Breaking News

Jelang Buka Puasa, Kota Banda Aceh Macet

Jelang Buka Puasa, Kota Banda Aceh Macet
Jalan Moh Jam macet | foto r rusli

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Arus lalulintas di sejumlah jalan utama di Kota Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar, sejak awal puasa hingga hari ke 6 Ramadhan 1441 Hijriah, Rabu 29 April 2010 cukup padat dan macat di sore hari, menjelang berbuka puasa.

Padatnya arus lalu lintas dan pasar itu, karena warga keluar rumah membeli penganan berbuka, setelah setengah hari lebih mengurungkan diri di kantor, rumah, masjid, dan meunasah sambil beristirahat.

Kepadatan itu mengundang kemacetan di sejumlah jalan utama seperti Jl. Mohd. Jam, Jl.Tgk Dibaroh, Jl. Diponogoro, Jl. Tgk. Chik Pante Kulu, Jl. Panglima Polem, Jl. Supratman, Jl. HT Daudsyah Peunayong dan sejumlah jalan lainnya dalam Kota Banda Aceh.

Suasana kemacetan juga terjadi di jalan utama Lambaro, Kec. Ingin Jaya, Kab. Aceh Besar " Sehingga harus mendapat pengaturan khusus dari aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan," kata Maimun, warga Banda Aceh kepada BERITAMERDEKA.net.

Di simpang Jln. Mohd Jam/Tgk.Dibaroh, tidak ada petugas dihari biasa. Namun, selama Ramadhan setidaknya 2 sampai 5 petugas polisi pegawai Dishub bekerja keras mulai pukul 16:00 sampai menjelang berbuka puasa.

Pantauan BERITAMERDEKA, Rabu 29 April 2020 sore, warga membanjiri Kota Banda Aceh dan Pasar Lambaro, Aceh Besar sehingga badan jalan yang sempit tak mampu menampung ledakan pengunjung yang melintas serta ditambah lagi dengan kepadatan perpakiran berbagai jenis kenderaan.

Dampak kemacetan menyebabkan waktu tempuh lebih lama. Jika sebelumnya 10 menit, sekarang 20 hingg 25 menit. Selain dipadati kenderaan roda dua dan empat, juga diramaikan pedagang musiman menjual penganan berbuka puasa.

“Warga jalan-jalan menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka. Sambil pulang membeli penganan berbuka. Selain juga berbelanja berbagai kebutuhan, “kata personil Satlantas.

Menurut Marzuki, warga Lampaseh Kota, Banda Aceh, berkah Ramadhan telah mendatangkan keutungan besar bagi sejumlah warga yang mau ambil bagian berjualan.

“Itu tidak hanya dirasakan warga muslim belaka, bahkan etnis Tionghoa, turut ambil bagian berjualan penganan berbuka itu. Tampaknya, warga atau muslim di Aceh khususnya Banda Aceh tidak memilih penganan berbuka itu siapa yang racik termasuk etnis tadi tetap seja dibeli, “ujarnya.

Tradisi menjual makanan dan minuman berbuka di Aceh sudah membudaya. Masyarakat enggan membuat makanan di rumah, karena alasan repot, apalagi banyak pekerjaan harus diselesaikan, mereka memilih membeli makanan,“ kata Marzuki.| R. Ismail |

Sponsored:
Loading...
Loading...