Breaking News

Membludak,  Pasar Obralan Hingga Galeri Belanja Lebaran

Membludak,  Pasar Obralan Hingga Galeri Belanja Lebaran
Pasar Peunayong Ramai | foto rusli ismail

PUASA Ramadhan 1441 Hijriyah yang sudah memasuki hari kesepuluh terakhir (hari ke 28), kebiasaan jala-jalan sore hal yang menarik dan unik di lakukan masyarakat di Provinsi Nanggro Aceh Darussalam, seperti yang terlihal Kota Banda Aceh dan Kab. Aceh Besar.

Apalagi dimanfaatkan untuk berbelanja panganan berbuka dan bershoping ria di pusat-pusat perdagangan.

Lebaran memang tinggal tiga hari lagi. Dan sehubungan dengan itu pula kota-kota atau pasar tradisional, kini merupakan puncak ramainya dijarah penduduk pinggiran kota bahkan desa-desa pedalaman.

Kebiasaan tahunan ini merupakan tradisi usang yang sudah mentradisi. Kaum ibu, bapak, remaja putra/putri, anak-anak tumpah di pusat-pusat perbelanjaan mencari bekal sandang dan pangan lebaran.

Kita merasa senang karena melihat kota-kota di Provinsi Aceh terutama Kota Banda Aceh, kini bergairah.

Kenderaan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dan angkot dari dan ke semua jurusan, sepanjang pagi, siang, hingga sore bahkan malam aktivitasnya semakin meningkat. Begitu juga abang beca.

Para pelaku pasar yang didominasi kaum ibu serta remaja putra/putri, memberi warna bagi nafas keramaian di akhir Ramadhan, baik di Banda Aceh maupun Kota Banda Aceh dan kota-kota lainnya.

Pertokoan, super market dan lokasi “lapak” pedagang obralan menjadi sasaran “perburuan” konsumen semusim itu.

Sementara pedagang terlihat saling intip mengubah taktik untuk menjaring pembeli. Trik-trik dagang itu dimulai dari yang konvensional hingga modern.

Dari permainan harga hingga kualitas barang. Dari pengadaan barang hingga interior dan eksterior toko.

Di Pasar Aceh, pasar tertua di Banda Aceh, beragam pakaian anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua terpajang luas. Bagi peminat yang ingin belanja tak perlu khawatir akan kehabisan barang. 

Tidak hanya pedagang pakaian. Tapi peci sebagai pelengkap pakaian shalat tarawih dan lebaran Idul Fitri juga menjadi pilihan kaum muslim, harganya pun terjangkau Rp.30.000 sampai Rp.60.000 meski ada juga yang diatas itu karena kulaitas bagus. Sehingga pedagang peci yang menawarkan berbagai model dan motif juga ikut keciprah rezeki Ramadhan

“Kami cadangkan lebih untuk berbagai jenis pakaian pria dan wanita, termasuk busana muslim, “kata Ahmad,56, pedagang musiman di situ.

Barang-barang dagangan (pakaian) ditawarkan dengan harga bervariasi mulai Rp.50.000 hingga Rp.200.000 per potong celana dan baju.

“Itu harga bukanya, masih bisa ditawar, kok, “begitu kata pria setengah baya berambut lusuh ini kepada BERITAMERDEKA, Kamis 21 Mei 2020.

Berbeda lagi di mall-mall yang ada di seputaran Banda Aceh, paling beken karena digandrungi kaula muda. Ini menawarkan produk pakaian bermerek.

Di sini, di Suzuya Seutui dan Matahari Brawe, di sini, harganya pakai bandrol.

Harga pas dan tak bisa ditawar-tawar. “Kualitas juga dijamin, pokoknya nggak kecewalah, “kata seorang pramuniaga di situ. 

Memang, hari-hari terakhir di penghujung Ramadhan, suasana sore hingga malam di Banda Aceh dan kota-kota kecil lainnya di Aceh bertambah semakin semarak. Yang membedaka dulu dan sekarang adalah tak lagi kedengaran berisik musik dari tempat-tempat hiburan – atau noraknya wanita salon, kata seorang security di salah satu hotel berbintang.

Bulan suci Ramadhan dan penerapan qanun syariat Islam, kelihatannya telah merubah bingkai kehidupan masyarakat Aceh secara umum dan Banda Aceh khususnya. Suasana Islami begitu menonjol –meskipun sedikit ekstrim. Di masjid-masjid, mushalla dan rumah-rumah penduduk, tadarus menggema sepajang hari dan malam.

Dan di sela-selanya, masyarakat lebih memilih berbelanja di tempat obralan, super market atau galeri–sebuah tempat yang menawarkan barang-barang berkualitas import. | rusli ismail |

Sponsored:
Loading...
Loading...