ruang khusus sudah tersedia lengkap dengan meja semennya.

Mereka menjual tak terlalu banyak, hanya taksiran 10 hingga 20 kg per hari. Namun, ikan dagangan Nyak-nyak itu jarang yang tersisa, kecuali jika hasil tangkapan nelayan melimpah. Jika tidak habis terjual, ikan segar itu dibawa pulang dan dijemur menjadi ikan kering atau ikan asin. Harganya hanya sekira Rp15.000 – Rp25.000/tumpuk.

Kebiasaan orang Aceh umumnya senang makan ikan telah membuka peluang bagi Nyak-nyak untuk mengais rezeki berjualan ikan. Menjual ikan bagi kaum ibu perlu kesabaran. Pekerjaan itu terbilang lumayan repot, mulai pengadaan hingga persiapan tempat penjualan. Mungkin itulah sebabanya sehingga hanya ibu-ibu lanjut usia saja yang menekuni pekerjaan itu.

Kaum ibu muda tampaknya enggan berjualan ikan. Bau amis ikan mungkin jadi penyebab. Belum lagi kerepotan pergi ke tempat pendaratan ikan lalu membeli es agar ikan tidak busuk sampai urusan membersihkan ikan supaya siap masak.

Sejak Pasar ikan Peunayong dizinkan kembali beroperasi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh, para pedagang ikan dan pembeli kembali ramai menyerbu pasar ikan di tengah kota itu. Sejak para pedagang dari Pasar Lamdingin diizinkan pindah dan difungsikan kembali berjualan di Pasar Peunayong. Maka tidak saja kaum laki-laki yang berjualan, tapi juga kaum wanita ikut ambil bagian menggelarkan dagangannya.

Membantu Suami

Wanita penjual ikan itu umumnya berasal dari golongan masyarakat kurang mampu yang bekerja menambah penghasilan suami untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dengan modal terbatas berjualan ikan dari pagi hingga sore dan menjelang magrib barulah wanita miskin itu pulang ke rumah untuk makan malam bersama suami dan anak-anaknya.

Dari berjualan ikan itu, mereka mengaku memperoleh penghasilan Rp50.000 hingga Rp70.000 sehari. “Alhamdulillah, rezeki yang diperoleh cukup untuk biaya keluarga,“ katanya dengan nada penuh syukur.

Sebagai istri nelayan tradisional, mereka bekerja bahu membahu guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sang suami mencari dan menagkap ikan, sementara dan sang istri memasarkan ke pasar.

Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin berat di tengah kondisi Pandemi Covid-19 yang berujung ekonomi masyarakat yang terpuruk, agaknya telah memaksa kaum wanita mengambil alih pekerjaan kaum laki-laki.

Masih banyak kaum ibu miskin di pinggiran pantai berprofesi ganda, selain mengurus anak-anak juga berperan mencari nafkah di pusat pasar dengan menjual berbagai komoditas dagangan.

Tiada hari tanpa berjualan. Itulah kata yang agak pantas bagi kaum ibu yang berprofesi sebagai pedagang ikan di kaki lima pusat pasar Kota Banda Aceh.

Potret kehidupan ibu-ibu miskin di Aceh sudah menjadi pemandangan sehari-hari di pasar Kota Banda Aceh, bahkan terdapat di beberapa kabupaten/kota dan kecamatan lainnya di Provinsi Aceh.

Mereka hanya kelompok dari keluarga miskin dengan pendapatan sang suami atau rumah tangga yang pas-pasan dan malah jauh dari ketidak cukupan. Adakah kepedulian kita terutama dari pihak Pemerintah Aceh terhadap nasib mereka. Semoga! | Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...