Breaking News

Hari Jadi Kota Banda Aceh ke-816

Kado dari Hendra, Mengupas Sejarah Berdirinya Banda Aceh

Kado dari Hendra, Mengupas Sejarah Berdirinya Banda Aceh
Tugu Km 0 Kota Banda Aceh, situs sejarah berdirinya Koetaradja. (foto Ig @InfoBandaAceh))

Kemarin, 22 April 2021, Banda Aceh berulang tahun ke 816 tahun. Tahu kah Anda, bagaimana sejarah Kota Banda Aceh berdiri dan darimana asal mula angka 816 tahun itu muncul? Pemilik akun fb @Hendra Fahrizal mencari tahu nya dan menemukan fakta seperti yang dituturkannya diakunnya sebagai kado darinya untuk Kota Banda Aceh.

Hendra Fahrizal pun memulai penelusurannya. Tak banyak yang tahu bagaimana sejarah Kota Banda Aceh berdiri. “Wikipedia sendiri, bila kita mengetik keyword "Sejarah Kota Banda Aceh" atau "Kota Banda Aceh" kita akan menemukan artikel yang menyebut sejarah tapi tidak menyebut siapa pendirinya, yaitu Sultan Alaidin Johansyah,” ucap Hendra.

Ia mengungkapkan, di website resmi Pemko Banda Aceh, pada 2012, Ia pernah menemukan tulisan sejarah dan pendirinya, namun tidak disebutkan riwayat pendiriannya. Sekarang, tulisan sejarah Kota Banda Aceh telah lenyap dari tab 'sejarah' di website Kota Banda Aceh, hanya memuat artikel berjudul "Sejarah Gampong Pande Harus Diseminarkan", sebuah tulisan lama tahun 2013 dan bahkan masih memuat nama Illiza sebagai Wakil Wali Kota.

Hendra pun memaparkan, berdirinya Kota Banda Aceh itu memiliki korelasi dengan transisi kekuasan kerajaan Lamuri (berlokasi di Lamreh, Krueng Raya) pada 1185 di bawah kepemimpinan Maharaja Indra Sakti yang waktu itu masih beragama Buddha.

Ketika kondisi politik dan keamanan di Lamuri mulai goyah, karena diserang pasukan Cina yang telah menduduki Leupung. Maka, kemudian Maharaja Indra Sakti meminta bala bantuan pasukan dari Kesultanan Peureulak, yang waktu itu sudah berkiblat ke Islam. Seorang diantara pasukan bernama Meurah Johan.

Bala bantuan ini berhasil memukul mundur pasukan Cina. Sisa dari pasukan ini sebagian menetap di Lamuri, termasuk Johan. Setelahnya, Meurah Johan pun dikawinkan dengan putri Maharaja Indra Sakti. Selepas Indra Sakti meninggal, menantunya diangkat menjadi Raja Baru, dengan gelar Sultan Alaidin Johan Syah.

Namun, dengan era transisi berpindahnya keyakinan dari Buddha ke Islam, maka semangat inipun membawa Sultan Alaidin Johansyah "merebranding" kerajaan Lamuri dan memindahkannya ke tepian sungai Krueng Aceh pada bulan Ramadhan tahun 1205. Ia menamakan kerajaan ini Kerajaan Aceh.

Kerajaan ini tidak sama dengan Kesultanan Aceh Darussalam, yang waktu itu belum terbentuk. Tahun pendirian itulah menjadi cikal bakal hari lahir Kota Banda Aceh. Dinasti yang menduduki singgasana ini disebut Dinasti Meukuta Alam. Itulah dipercaya menjadi asal mula penamaan Gampong Kuta Alam. Walau ada yang percaya pusat pemerintahannya berada di Gampong Pande.

Kala itu, selain Dinasti Meukuta Alam, ada pula Dinasti Darul Kamal. Pusat pemerintahan Dinasti ini di Peukan Biluy. Bila merujuk pada catatan Portugis, mereka menyebut dua dinasti ini dipisahkan oleh sebuah sungai. Bila kita mengacu bahwa sungai dimaksud adalah Krueng Aceh, maka Kuta Alam & Peukan Biluy adalah tafsiran geografis yang logis. Biluy di selatan Krueng Aceh dan Kuta Alam di sebelah Utara.

Hingga tiga ratus tahun kemudian, melihat kekuasaan yang terpecah-pecah, maka Ali Mughayatsyah, salah seorang keturunan Dinasti Meukuta Alam menyatukan dinasti ini menjadi sebuah unity yang besar. Disinilah terbentuk kesultanan baru bernama Kesultanan Aceh Darussalam. 

Keturunan-keturunan dari dua dinasti ini, memerintah bergantian. Salah satu yang terkenal, Sultan Iskandar Muda, keturunan campuran dari dua Dinasti Meukuta Alam (darah ayah) dan Darul Kamal (darah ibu) yang menjayakan nama Aceh.

Diakhir kalimatnya, Hendra Fahrizal, owner Global Inovasi media ini, mengucapkan “Selamat Hari Jadi Kota Banda Aceh”. |*/dec|

Editor:
Sponsored:
Loading...