Breaking News

Lemang, Warisan Budaya Indatu di Bulan Ramadhan

Lemang, Warisan Budaya Indatu di Bulan Ramadhan
Bakar lemang dalam bambu. (foto Ist)

Bireuen, BERITAMERDEKA.net – Bulan Ramadhan identik juga dengan budaya bakar lemang. Kuliner khas merupakan warisan budaya yang banyak ditemukan di beberapa daerah termasuk Aceh. Menikmati takjil khusus yang di masak  dalam  bambu ini akan semakin nikmat jika ditemani srikaya.

Di kota Kabupaten Bireuen, di sepanjang Jalan Pasar Sabtu, tepatnya menuju Pasar lama, konsumen akan menemukan belasan lapak kecil yang menjual lemang.

Biasanya pedagang mematok harga Rp 10.000 per potong dengan panjang sekitar empat sentimeter, temasuk membeli, srikaya. Anda juga cukup membayar Rp 5.000 per paketnya.

Lemang terbuat dari beras ketan diolah bersama santan kelapa lalu dimasukkan ke bambu. Bambu diatur berjajar tersebut kemudian dibakar. Metode memasak seperti ini mengakibatkan cita rasa dan aromanya sangat khas, apalagi ditambah sedikit rempah-rempah.

Memilih bambu yang digunakan juga tak sembarangan. Bambu yang dibutuhkan adalah buluh bambu berkulit agak tebal karena harus tahan dibakar. Jika berkulit tipis sudah pasti dapat merusak rasanya lemang itu sendiri.

M Jusuf Taher Ko (65), pembuat dan juga penjual Lemang di Jalan Simpang Mamplam, menuturkan proses pembuatan lemang sudah banyak disiasati oleh pedagang yang mau cepat ambil untung. Caranya ada yang dimasak di kukusan terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke dalam  bambu.

Lemang siap saji yang dijual untuk takjil Ramadhan. (Foto Ist)

"Ada juga tampak asli maka bambu tersebut dipanggang. Saya tidak seperti itu, saya masih menjaga keaslian memasak lemang agar rasa dan aromanya tetap terjaga," kata M Jusuf.

Karena itulah, lemang buatan M Jusuf terasa gurih, dan beraroma khas. Ia juga mengajarkan untuk membedakan antara lemang yang dimasak langsung dari bambu atau tidak.

Salah satunya dapat diketahui dari kepadatan lemang. Lemang yang dimasak di dalam bambu lebih padat. Aromanya juga sangat enak yang berasal dari bambu. |Umar A Pandrah|

Editor:
Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...