Breaking News

Jembatan Gantung Menuju Desa Lhok Sandeng Kondisi Prihatin

Jembatan Gantung Menuju Desa Lhok Sandeng Kondisi Prihatin

NASIB warga yang tinggal di kaki Bukit Barisan, kawasan Desa Sarah Mane dan Desa Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, hingga sudah 75 tahun Indonesia Merdeka, jauh dari perhatian pemerintah, sehingga kondisi kehidupan warga setempat sangat memprihatinkan.

Betapa tidak, selain masih masih sulit dijangkau melalui jalan darat, kawasan Desa Sarah Mane dan Lhok Sandeng, Kemukiman Kuta Rentang, Kec. Meurah Dua, Kab. Pidie Jaya, juga tidak memiliki fasilitas publik, bahkan lebih 80 persen penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan.

Tokoh masyarakat setempat Muhammad kepada BERITAMERDEKA.net, Sabtu 27 Juni 2020 menyebutkan, akibat kondisi tersebut, sehingga layaknya kawasan pemukiman yang berada di kaki gunung Bukit Barisan itu sebagai kawasan yang terisolir. Pasalnya, satu-satunya sarana perhubungan darat yang dimiliki berupa jalan dan jembatan gantung dalam kondisi rusak parah dan sebagian tak pernah tersentuh pembangunan sama sekali.

“Padahal kami di kawasan pedalaman ini adalah korban konflik yang sangat konpleks, “tutur beberapa warga setempat lainnya seraya menyebutkan, kami warga yang berdomisili dalam jarak 13 kilometer arah selatan Ibukota Kecamatan Meurah Dua membutuhkan bantuan perbaikan/ pembangunan sarana perhubungan dan infrastruktur lain serta modal usaha.

Bahkan ada jalan alternative lain sepanjang 2 kilometer menuju kawasan perkebunan dan lahan pertanian kondisinya tak layak dilewati karena masih dipenuhi bebatuan dan jalan tanah pegunungan. Sedangkan jalan lama dihiasi kubangan dan anak sungai karena di sepanjang ruas jalan tanah yang posisinya lebih rendah dari pemukiman dan kebun itu dipenuhi air dan lumpur.

Akibatnya, warga sulit membawa hasil pertanian karena selain harus menempuh jarak yang memadai juga harus berenang di dalam air dan lumpur. Padahal, jika lintasan tersebut normal, jarak tempuh dari kedua desa tersebut bisa ditempuh dengan mudah dan cepat. Tapi, karena jalan dan jembatan rusak, jarak tempuhnya menjadi lama dan melelahkan.

Muhammad menambahkan, sudah 75 tahun Indonesia Merdeka, kondisi kehidupan warga di sana belum merasakan nikmat kemerdekaan.

Ratusan kepala keluarga mengeluh karena jauh dari perhatian pemerintah. Warga yang berprofesi sebagai petani membutuhkan infrastruktur jalan yang memadai. Namun penantian panjang hanya mimpi, sampai saat ini prasarana jalan menuju daerah terisolir itu tak juga ada.

“Padahal, pemukiman di kawasan hutan tersebut punya potensi sumber daya alam (SDA) melimah ruah hingga kini terpinggirkan dari keramaian suasana kota, “katanya.

Camat Meurah Dua, T. Safrizal,S.SP mengakui kondisi warga di kawasan tersebut sangat memprihatinkan. Mereka masih berbalut dengan keterisolasi dengan warga desa lain dan ibukota kecamatan.

Mengatasi hal itu, Camat Meurah Dua mengharapkan pemerintah segera membangun kawasan tersebut terutama sarana perhubungan jalan dan jembatan yang kini dalam kondisi sekarat. Apalagi kondisi jembatan gantung Lhok Sandeng yang sudah sangat using dan rusak parah perlu mendapat perhatian segera, pungkasnya.( Rusli Ismail ).

Sponsored:
Loading...
Loading...