Breaking News

Bank Aceh

Menjenguk Tradisi KALUET di Dayah Darul Munawwarah

Menjenguk Tradisi KALUET di Dayah Darul Munawwarah
Sedang melaksanakan tradisi kaluet di Dayah Darul Munawwarah Ulegle Pidie Jaya | foto r ismail

KALUET merupakan ibadah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan melepaskan diri dari segala urusan menyangkut duniawi. Pengikut kaluet dilarang makan makanan mengandung darah dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar. Ini dimaksudkan untuk mengekang hawa nafsu agar ibadah kaluet lebih khusyuk.

Bagaiman ibadah kaluet dijalankan? Ikutilah pelaksanaan Kaluet di Pondok Pesantren Darul Munawwarah, Kuta Krueng, Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, sebagaimana yang BERITAMERDEKA.net rekam dalam bulan Ramadhan ini dan Ramadhan-ramadhan sebelumnya.

Sudah menjadi kebiasaan ketika bulan suci Ramadhan tiba, hampir semua daerah di Aceh, menghiasi kegiatan ibadah kaluet di dayah atau pesantren-pesantre. Sejak awal Ramadhan, pria dan wanita terutama dari kalangan usia lanjut mendatangi dayah guna mengikuti ibadah yang dinamakan Kaluet.

Namun, dalam tulisan kali ini hanya memfokuskan kegiatan ibadah kaluet yang dilakukan di Kabupaten Pidie Jaya misalnya, Pondok Pesantren Darul Munawwarah, pimpinan Abu Kuta Krueng (Tgk H Usman Ali) menjadi sasaran utama pengikut ibadah Kaluet yang dilakukan pada setiap bulan suci Ramadhan.

Tgk H Usman Ali yang lazim disapa Abu Dikuta (foto), dikenal sebagai salah seorang ulama kharismatik Aceh, selaku pimpinan Pondok Pesantren Darul Munawwarah, Ulee Gle dalam uraiannya, antara lain menjelaskan, Kaluet adalah suatu ibadah kepada Allah SWT dengan menyendiri dalam sebuah tempat (bilik) berukuran sekira 3x4 meter tanpa berbicara sepatah kata pun. Bila ada keperluan sesuatu, komunikasi dapat dilakukan dengan cara tertulis.

Tujuan kaluet menurut Abu Dikuta, adalah untuk meningkatkan amalan rohani maupun jasmani, dengan demikian akan bertambah ketakwaan kepada Allah SWT. Untuk itu, peserta kaluet ini tidak sembarangan orang. Kegiatan tersebut hanya mampu dilakukan orang-orang yang telah memiliki tingkat pengetahuan agama yang cukup tinggi serta tidak terpengaruh dengan kesenangan duniawi.

Menurut ulama Kharismatik Aceh itu, ibadah kaluet dibagi dalam empat tingkatan, yaitu kaluet yang dilaksanakan mencapai 44 hari/malam, 30 hari/malam, 20 hari/malam, dan 10 hari/malam. Ibadah dilakukan dalam sebuah bilik (khalwat) meliputi berdoa, berzikir, shalat wajib dan shalat sunat, membaca Al-Quran. Bagi peserta kaluet tidak ada waktu tanpa berzikir. Ketika terbaring dengan mata terpejampun, tetap berserah diri kepada Allah SWT dengan berzikir dan berdoa.

Di Pondok Pesantren Darul Munawwara, Kuta Krueng, tempat di mana sekira 2.000 lebih santri kini sedang menimba ilmu agama, kegiatan Kaluet tetap dilakukan tiap tahun termasuk pada Ramadhan 1441 H ini. Selain kalangan muda yang berasal dari santri setempat, mereka juga berdatangan baik dari Kabupatenh Pidie Jaya, Pidie maupun dari kabupaten lain.

Peserta kaluet-nya bisa mencapai hampir seratusan orang baik laki-laki terutama kalangan perempuan telah menjalani ibadah kaluet. Angka tersebut bertambah drastis mulai menjelang pertengan dan bahkan di 10 akhir Ramadhan ini.

Seperti biasanya, jumlah peserta ibadah Kaluet terus bertambah karena di samping ada yang menjalani penuh selama 44 hari, dan 30 hari, juga ada yang mengikuti 20 dan 10 hari. Ini sangat tergantungt kepada kemauan dan keimanan mereka sendiri. Yang jelas, memulai Kaluet kapan saja dibolehkan, tapi memasuki bulan Syawal mereka harus keluar untuk berhari raya.

Ibadah Kaluet marupakan ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yang dikembangkan oleh Syech Baharuddin Syahbandy sekitar 400 tahun setelah imam empat.

Ibadah kaluet marupakan ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yang dikembangkan oleh Syech Baharuddin Syahbandy sekitar 400 tahun setelah imam empat.

Pengikut Kaluet sering menangis terutama ketika merenung arti kehidupan. Mereka benar-benar sudah menyatu dengan ibadah dan mampu melepaskan diri dari segala urusan duniawi. Lewat ibadah ini mereka berserah diri kepada Sang Maha Pencipta agar memperoleh keridhaan-Nya dengan melakukan shalat tahajut hingga larut malam.

Rangkaian kegiatan Kaluet selama 24 jam (sehari semalam) sangat sarat dengan amal ibadah. Menurut Abu Kuta Krueng, zikir yang dilakukan mencapai 5.000 sampai 7.000 kali, kemudian shalat sunat. Mereka keluar bilik hanya untuk keperluan tertentu seperti shalat berjamaah, buang air kecil, buang air besar ke WC ataupun mandi. Sementara bagi kaum laki-laki yang hendak shalat jumat, ditandai dengan pakaian putih dengan menggunakan tudung kepala.

Kegiatan ibadah Kaluet, sebut Abu Di Kuta, jika dilaksanakan secara kusyuk dan ikhlas serta tidak sedikitpun dipengaruhi kegiatan yang bersifat keduniaan, pasti hasilnya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan dengan memperoleh ketenangan bathin. Bahkan lebih lezat lagi saat berzikir yang dilakukan penuh kosentrasi.

Justru tak ada yang lebih nikmat di dunia ini selain saat-saat kita menangis tersedu-sedu sewaktu meminta agar dosa diampunkan oleh Allah SWT, namun ini jarang terjadi atas muslim yang imannya hanya setengah-setengah saja, kata pimpinjan Pesantren Kuta Krueng itu.| r ismail |

Sponsored:
Loading...