Breaking News

Memahami Kearifan Lokal sebagai Strategi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas

Memahami Kearifan Lokal sebagai Strategi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas

Aceh termasuk daerah yang memiliki cadangan minyak dan gas (Migas) berlimpah, yang membuat para investor asing kepincut menanam modal di ujung barat Pulau Sumatera ini. Namun, setiap investasi perlu analisa mendalam, terutama proyek yang menghabiskan dana besar, seperti pertambangan migas.

Mengutip pernyataan pemateri Sosialisasi Kegiatan Hulu Migas dan Lomba Karya Tulis Jurnalistik (LKTJ) 2021, di Hotel Hermes Palace, pada 17 Oktober 2021, Rudi Rubiandini, energi yang dihabiskan untuk mencari cadangan migas sangat beresiko, itu sebabnya Pemerintah Indonesia tidak memberikan suntikan dana bagi investor bisnis migas. Ketika investor berhasil menemukan dan memproduksi migas, maka pemerintah memberikan potongan hasil produksi (eksploitasi) sebagai pengembalian modal, selebihnya menjadi milik negara. Sebaliknya, bila eksplorasi gagal, negara tidak memberikan ganti rugi, itu konsekuensi investor.

Sisi lain yang harus menjadi pertimbangan investor adalah kearifan lokal, agar keberadaan perusahaan migas diterima masyarakat sekitar, demi menghindari konflik sosial, sehingga eksploitasi migas berdampak positif pada pembangunan nasional, tanpa mengabaikan penduduk di tanah penghasil migas.

Kearifan lokal merupakan warisan budaya, yang kini terus mendapat perhatian publik. Bukan hanya Indonesia, bahkan di seluruh dunia sangat memperhatikan kearifan lokal dalam berbagai sektor pembangunan. Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dijabarkan kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat. Regulasi tersebut menjadi bukti kearifan lokal harus dilestarikan, selama masih dalam koridor konstitusi negara.

Merujuk sejarah dan tatanan sosial masyarakat Aceh, masih ditemukan budaya dan adat yang terus dipraktikkan hingga zaman modern. Model kearifan lokal tersebut akan terus dipertahankan sebagai identitas keacehan, yang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, masyarakat memberikan hak negara untuk menggali potensi alam, termasuk migas demi mewujudkan Indonesia sejahtera. Upaya yang dilakukan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) adalah perpanjangan tangan pemerintah, yang patut diberi ruang gerak untuk menemukan sumber migas.

Antropolog Aceh, Teuku Kemal Pasya menyebutkan orang Aceh sangat terbuka, bahkan tidak merasa terancam dengan kehadiran orang lain, termasuk hadirnya ahli perminyakan yang akan mengangkat migas dalam perut bumi Aceh. Tetapi adat dan istiadat setempat harus diperhitungkan.

Karenanya, pihak perusahaan perlu kebijakan yang memihak pada kearifan lokal, dan memperhatikan ekonomi masyarakat sekitar. Kearifan lokal yang masih berkembang di Aceh antara lain;

Meugang
Sejak masa Sultan Iskandar Muda, di Aceh ada tradisi meugang, yaitu membeli daging lembu atau kerbau yang dijual di pasar tradisional, dan khusus dilakukan pada hari tertentu.

Pelaksanaan meugang tiga kali setahun, yaitu sehari menjelang Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, juga sehari sebelum melaksanakan puasa Ramadan. Pada momen tersebut, sultan Aceh memberikan daging, uang, dan pakaian untuk kaum duafa dan anak yatim, sebagai persiapan menyambut bulan puasa dan hari raya. Tradisi ini masih berlaku dan bukan hanya dipraktikkan oleh pemimpin, tetapi juga dilakukan oleh pengusaha terhadap karyawannya, atau pengusaha raya yang membagi daging untuk warga.

Bagi perusahaan, perlu mengaplikasikan kearifan lokal ini, dengan membagi daging lembu untuk warga setempat ketika hari meugang, sebagai ajang silaturahmi dan bentuk kepedulian sosial.

Panglima Laot
Perusahaan migas seperti Premier Oil Andaman Ltd sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lepas pantai Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Bireuen harus melibatkan tokoh adat seperti panglima laot (panglima laut) dalam kegiatan eksplorasi migas, atau menjadikan bagian dalam perusahaan itu, sesuai keahliannya.

Hal ini menjadi salah satu strategi mengakomodir kearifan lokal. Apalagi, migas terdapat di laut dan daratan, yang juga ada kaitan dengan hukum adat dan tradisi masyarakat setempat. Seperti hari pantang ke laut atau tradisi kenduri laut, yang kerap dipraktikkan masyarakat Aceh yang berdomisili di pesisir laut.

Tetapi, tidak semua kearifan lokal harus diayomi, apalagi yang jauh dari ladang migas, karena tugas utama perusahaan mengeksplorasi dan eksploitasi migas. Paling tidak, perusahaan telah berusaha memahami dan ikut kebiasaaan masyarakat setempat, sebagai wujud menghargai kearifal lokal.

Masyarakat, khususnya orang Aceh harus menerima kedatangan perusahaan migas, yang tergolong kecil dampak negatif terhadap lingkungan. Bahkan Rudi Rubiandini menjamin bahwa sangat minim kerusakan lingkungan akibat tambang migas. Yang penting diperhatikan oleh masyarakat adalah dampak positif. Mereka harus mampu melihat lebih jauh, bahwa ada keuntungan lebih besar daripada kerugian.

Masyarakat juga harus cerdas, bahwa eksploitasi itu bukan memproduksi migas, tetapi proses pencarian migas dalam tanah. Seandainya gagal, maka warga harus memberi ruang dan dukungan agar perusahaan bisa bekerja maksimal untuk menemukan cadangan migas di blok lainnya.

Rudi Rubiandini juga mengungkapkan bisnis migas sangat menjanjikan untuk memajukan daerah dan nasional, apalagi kebutuhan energi dunia saat ini terus meningkat. Sementara Indonesia memiliki potensi itu, bila dikelola secara optimal, maka peluang pemerataan dan ketahanan ekonomi dapat terwujud.

Masyarakat harus mampu melihat dampak berganda (multiplier effect) eksploitasi migas, seperti pasokan alat kebutuhan perusahaan berupa kertas, pipa, makanan, dan beragam kebutuhan lainnya, semua itu berasal dari pedagang sekitar perusahaan, kecuali alat canggih yang memang harus dipasok dari luar. Pernah ada cerita, saat PT Arun Natural Gas Liquefaction aktif beroperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di seputaran Lhokseumawe dan Aceh Utara berkembang pesat. Pengusaha warung kopi dan penjual nasi pagi, dalam bahasa Jawa disebut nasi kucing, mereka meraup untung besar, karena mobilitas karyawan PT Arun Natural Gas Liquefaction tinggi. Sehingga berdampak pada meningkatnya ekonomi warga, bahkan mampu menyekolahkan anak ke perguruan tinggi.

Penulis: Amiruddin, wartawan Beritamerdeka.net 

Editor:
Sponsored:
Loading...