Breaking News

FPI Aceh Barat Dan Nagan Raya Minta Polisi Syariat Jangan Abaikan Hukum

Mesum Oknum Ibu Dokter dengan Pria Beristri Sudah Berulang Kali

Mesum Oknum Ibu Dokter dengan Pria Beristri Sudah Berulang Kali
Ketua FPI Nagan Raya dan Aceh Barat

Meulaboh, BERITAMERDEKA.net- Front Pembela Islam Kabupaten Aceh Barat prihatin terhadap sikap keputusan yang diambil Satpol PP/WH Aceh Jaya terhadap penegakan hukum kasus Khalwat yang terjadi di Desa Ligan Kecamatan Sampoiniet beberapa waktu lalu.

Ketua FPI Aceh Barat, Tgk. Muhammad Amin mengatakan pihaknya menolak atas keputusan yang diambil pihak Polisi Syariat Islam, dan meminta proses hukum yang dilakukan Satuan Polisi WH Aceh Jaya terhadap pasangan mesum oknum dokter beberapa hari lalu agar dapat ditinjau kembali.

Menurut Ketua FPI Aceh Barat, mesum yang dilakukan oleh lelaki yang sudah beristri dan sudah berulang kali tidak boleh dilaksanakan secara peradilan Gampong, kecuali remaja yang sekedar khilaf yang masih butuh pembinaan dan adat.

" Kami kecewa terhadap apa yang dilakukan  pihak WH Aceh Jaya melepaskan tersangka Kasus Mesum,"kata Muhammad Amin melalui pesan rilis, Jum'at 23/10/2020.

Ia menjelaskan terkait penangkapan pasangan tanpa status jelas oleh warga desa setempat merupakan kasus besar yang harus diproses dengan hukum yang jelas, apalagi pasangan ini telah berhubungan tanpa adanya surat nikah sah yang diberikan kepada pihak desa setempat.

" Kalau yang Ini perkaranya besar, WH Aceh Jaya jangan memalukan Aceh atas kecerobohan itu, lebih baik ulangi proses apalagi pantauan kami, prosesnya masih cacat hukum," pinta Muhammad Amin.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Neldi Isnayanto Ketua Front Pembela Islam (FPI) Nagan Raya, sangat menyanyangkan yaang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat terhadap tersangka mesum/khalwat yang menyatakan mereka telah nikah siri.

Menurutnya, justru Kadinkes Aceh Jaya telah keliru memberikan informasi kepada Publik, seharusnya setiap ucapan pernyataan pejabat publik, harus didasari pada fakta dan alat bukti, mestinya beliau tabayun dulu.

"Informasi yang diperoleh dari media yang bersumber dari Keuchik Ligan, jauh berbalik fakta dari pernyataan Kadinkes Aceh Jaya kalau mereka sudah menikah siri," ungkapnya.

Ia menjelaskan dari keterangan yang didapatkan dari pihak Desa Ligan, kedua tersangka itu tidak mampu menghadirkan surat atau Teungku yg menikahkan mereka.
Oleh karena Aparat Gampong disana melimpahkan kasus itu ke WH Aceh Jaya.

"Jadi, sangat benar jika warga setempat melimpah tersangka ke pihak WH untuk diproses secara hukum Syariat Islam, dan jika sudah nikah siri dan ada bukti yang menguatkan, kami rasa warga setempat tidak akan menangkapnya," cetus Neldi Isnayanto. |musliadi|

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...