Breaking News

Bank Aceh

Keunikan Orang Aceh Saat Ramadan Tiba

Keunikan Orang Aceh Saat Ramadan Tiba
Ilustrasi

PEPATAH Aceh sudah mendarah daging sejak dahulu kala, diwarisi secara turun temurun hingga sekarang belum lekang di kalangan masyarakat Aceh termasuk masyarakat Banda Aceh.

Pepatah Aceh itu berbunyi “sithon keurija sibeuleuen pajoh” (setahun kerja untuk sebulan belanja/makan) agaknya tidak meleset dari kebiasaan orang Aceh umumnya ketika Ramadhan tiba.

Sikap orang Aceh menyambut bulan suci umat Islam memang unik. Mereka sudah mempersiapkan jauh hari sebelum Ramadhan tiba.

Ibadah puasa yang dilaksanakan selama satu bulan penuh dalam setahun sekali, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, punya makna khusus, sehingga perlu menjalankannya secara sungguh-sungguh, baik batin maupun materi.

Orang Aceh yang semuanya muslim, terutama usia dewasa (balikh) melaksanakan ibadah puasa, kecuali mereka yang mendapat keringanan untuk menundanya (mengkadha), seperti musafir, sakit, lanjut usia, wanita yang sedang menstruasi (datang bulan), wanita yang melahirkan, wanita hamil dan menyusui.

Biasanya, pada Ramadhan adalah bulan yang lebih banyak istirahat dari aktivitas. Ini demi untuk menyempurnakan ibadah puasa, menghindari paksaan fisik dari bekerja keras. Maka sebisa mungkin kerja-kerja berat dihindarkan, sehingga tidak membatalkan puasa.

Masa dalam setahun itu adalah waktu mencari nafkah, dan sebulan diantaranya adalah bulan ibadah, yang harus menyempatkan diri dari kegiatan-kegiatan mencari kekayaan dunia (mencintai dunia). Kebiasaan ini masih kental terlihat dimana-mana terutama di desa-desa, di mana orang lebih betah berlama-lama di masjid atau berdiam diri di rumah.

Sebagian masyarakat memilih membaca Quran dimulai pada awal puasa dan ketika akhir Ramadhan akan khatam (tamat), bahkan ada yang bisa mengkhatam tiga sampai empat kali khatam. Pada malam hari mendirikan shalat tarawih, dilanjutkan dengan tadarus hingga sahur tiba, hingga kemudian mendirikan subuh secara berjamaah.

Aktivitas yang padat untuk melakukan ibadah tentu saja menambah beban jika harus menjalankan aktivitas hari-hari. Dan umumnya yang menjalankan pepatah “sithon keurija alias tamita untuk sibeuleuen pajoh” adalah kaum petani dan pekebun. Lain halnya orang kota, yang umumnya pedagang dan kerja kantoran, mereka tetap menjalankan aktivitas kerja sebisanya tanpa dipaksa alias santai.

Aneka ibadah pada malam hari, bangun tengah malam untuk shalat tahajud dan sahur, serta tuntutan untuk menyiapkan panganan pembuka puasa, biasanya membawa pengaruh pada kerja.

Umumnya karyawan yang datang ke kantor agak telat dan pulang pun lebih awal dari hari-hari biasa. Bahkan, beberapa pimpinan lembaga atau perkantoran memberikan toleransi kelonggaran kerja pada bulan puasa.

Memang terkadang makna dari hadih maja (pepatah Aceh) itu sering disalah-artikan oleh sebagian orang Aceh. Setahun kerja untuk sebulan belanja/makan itu tidak bermakna sempit.

Tergantung pada kondisi dan situasi orangnya. Pepatah itu tidak berarti orang Aceh boleh bermalas-malasan pada Ramadhan.

Sebab, kendatipun bulan puasa, hukum ekonomi tetap berlaku, seperti hukum hidup, manusia butuh makan untuk bisa terus hidup.

Demikian juga roda perekonomian, pasar membutuhkan hasil pertanian, membutuhkan sayur, dan segala hal yang malah begitu meningkat tatkala Ramadhan tiba.

Hanya sebagian orang Aceh saja yang bisa menjalankan hadih (hadist) maja itu, yaitu orang-orang yang sudah cukup mengerti tentang pepatah Aceh itu. Punya persiapan dan benar-benar ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan secara sempurna tanpa beban kecapekan, karena melakukan amalan pada bulan ini diberikan pahala berlipat ganda, yang tak pernah ada pada bulan-bulan lainnya. | r ismail |

Sponsored:
Loading...