Breaking News

Bank Aceh

Leumang Janda Hafsah Beromzet Rp 6 Juta Sehari

Leumang Janda Hafsah Beromzet Rp 6 Juta Sehari
Leumang setelah dimasak

BERITAMERDEKA.net - Pondok jualannya di kawasan Simpang Jalan Lamdingin, Kota Banda Aceh, Minggu 26 April 2010, tampak dia yang dibantu seorang wanita lainnya selaku mitra kerjanya sangat sibuk menyiapkan selai untuk pelengkap lemang di belakang meja lapak jualan.

Sementara tiga karyawannya terlihat sibuk melayani pembeli yang berjibun datang. Semakin menjelang sore mendekati waktu berbuka puasa pembelinya semakin banyak.

Dia yang sudah melakoni pekerjaan sebagai pengusaha lemang sejak sebelum tsunami.

Awalnya, keuntungan tidak menggembirakan, namun dari hari ke hari lemang buatannya semakin banyak peminat.

Sebelum tsunami, wanita itu mampu meraih omset hingga Rp.500.000 per hari. “Keuntungan yang didapat mencapai setengah total penjualan, “sebut Hafsah.

Pada waktu itu, tambahnya, bahan yang dibutuhkan per harinya sebanyak 40 liter atau 20 bambu (32 kg) beras ketan.

Dari jumlah tersebut dapat mengisi 60 ruas bambu. Harga per ruas bambu bervariasi, antara Rp.15.000 hingga Rp.30.000.

Namun, kini katanya, lemang buatannya semakin dikenal khalayak ramai sehingga pembuatannya pun tambah diperbanyak menjadi 200 ruas bamboo termasuk lemang ubi.

Sehingga omset sekarang bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta lebih per hari. Selain menghabiskan banyak lemang juga harganya jauh meningkat Rp.25.000 hingga Rp.50.000 per ruas bambu, dibanding dulunya antara Rp.15.000 hingga Rp.30.000.

Berbeda dengan Ramadhan 1441 Hijriyah tahun 2020 ini. Hafsah mengatakan hasil produksi lebih meningkat dibanding tahun lalu. Sehingga menghabiskan tak kurang dari 75 kg beras ketan plus 20 kg ubi jalar. “Jadi totalnya pembuatan lemang sekarang bertambah banyak pula menjadi 200 ruas bambu per hari selama Ramadhan, termasuk lemang ubi.

Pasalnya, lemang buatannya itu semakin dikenal banyak orang di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar terutama dijadikan sebagai menu saat berbuka puasa, “kata Hafsah.

Walau dia membuat lemang dalam jumlah banyak, namun selalu habis terjual saat sore hari menjelang waktu berbuka, peminatnya tetap ramai. “Setiap hari lemang ini habis dijual, “katanya seraya menunjuk ke meja lapak jualan yang sedang dikerumuni pembeli. “Sekali-sekali tersisa satu, dua ruas. Tergantung cuaca.” jelasnya.

Hafsah mengatakan bencana tsunami akhir tahun 2004 ikut menggerus suami dan empat anaknya. Dari enam buah hatinya, dua yang selamat. Yang paling bungsu saat itu berusia 15 tahun, satu lagi perempuan, sudah bersuami.

Sebagai korban tsunami dia sempat mengalami kucar-kacir menyangkut soal tempat tinggal yang habis tersapu gelombang tsunami saat itu.

Namun, bagi dia soal tempat tinggal sebenarnya tidak masalah asal jangan berpisah dengan rutinitasnya sebagai pembuat lemang. Lemang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidupnya.

Tsunami membuatnya kehilangan segala-galanya. Namun gelombang besar itu tidak menggerus keterampilannya membuat lemang.

Dengan kemampuan tersebut, janda tsunami ini mampu mandiri tanpa bantuan orang lain. |R. Ismail |

Sponsored:
Loading...