Breaking News

Muslim Gayo Sang Penakluk Gajah Liar, Ulak...Ulak....

Muslim Gayo Sang Penakluk Gajah Liar, Ulak...Ulak....

JAUH dari pusat perkotaan dan terlahir dari keluarga pemburu. Kini Ia malah memilih menjadi penjaga bagi satwa hewan  dilindungi.

Muslim, sosok ayah dan suami bagi keluarganya telah mendedikasikan diri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan alam sekitar.

Belajar dari pengalaman dalam perjalanan hidup, kini Muslim bersinar menjadi garda terdepan dalam konflik gajah dan manusia.

Muslim tinggal di pedalaman Kabupaten Aceh Tengah. Wilayah Pemukiman yang terletak di pegunungan yang asri dan sejuk. Di sinilah ia melewati hari-harinya sebagai petani guna menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Di desa ini kawanan gajah liar sering melintas dan merusak lahan dan pemukiman warga. Tepatnya Kampung Bergang dan Karang Ampar Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah.

Muslim Gayo

Di Kampung Karang Ampar, Muslim dan rekan-rekannya membentuk Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF). Tim ini pun menjadi harapan masyarakat sekitar dalam pengamanan dari gajah yang sering melintas dan merusak lahan warga.

Sebelum menjadi Ketua TPFF, Muslim menceritakan jika dia sebenarnya lahir dari keluarga pemburu. Kegiatan memburu sudah menjadi tradisi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sebelum meninggal, kakek saya seorang perburu, sudah menjadi tradisi keluarga kami sejak dulu,” ungkap Muslim.

Menurut cerita Muslim, dirinya pernah ditahan pihak kepolisian saat menjual organ tubuh harimau yang ditangkap oleh pamannya di kawasan hutan Karang Ampar.

“Paman saya menangkap harimau yang terkena jerat kami pasang. Saya sendiri menjualnya. Pada saat menjual, di situlah saya ditangkap polisi. Ditahan sekitar 20 hari, karena pada saat itu saya masih anak dibawah umur,” ujar Muslim.

Situasi tersebut terjadi sekitar tahun 1999, saat Aceh masih dilanda konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dikarenakan sulitnya mencari perkerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat itu, Muslim mengaku terpaksa memilih menjadi pemburu hewan yang dilindungi.

Pasca ditahan polisi, sosok Muslim merasa malu dengan warga dan keluarganya sendiri. Mereka sering berkata “Muslim adalah sosok napi, jangan dekat”.

Merasa minder dengan lingkungan sekitar, Muslim pun lebih memilih untuk pergi merantau ke Jawa Barat.

Di Jawa Barat, Muslim bekerja dan memilih menikah dengan gadis setempat. Setelah dikaruniai dua orang anak, pada tahun 2015 Muslim membawa istri dan kedua anaknya untuk kembali ke tanah kelahirannya Kabupaten Aceh Tengah guna merawat Ibunya lantaran ayah Muslim telah meninggal dunia.

“Saya merasa bersalah jika tidak kembali ke sini untuk merawat Ibu saya. Karena sudah lama kami tidak tinggal bersama Ibu,” kata Muslim.

Setelah kembali di Desa Karang Ampar, dirinya ditunjuk menjadi Ketua Pemuda di desa tersebut. Namun konflik pun kembali terjadi. Tapi kali ini bukan konflik bersenjata seperti saat dirinya merantau dulu. Melainkan konflik antar gajah dan manusia.

Konflik antara gajah dan manusia pun terus terjadi. Bahkan tidak jarang pemukiman warga ikut dikuasai gajah liar. Puncaknya pada tahun 2017. Terjadi konflik besar antara gajah dan manusia, di mana sekitar 40 ekor gajah masuk merusak tanaman dan pemukiman warga. Konflik tersebut menyebabkan tiga ekor gajah mati. Dari jumlah ini, satu ekor gajah mati diracun dan dua lainnya mati ditembak.

Akibat dari konflik tersebut Muslim dan kawan-kawan lainnya tidak berani keluar rumah lantaran takut dicari polisi akibat matinya tiga ekor gajah tersebut. Meski sebenarnya bukan Muslim dan rekannya yang telah membunuh satwa dilindungi itu.

Akhirnya Muslim dan kawan-kawan memilih membentuk tim untuk menggiring gajah tanpa melakukan pembunuhan. Pertengahan tahun 2017, World Wide Fund for Nature (WWF) pun masuk ke Desa tersebut dan bertemu dengan Muslim.

Dari pertemuan dengan WWF, disepakati untuk membentuk tim dengan resmi yang dinamakan Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) yang diketuai Muslim. Pada Saat itu WWF memberikan bantuan tempat, posko dan pendanaan. Baik pendanaan pelatihan, penggiringan, dan dana operasional lainnya.

Muslim pun kini menjadi menjadi garda terdepan di Kampung Bergang dan Karang Ampar dalam upaya pelindungan dan pengamana bagi hewan-hewan yang dilindungi. Meski demikian, hingga kini masih terbesit dalam hati Muslim rasa penyesalan dengan perbuatannya dulu saat menjadi pemburu.

Alasan Muslim yang dulunya pemburu dan kini menjadi pengaman bagi hewan yang dilindungi adalah pernah suatu saat anaknya sedang belajar dan melihat gambar-gambar hewan lalu bertanya kepada sang Muslim.

“Apakah saya bisa melihat hewan-hewan ini Yah?” Muslim pun menjelaskan pasti bisa ketika nanti anaknya tumbuh dewasa. Muslim juga telah berjanji akan mengajak anaknya untuk melihat hewan tersebut.

“Saya jelaskan sama anak saya, ini namanya Harimau Sumatera, ini namanya Gajah Sumatera,” ujar Muslim.

Menurut Muslim, gajah liar yang dilindungi tersebut selama ini hidupnya seperti bola tak tentu arah dan tujuan. Dari Kabupaten Aceh Tengah digiring ke Kabupaten Bener Meriah. Dari Kabupaten Bener Meriah diusir ke Pidie Jaya. Oleh masyarakat Pidie Jaya pun diusir lagi ke Kabupaten Bireuen. Dari persoalan inilah gajah tersebut merasa capek sehingga menimbulkan konflik dengan manusia.

Saat ini Muslim bersama TPFF sedang berusaha mengajukan kepada Pemerintah Provinsi Aceh untuk menyediakan tempat dan lahan bagi kawanan gajah liar.

“Harapan kami pemerintah segera memberikan permohonan ini, agar tidak ada lagi konflik antara gajah dan manusia. Dan kami pun sebagai relawan siap melindungi gajah ini,” tegas Muslim.

Saat ini TPFF menjadi tumpuan harapan masyarakat sekitar dalam penanganan Gajah Liar, TPFF terus berupaya untuk melakukan perdamaian antara gajah dan masyarakat. Salah satunya dengan membentuk Qanun Desa yang dibuat oleh Aparatur Desa setempat.

Dalam Qanun tersebut mengatur dengan tegas melarang menebang hutan serta membunuh dan melakukan kekejaman terhadap hewan yang dilindungi.

“Dampak dari Qanun ini ya sekarang tidak ada lagi masyarakat yang membunuh gajah,” tambah Muslim.

Namun tidak sedikit ancaman yang datang kepada Muslim dan rekan-rekannya dari orang tidak dikenal. Tujuan mereka adalah agar TPFF diberhentikan untuk penanganan gajah. Dicurigai dari pihak perusahaan yang mencoba menebang hutan dan menjadikan lahan gajah untuk lahan perusahaan.

Menurut cerita Muslim, bahkan pernah seorang Reje Kampung (Kepala Desa) mendapat SMS yang isinya “Tunggulah sebuah kematian untuk Geuchik”. Namun ancaman tersebut tidak sedikitpun membuat TPFF dan masyarakat mundur dalam melindungi gajah liar.

“Iya ada oknum yang coba mengancam dan menggagalkan TPFF, lewat SMS lewat telefon. Yang bunyinya TPFF tidak usah terlalu maju untuk hutan dan hewan yg ada di desa ini,” kata Muslim.

Lebih kurang sudah tiga tahun warga yang tinggal di dua Kampung tersebut hidup berdampingan dengan gajah. Padahal sebelumnya, kedua desa ini selalu menjadi sorotan akibat konflik manusia dan gajah tak kunjung reda.

Dengan adanya TPFF saat ini, keberlangsungan hidup antara manusia dan gajah di Desa Karang Ampar dan Bergang kini sangat damai dan kooperatif. Di mana manusia dan gajah saling memberi perhatian. Di desa ini, manusia tinggal di pemukiman, sementara gajah berada di seberang sungai.

“Kami telah memberi ruang antara gajah di seberang sungai dan manusia di pemukiman warga. Jadi sudah kami buat berbagi ruang dengan beberapa sekmen,” ujarnya

Bahkan TPFF juga menyiapkan tempat makan gajah di hutan lindung. Hal ini dilakukan agar gajah-gajah tersebut tidak mengganggu kegiatan masyarakat di pemukiman.

Semenjak langkah dilakukan, konflik manusia dan gajah mulai mereda dan mereka bisa hidup berdampingan. Sementara warga setempat yang sebelumnya memburu gajah kini juga sudah insaf dan sadar lebih dengan memilih bergabung bersama TPFF.

“Alhamdulillah, pemburu-pemburu liar yang ada di desa kami rekrut menjadi anggota tim relawan TPFF untuk menjaga konservasi gajah,” ucap Muslim.

Dengan demikiian, jelas Muslim, pemburu liar yang bergabung dengan TPFF akan menyadari peran dan fingsinya jika betapa pentingnya melindungi satwa terbesar di darat itu.

Pernah salah satu warga yang tidak percaya dengan TPFF bahkan mengatakan jika pekerjaan Muslim dan kawan-kawan adalah pekerjaan yang tidak masuk akal. Warga tersebut mengaku lebih memilih memburu gajah dan menembaki dengan senjata api.

Mendegar hal itu, Muslim dan kawan-kawan pun bergegas menjumpai warga tersebut dan mengajaknya menjadi penasehat dalam kepengurusan TPFF. Akhirnya warga itu pun bersedia dan hingga saat ini tidak ada warga lagi yang memburu dan membunuh gajah.

“Kami menjelaskan kepada warga tersebut, bagaimana caranya gajah itu dijual dengan tidak membunuh. Bukan gajahnya kita jual, tapi gambar videonya yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke Kampung kita,” tambah Muslim

Gajah dan manusia kini hidup damai. TPFF seakan sudah mengenal jika sosok gajah bukanlah musuh bagi manusia. Melainkan sahabat yang harus memahami satu sama lain.

Saat ini jika ada gajah mencoba masuk ke lahan perkebunan warga, pihaknya tidak perlu membakar petasan ata mercun untuk mengusir gajah, tapi cukup dengan teriakan menggunakan bahasa Gayo “surut… surut…” (mundur… mundur…) dan ada juga “ualak…ulak…” (pulang… pulang…).

Dengan teriakan tersebut gajah lagsung berbalik arah kembali ke hutan dan tidak masuk pemukiman warga. Namun sebaliknya, jika mengusir gajah dengan menghidupkan petasan atau mercun malah akan membuat gajah melawan dan enggan meninggalkan lahan perkebunan warga.

TPFF terus berupaya membuat masyarakat sadar jika gajah yang sering melintas di kawasan desa tersebut sebenarnya bisa menjadikan pendapatan ekonomi bagi masyarakat. Dengan cara menjadi Ekowisata Gajah liar, wisatawan pun dapat berkunjung dan melihat kehidupan gajah liar yang damai dan harmonis dengan masyarakat.

Dari sini Muslim berpesan bahwa, sebagai manusia janganlah kita membenci gajah. Karena gajah bukan musuh kita. Gajah adalah sahabat kita.

Bagi para pemburu gajah, tidak usah menjual dengan mati. Tapi dengan melindungi gajah kita bisa menghasilkan uang bahkan lebih dari hasil yang didapat dari memburu gajah. Dengan cara menjadikan kawasan kita menjadi kawasan wisata gajah liar. | ROMADANI |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...