Breaking News

Bank Aceh

Kehidupan Pemulung tak Surutkan Niat Puasa

Kehidupan Pemulung tak Surutkan Niat Puasa

MESKI berprofesi sebagai pemulung, sebagian warga kurang mampu (miskin) yang tinggal di seputaran Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, sebagai seorang muslim tetap melaksanakan ibadah puasa. Kondisi ekonomi yang serba sulit, tetap tidak menyurutkan niat untuk bertahan dengan ibadahnya. Malam hari, sebagiannya melaksanakan ibadah shalat tarawih di mushalla atau di masjid.

Bukan hanya orangtua, sebagian anak-anak yang merasa mampu berpuasa, juga dengan tekun melaksanakannya. Menanti saat berbuka, bermain  dan berjalan-jalan menggunakan kenderaan semisal sepeda motor adalah sebuah kebiasaan mereka. Sebagian anak-anak di sana memilih berdiam di mushalla sambil menunggu berbuka puasa.

Sebagaiman diakui Jamal (63 tahun) warga yang tinggal di kawasan sedikit kumuh mengaku tetap menjalankan ibadah puasa. Pria ini yang ditemui saat sedang memungut barang bekas di tumpukan sampah di kawasan Aceh Besar, Kamis 14 Mei 2020 lalu, dia mengaku tahun lalu menyelsaikan puasanya hingga akhir, tahun ini pun berharap tetap bertahan hingga akhir Ramadhan nantinya. 

Saat berpuasa seperti ini, sambungnya, biaya hidupnya serasa lebih berat dari hari biasanya. Jika hari biasa, dia cukup berbelanja sebesar Rp30.000 perhari, tetapi di bulan puasa ini harus mengeluarkan uang mencapai Rp50.000 untuk keperluan berbuka puasa dan sahur.

Bagaimana Jamal membelanjakan uang seminim ini? “Harus pintar-pintar la, kalau tidak mencukupi biasanya ngutang dulu di tetangganya, “katanya seraya menyebutkan tetangga tempatnya ngutang tak jauh dari kediamannya.

Jamal dan dan istrinya Atik (55 tahun), sudah beberapa tahun tinggal di pemukiman itu. Meski penghidupan yang cukup minim dan harus pontang panting bekerja selaku pemulung, Jamal mengaku tetap menikmati hidup dengan lapang dada dan tak pernah meninggalkan ibadah puasa.

“Untuk Apa Bekerja Tapi Meninggalkan Perintah Allah,” ujarnya.

Dari pengakuannya, ketegaran dan dukungan dari anak-anaknyalah membuat dirinya menjadi kuat menjalani hidup yang begitu sulit.

“Kalau bukan dukungan anak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri saya ini,“ katanya.

Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, bagi Jamal adalah sebuah keberkahan. Karena dia bisa bekerja sambil beribadah puasa. “Ramadhan itu sebuah keberkahan bagi saya. Sebab tahun yang akan datang, belum tentu lagi manusia itu bisa mendapatkannya,“ ungkapnya.

Walaupun sambil berpuasa, aktivitasnya sebagai pemulung tidak membuatnya meninggalkan puasa.

“Untuk apa kita bekerja tetapi meninggalkan perintah Allah. Hidup diakhirat itulah yang kekal. Maka berlomba-lombalah meraih kebaikan,” katanya. | R. Ismail |.

Sponsored:
Loading...