Breaking News

(Refleksi Hari Pahlawan)

Mencari Sosok Cut Nyak Dien di Masa Kini

Mencari Sosok Cut Nyak Dien di Masa Kini

Oleh: dr.Rini Fitri Agustia Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan nasional Aceh yang sangat terkenal dan dikagumi banyak orang hingga para novelis tertarik untuk membuat sebuah novel sampai pembuatan film yang bercerita tentang kisah perjalanan seorang wanita asal Aceh yang bernama Cut Nyak Dien.

Sebagai seorang warga Indonesia, pernahkah kita mengetahui bagaimana sosok ibunda kita ini sampai penjajah sangat takut kepadanya dan akhirnya Ia dibuang jauh dari Aceh sampai menemui ajalnya di Sumedang?

Tahukah kita bagaimana beratnya perjuangan beliau? Tahukah kita mengapa presiden Soekarno menobatkan penghargaan kepada wanita kelahiran Aceh ini sebagai pahlawan nasional?

Salah satu yang dimiliki oleh wanita yang lahir pada tahun 1850 ini adalah personal mastery yang kuat. Apa itu personal mastery? Menurut Peter Senge personal mastery adalah sebuah disiplin yang ditandai oleh upaya terus-menerus yang dilakukan untuk memperjelas dan memperdalam visi pribadi, memusatkan energi, mengembangkan kesabaran, dan memahami realitas dengan obyektif.

Salah satu visi yang dimiliki Cut Nyak Dien adalah membebaskan tanah rencong dari penjajahan orang kafir Belanda. Ungkapan yang paling populer dari muslimah yang hafidz Alquran itu adalah “Perang Kaphe, bek jigidong tanoh Aceh! (Perangi kafir, jangan dipijaknya tanah Aceh)" yang dimaksud kafir olehnya adalah penjajah.

Hal yang paling urgen harus diketahui ketika ingin menjalani kehidupan adalah tahu tujuan yang ingin dicapai. Cut Nyak Dien memiliki visi yang sangat besar, oleh karena itu, ia berusaha memiliki jiwa yang besar, salah satunya adalah dengan menguasai pedoman hidupnya sebagai umat Islam, yaitu Alquran yang mulia.

Dengan kekuatan yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi Kekuatan, inilah - membakar semangatnya untuk mencapai cita-cita mulia yang begitu berat untuk ditempuh oleh orang biasa, kekuatan iman yang begitu mendalam menjadikan ia memiliki sikap pantang menyerah sampai akhir hayat, meskipun cobaan dan rintangan yang didapat sangatlah menyakitkan, sampai-sampai ia dipenjara dan disiksa serta dibuang jauh dari negerinya tercinta.

Seorang manusia yang memiliki cita-cita tinggi – tak akan mudah melepaskan apa yang ingin dicapainya, ia akan berusaha mencari tahu dan mempelajari bagaimana cara mencapai tujuannya dengan berbagai macam usaha dan upaya. Ia berusaha meraih mimpinya dan membuatnya menjadi kenyataan.

Banyak orang salah mempersepsikan ayat Alquran surah Al-Baqarah ayat 286 yang artinya “Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya,...”. Mereka menjadikan ayat ini sehingga menyerah begitu saja, menganggap dirinya tak mampu, padahal kemampuan itu akan bisa didapatkan ketika ia yakin bahwa ia bisa mencapainya karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia memiliki unsur yang sama yaitu jasmani, rohani, dan akal.

Ayat ini diibaratkan seperti sebuah gelas, ada yang besar dan kecil. Gelas kecil akan cepat  penuh dengan air, sementara gelas yang besar bila diisi dengan volume yang sama dengan gelas kecil - masih menyisakan tempat untuk diisi lagi.

Begitulah kemampuan manusia, terkadang ia menganggap kemampuannya sama dengan orang lain yang memiliki keterbatasan, sehingga ia begitu mudah menyerah, padahal kalau ia berusaha, kemampuan itu akan didapat lebih. Dalam ayat yang lain Allah menyuruh manusia untuk menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, namun manusia tidak dapat menembusnya, kecuali dengan kekuatan. Dalam hal ini Allah memberi kebebasan kepada manusia  untuk mempelajari alam semesta ini dan memberikan kesempatan untuk menggenggamnya.

Orang yang yakin pada kemampuannya, ia akan berpikir “kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak?” Keterbatasan yang dimiliki bukan menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita, bahkan ia mampu menjadikannya sebagai tantangan dan peluang untuk mencapai apa yang diinginkan.

Banyak kisah orang-orang yang memiliki keterbatasan tapi bisa menjadi seorang juara,  ternama, seperti seorang anak tuna netra yang lancar bermain piano, seorang penyandang disabilitas kaki tetapi bisa menjadi atlet, seorang anak dengan cerebral palsy tetapi bisa menjadi hafidz quran, kisah-kisah tersebut sangat menginspirasi dunia.

“Nothing is impossible”, itulah ungkapan bagi orang yang memiliki cita-cita yang besar. Keyakinan akan kemampuan mengalahkan segala keterbasannya.

Seorang muslim yang mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabatnya, memiliki visi yang jelas dan terang, seterang bintang di langit, kuat dan  mendalam, sedalam pondasi gedung pencakar langit, keinginannya untuk mencapai cita-cita yang luhur membuat ia ingin terus berkreasi dan berinovasi yang lebih baik, ia tidak puas hanya dengan mencapai usaha-usaha yang kecil saja, ia ingin menghasilkan karya yang besar.

Hasrat dan semangatnya bagaikan seekor rajawali yang terbang tinggi di angkasa, ia telah melihat dunia yang begitu indah dari atas, sehingga membuatnya enggan untuk turun ke tanah.

Seorang yang yakin dengan jalan yang ditempuhnya adalah suatu kebenaran kemudian ia percaya bahwa Sang Maha Kuasa akan memberinya kemampuan kalau ia mau berusaha, maka ia akan mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan, meskipun terkadang pada awalnya mengalami kegagalan, tapi ia akan terus mencoba sampai tercapai tujuan yang diinginkan.

Seperti ungkapan peribahasa “gantunglah cita-citamu setinggi langit”, sang peraih mimpi akan berusaha meraih kekuatan untuk mengobarkan api semangat hingga mencapai langit ke tujuh. Kekuatan ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa bersih dan pandangan jauh ke depan, ia tak ingin larut di dalam kegemerlapan kehidupan, namun ia ingin mencari cahaya agar bisa menerangi seisi dunia.

Kembali kepada kisah Cut Nyak Dien yang sangat inspiratif. Selain memiliki personal mastery yang kuat, Cut Nyak Dien juga mampu membagi visinya kepada rakyat Aceh, ia mampu mengobarkan semangat orang Aceh untuk ikut melawan penjajah demi mempertahankan tanah air Indonesia.

Sikap inilah yang sangat ditakuti oleh penjajah Belanda. Ketika Cut Nyak Dien sudah mulai tua dan mengalami kebutaan pada matanya, pasukan Belanda berhasil menculiknya dan membawanya ke Banda Aceh, lalu diasingkan ke Sumedang, hingga pada akhirnya ia menemui ajalnya disana pada 6 November 1906 dan dimakamkan di Kampung Gunung Puyuh, Desa Suka Jaya, kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Pada tanggal 2 Mei 1964 Presiden Soekarno mengakui Cut Nyak Dien sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964.

Sosok Cut Nyak Dien ini sangat patut dicontoh bagi seorang yang ingin membangun bangsa dan negaranya. Diharapkan kepada kita semua, pemerintah, sekolah-sekolah, dalam memperingati hari pahlawan tidak hanya seremonial biasa, akan tetapi benar-benar memperkenalkan sosok para pahlawan nasional yang telah berjuang untuk mempertahankan ideologi dan tanah air kita, dan belajar bagaimana mereka bisa menciptakan sejarah.

Semoga kita semua, sebagai generasi yang akan melanjutkan perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia, bisa bercermin dari para pahlawan yang telah gugur demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia .

Editor:
Sponsored:
Loading...