Breaking News

Laka Berujung Petaka, Safriadi Harus Terbaring Dengan Kondisi Lumpuh dan Rabun

Laka Berujung Petaka, Safriadi Harus Terbaring Dengan Kondisi Lumpuh dan Rabun
Safriadi (28) warga Desa Padang Datar Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya sakit mata rabun dan lumpuh. (27/10/2020)

Calang, BERITAMERDEKA.net- Safriadi (28) sang pemuda warga Desa Padang Datar Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, kini harus terbaring lemas tanpa daya dalam kondisi lumpuh dan matanya rabun seraya merasakan sakit yang ia derita.

Dua tahun lalu, Safriadi merupakan salah satu pemuda gagah di desa tersebut. Dalam kondisi normal layaknya pemuda yang lain. Namun dua tahun lalu, naas telah menimpa sang pemuda miskin tersebut. Safriadi mengalami musibah kecelakaan hingga berujung lumpuh dan rabun mata seperti sekarang ini.

Padahal Safriadi anak pertama dari seorang janda miskin Nurlela. Dia adalah salah satu tulang punggung keluarga. Namun apadaya, kini hari-harinya, hanya bisa terbaring lemas.

“Keponanakan saya itu, dua tahun lalu mengalami kecalakaan lalu lintas. Kami telah berusaha mengobatinya di Rumah Sakit daerah Calang, sampai ke RSUDZA Banda Aceh, namun keponakan saya itu tak kunjung sembuh,” kata Romi pamannya Safriadi dengan nada sedih, kepada Beritamerdeka.net, Selasa (27/10/2020)

Jelas Romi, dari hasil pemeriksaan dokter, Safriadi  mengalami ganguan saraf mata yang diduga akibat kecelakaan laka lantas yang dialaminya. “Saat di rumah sakit Banda Aceh, pihak dokter pernah menyarankan kepada keluarga supaya Safriadi di lakukan operasi, akan tetapi, karena keluarga merasa takut saran dokter, akhirnya Safriadi dibawa pulang ke kampung untuk melakukan pengobatan alternatif dan berobat di klinik,” papar Romi.

Dalam dua bulan terakhir sakit yang diderita Safriadi semakin bertambah parah. Bahkan kedua kakinya telah mengalami kelumpuhan total, " Kini keponaan saya itu tidak bisa bangun lagi dan hanya bisa berbaring lemas di tempat tidur, " kisah paman Safriadi.

Dikatakannya, karena Safriadi dalam kondisi lumpuh, Ia terpaksa dipasangkan kateter atau alat bantu buang air. Hanya ibu Nurlela yang harus menemani anak kesayangannya itu. Terkadang sang ibu harus menuda pekerjaanya demi anaknya yang tercinta. “Untuk pengobatan Safriadi, saat ini kami hanya bisa berkonsultasi dengan dokter Rumah Sakit Calang, dengan cara berobat jalan,” ujar Romi.

Sambung Romi, ditengah kesempitan ekonomi sepeti sekarang ini, keluarga tak  dapat berbuat banyak untuk kesembuhan Safriadi sang tulang punggung keluarga itu. “Ibu Safriadi, hanya dapat berdoa dan mengharapkan ada si hati yang mulia untuk membantu sibuah hatinya itu,” papar Romi.

Semoga saja, asa sang ibu janda miskin tersebut dapat didengar oleh dermawan atau Pemerintah Daerah. Dengan linangan air mata, sang ibu miskin mengatakan, jangankan untuk berobat ke rumah sakit besar, untuk biaya hidup sehari saja sudah menipis. Bahkan dana yang selama ini ditabungnya juga ikut habis untuk kebutuhan pengobatan Safriadi.

“Siapa yang tidak senang, jika suatu saat Safriadi sembuh kembali dan dapat beraktifitas seperti pemuda lainya membantu keluarganya dan menyekolahkan adiknya. Semoga saja asa ini tersampaikan,” pungkas sang Paman Romi dengan linangan air mata. |musliadi|

Editor:
Sponsored:
Loading...
Loading...