Breaking News

Mengintip” Lailatur Qadar

Mengintip” Lailatur Qadar

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Aktivitas ibadah umat muslim di sepuluh malam terakhir (semestinya) semakin padat. Khususnya di malam-malam ganjil, sebagian orang menggunakan waktu malamnya bukan untuk beristirahat, namun untuk bermunajat kepada-Nya (Allah-red) untuk mengintip malam lailatul qadar.

Hal itu diungkapkan Ustaz Buchari M Ali, SAg saat menyampaikan tausyiahnya ba’da Subuh, Sabtu 17 Mei 2020 di Masjid Al-Muhajrin, Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh.

Bahkan Ustaz Buchari menyebutkan beberapa fazilah beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan.Diantaranya disebutkan, fazilah beribadah di malam ke 25 Ramadhan, Allah akan menghapus siksaan kubur bagi yang melakukannya. Kemudian, pada malam ke 26 Ramadhan Allah akan meningkatkan pahala orang beribadah seperti pahala 40 tahun ibadah di waktu yang lain.

Selanjutnya, siapa yang beribadah di malam ke 27 Ramadhan, Allah akan mempermudah baginya saat melewati jembatan Siratal Mustakim secepat atau laksana halilintar menyambar. Sedangkan, pada malam ke 28 Ramadhan, Allah akan mengangkat derajat seseorang hambanya 1.000 derajat lebih tinggi.

Sementara, pada malam ke 29 Ramadhan, Allah akan memberikan pahala ibadah kepada hambanya itu dengan pahala seolah-olah pahala 1.000 kali ibadah haji. Dan Allah akan memasukkan orang itu ke dalam Syurga-Nya dengan pahala haji itu

Terakhir, kta Ustaz Buchari, pada malam ke 30 Ramadhan yang merupakan malam final, Allah menyediakan berbagai makanan dalam syurga apa yang disukainya langsung Allah berikan (langsung ada). 

Menurut Ustaz Buchari, di negeri akhirat (Syurga), batang kayu yang berbuah dan buahnya untuk dimakan, akan Allah balikkan posisinya, yakni jika di dunia pohon kayu itu berakar ke bawah dan berbuah di atas, maka di dalam Syurga, yang terjadi sebaliknya yaitu berakar ke atas dan berbuah ke bawah.

Nikmat Allah yang 100 persen, hanya yang diberikan di dunia 1 persen saja.  Sisanya 99 persen lagi nikmat-Nya, Allah berikan kepada hambanya akhirat (Syurga) nantinya. Hidup di Syurga penghuninya tidak pernah merasakan haus dan lapar.

"Kita minum dan makan di Syurga hanya karena ingin merasakan kenikmatanya saja," ujarnya.

Sedangkan bagi penguni neraka, mereka tidak hidup dan tidak mati-mati dan disiksa terus, dbentak-bentak terus, dicaci dan diseret terus oleh malaikan. Api neraka akan terus membakar si penghuninya, kulit atau anggota tubuh yang hangus atau rusak akan diganti yang lain, begitu seterusnya. | Rusli Ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...