Breaking News

Lukman, Lelaki Cacat yang Mandiri

Lukman, Lelaki Cacat yang Mandiri
Lukman

BUKAN bermaksud tidak sopan kepada konsumen atau siapapun, tetapi begitulah cara yang bisa dilakukan Lukman,41, lelaki bujang asal Kemukiman Reubee, Kec amatan Delima, Pidie, saat menawarkan dagangannya kepada konsumen.

Meski fisiknya tak sempurna, namun lelaki bertubuh ceking dan berkulit hitam ini mempunyai tekad dan semangat hidup tinggi. Selain cacat fisik merupakan bawaan sejak lahir, Lukman juga mengalami keterbelakangan mental dan bicaranya tidak begitu lancar.

Bagi dia tidak ada kata menyerah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Bahkan, pantang baginya jadi peminta-minta walau hanya untuk sesuap nasi.

Ini yang membuat kagum setiap orang menyaksikan cara Lukman mengumpulkan rupiah, dengan menawarkan kantong plastik atau kantong kresek dan rokok eceran kepada konsumen yang membutuhkan. Kantong-kantong plastik itu diperlukan untuk memudahkan mereka membawa barang belanjaan.

Terpal plastik seukuran 1,5x2 meter dengan warna yang sudah kusam, menjadi alas tempat duduk sekaligus tempat Lukman menggelar dagangannya di kaki lima depan Pasar Ikan Peunayong, Kota Banda Aceh.

Kantongan plastik yang ditawarkan anak kedua dari empat bersaudara ini, umumnya ukuran sedang dan besar. Untuk kantong plastik ukuran sedang, dihargainya Rp.3.000 perlembar. Sedangkan ukuran besar Rp.4.000 per lembar.

Kantong-kantong plastik itu dijepit pada ujung kaki, lalu dikibas-kibas ke kiri dan ke kanan sehingga menarik minat konsumen untuk membeli. Karena ketekunan dan kegigihannya itu, tidak jarang para konsumen menolak uang kembalian disodorkan Lukman untuk harga satu lembar kantong plastik ditawarkan. 

“Walau tidak banyak kalimat yang terucap dari mulut anak kedua dari empat bersaudara itu, namun para pedagang kaki lima lain mengenalnya sebagai sosok yang peramah, suka bergurau dan tidak pernah menyimpan rasa dendam terhadap perlakuan yang diterimanya.

Seorang wanita pedagang kaki lima yang lapaknya hanya berselang beberapa meter dari tempat Lukman menggelar dagangannya menyebutkan, Lukman adalah sosok yang sederhana dan ramah sehingga disukai semua orang.

Menurut dia, usaha sebagai penjual kantong plastik dan rokok eceran telah ditekuni Lukman sejak sepuluh tahun silam. Dia memulai usahanya itu berkat kemurahan hati seorang pedagang kelontong di Pasar Peunayong, yang mengutangkan beberapa kantong plastik kepada Lukman untuk dijual secara eceran.

Dari hasil usahanya itu, selain untuk memenuhi kebutuhan diri pribadinya, Lukman juga ikut membantu biaya pendidikan adik-adiknya. “Orangtuanya sudah lama berpisah sehingga ibunya harus berjuang keras untuk mebiayai kebutuhan keluarga. Untung Lukman ikut membantu meringankan beban ibunya itu, “kata seorang warga Lampaseh, tetangga tempat Lukman dan ibu serta abang  dan kedua adiknya kini berdomisili.

Kehidupan Lukman dan ibu serta adik dan abangnya, cukup sedehana. Mereka menempati sebuah rumah kontrakan yang dibayar dengan hasil usaha mereka.

Untuk pulang dan pergi ke pasar tempatnya mencari nafkah, Lukman biasanya menumpang sebuah becak mesin yang sudah menjadi langganannya.

Melalui bahasa isyarat dan gerakan mulut dengan suara harus terungkap, keinginan Lukman sekarang ini adalah memiliki tempat berjualan yang representatif. Namun disadarinya, angan-angan itu ibarat panggang jauh dari api karena Lukman dan ibunya tidak memiliki modal. | rusli ismail |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...