Breaking News

Bank Aceh

Merasakan Kolang Kaling Olahan Nek Saleh

Merasakan Kolang Kaling Olahan Nek Saleh
Nek Saleh sedang mengolah Kolang Kaling | foto syafrul

Aceh Timur, BERITAMERDEKA.net - Embun masih menyisakan tetesannya di rerumputan. Sang cahaya juga baru mulai mengintip dibalik awan. Riuh kicau bersahutan, mengiringi pagi di awal hari.

Nek Saleh (62) warga Gampong Kliet, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur, baru saja menyelesaikan doa diakhir shalat subuhnya.

Langsung bergegas mengganti pakaian untuk beraktivitas. Seperti kebiasaan, mencari buah aren di bulan puasa menjadi pekerjaan sampingan untuk tambahan kebutuhan ekonomi.

Sepeda tua, sebilah golok dan alat kebutuhan lainnya sudah dipersiapkan. Menelusuri jalan hingga ke wilayah hutan demi mencari pohon aren.

Matanya terus mencari keberadaan pohon itu. Maklum dibulan puasa seperti sekarang ini, harga kolang Kaling lumayan mahal.

Panganan yang satu ini banyak diproduksi dan dikonsumsi, beda dengan bulan atau hari hari lain.

"Lumayanlah, buat keperluan sehari hari," jelas Nek Saleh pada media ini, Rabu 6 Mei 2020.

Dalam hitungan menit, Nek Saleh sudah berada dipucuk pohon. Dengan cekatan buah aren itu di potong tangkainya. Dari aksinya, terlihat Nek Saleh sudah sangat berpengalaman.

Kolang Kaling, memang panganan unik. Selain bulan puasa, panganan ini sangat jarang diproduksi dan dijual belikan.

Masyarakat pada umumnya mengolah menjadi manisan dan aneka makanan lainnya, untuk berbuka puasa dan menyambut idul Fitri.

Bagi Nek Saleh, meski tampak ringkih, dari mencari hingga mengolah menjadi kolang Kaling memang sudah ahlinya.

Uap panas dari rebusan buah aren tak menjadi halangan melakoni pekerjaannya.

Dengan dibantu sang istri, Nek Saleh tanpa pamrih, malah bersemangat mengolah buah ijuk itu.

"Seperti inilah, pekerjaannya harus merebus selanjutnya dibelah dan dipukul agar pipih," kata Nek Saleh menjelaskan.

Hasil olahan kolang kaling, setiap harinya mencapai 20 hingga 30 kg. Dengan harga berkisar rata rata Rp 10.000/kg, apabila ada pembeli yang langsung datang ke rumahnya.

"Produksi tergantung seberapa banyak buah aren didapat setiap harinya, terkadang sama sekali tak dapat," kata Nek Saleh lagi.

Berdasarkan pantauan, sejumlah tangkai buah aren berhamburan di halaman belakang rumah. Dua unit drum besar berisi buah aren direbus diatas tungku.

Awal mulanya, buah aren diambil dari pohonnya. Bisanya masih dalam rangkaian dalam tangkai. Hanya buah aren yang setengah matang yang diambil.

Buah aren dilepaskan dari tangkainya kemudian direbus sekitar setengah jam sampai satu jam.

Tujuannya untuk menghilangkan getah, karena getah buah aren ini bila kena kulit akan menimbulkan rasa gatal.

Bila sudah dingin, buah aren rebus diambil daging buahnya. Itulah kolang-kaling.

Kolang-kaling yang berbentuk bulat lonjong itu, kemudian dipipihkan satu per satu dengan menggunakan alu yang terbuat dari kayu kemudian direndam dengan air kapur selama 2- 3 hari, agar kolang-kaling jadi kenyal dan bersih. Ternyata mengolah kolang Kaling tidak semudah memakannya.

Di bulan Ramadhan ini, Nek Saleh mengandalkan kolang Kaling untuk menutupi sejumlah kebutuhan hidupnya. Bagaimana dengan anda.
| syafrul |

Sponsored:
Loading...