Breaking News

Istri Perdana Menteri Armenia Tenteng Senjata Menuju Medan Perang

Istri Perdana Menteri Armenia Tenteng Senjata Menuju Medan Perang

BERITAMERDEKA.net - Perang antara Armenia dan Azerbaijan sejak September 2020 lalu, nampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.

Bahkan sejauh perang antara Armenia melawan Azerbaijan di wilayah perbatasan Nagorno-Karabakh telah menewaskan lebih dari seribu orang.

Setidaknya sudah ada tiga perjanjian gencatan senjata, yang dicoba secara terpisah oleh Rusia dan Amerika Serikat, gagal meredam perang antara Armenia dan Azerbaijan bahkan ketegangan terus meningkat di wilayah tersebut.

Bahkan, banyak orang penting yang kini ikut terjun sendiri untuk berperang.

Perang Armenia dan Azerbaijan.
Salah satunya adalah istri dari Perdana Menteri Armenia.

Hal ini seperti dikutip Zonajakarta.com dari Indian Express, Anna Hakobyan, istri Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, mengumumkan pada hari Selasa (27/10/2020) bahwa dia telah memulai pelatihan militer dan akan segera bergabung dengan pasukan Armenia yang berperang melawan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh yang sangat diperebutkan.

Dalam sebuah posting yang dibagikan di Facebook, Hakobyan yang berusia 42 tahun mengatakan bahwa pasukan wanita beranggotakan 13 orang, termasuk dirinya, akan segera memulai latihan militer, AFP melaporkan.

"Dalam beberapa hari kami akan berangkat untuk membantu perlindungan perbatasan kami," tulis postingan itu. “Baik tanah air maupun martabat kita tidak akan diserahkan kepada musuh.”

Ini akan menjadi kursus pelatihan militer keduanya sejak timbulnya kembali ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan.

Bulan lalu, Hakobyan dan sekelompok wanita dari Karabakh menjalani kursus pelatihan tempur tujuh hari di pangkalan militer, di mana mereka belajar bagaimana menggunakan senjata dan amunisi, AFP melaporkan.

Sebelumnya, pada awal bulan Oktober ini, Hakobyan, yang juga merupakan pemimpin redaksi surat kabar Armenian Times, mengirim surat kepada Ibu Negara AS, Canada, Prancis, Brasil, Lebanon, Singapura, Lituania, Argentina, dan Vietnam, mendesak mereka untuk mengakui kemerdekaan Nagorno-Karabakh, penduduk sipil yang diserang oleh Azerbaijan.

Istri Perdana Menteri Armenia Armenpress.am
Putranya yang berusia 20 tahun, Ashot Pashinyan juga mengajukan diri untuk berperang melawan Azerbaijan dengan pasukan Azeri di Karabakh, AFP melaporkan.

Azerbaijan dan Armenia, keduanya tak mau mengalah merebutkan kekuasaan di sebuah daerah Nagorno-Karabakh.

Bahkan, Azerbaijan dan Armenia tak segan menurunkan masing-masing pasukannya untuk melakukan perang.
Perang yang dimulai sejak Soviet runtuh itu seperti tak berkesudahan.
Semakin kesini malah semakin meluas walau ada gencatan senjata tahun 1994.

Perang Armenia-Azerbaijan meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas di wilayah Kaukasus Selatan.

Mulai Brutal, Ratusan Orang Tewas dalam Pertempuran Armenia Vs Azerbaijan di Nagorno-Karabakh iragir.am
Pasalnya di zona perang terdapat koridor pipa yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia.
Terlebih NATO khawatir karena ada Turki dan Rusia yang bisa saja ikut campur dalam peperangan itu.

Sementara itu, dikutip Zonajakarta.com dari RRI, Pengamat Internasional yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) Arya Sandhiyudha, Ph.D mengatakan pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh karena wilayah itu memiliki potensi energi fosil (minyak bumi dan gas alam) yang luar biasa di wilayah tersebut. Sehingga membuat konflik ini turut melibatkan kekuatan besar di kawasan, seperti Rusia, Turki, dan ─░ran.

"Dalam peta hubungan luar negeri, konflik ini telah melibatkan negara-negara besar di kawasan, diantara sebabnya adalah potensi energi fosil yang luar biasa di wilayah tersebut. Ada Rusia, yang cenderung mendukung Armenia. Ada Turki, yang menggalang dukungan solidaritas dengan Azerbaijan," kata Arya dalam keterangan tertulisnya kepada rri.co.id, Minggu (3/10/2020).

Selain faktor sejarah, lanjutnya, karena ada pipa BTC Baku-Tblisi-Ceyhan yang melintas via Erzurum, untuk penyaluran energi fosil (minyak dan gas alam) antara laut Kaspia dan Laut Mediteran. Ada Iran, yang secara domestik juga memiliki ketegangan dengan 16 juta imigran asal Azerbaijan di Iran, serta kompetisi energi fosil (minyak dan gas alam) terkait pipa BTP.

Ia menjelaskan wilayah Nagorno-Karabakh ini secara prinsip hukum internasional merupakan bagian dari territorial Azerbaijan, namun secara demografik etnik mayoritasnya adalah Armenia.

Sehingga kenapa konflik ini sudah berusia panjang dan rumit karena ada dua penggunaan logika prinsip yang berbeda, asimetrik.

Arya yang merupakan peraih Doktor Hubungan Internasional dari Istanbul University, Turki ini kemudian menyebutkan akar konflik ini. "Akar konflik ini berlanjut karena pasca Sovyet runtuh, wilayah ini menuntut kemerdekaan dengan dukungan militer persenjataannya dari Armenia. Maka terjadilah proxy war antara Armenia dan Azerbaijan yang saling bertetangga secara geografis," terangnya.

Menurut Arya, konflik Nagorno-Karabakh musti segera disudahi karena sudah sangat banyak jatuh korban.
"Konflik ini telah menjadi perang panjang yang menyebabkan 17-25 ribu jiwa terbunuh, 1 juta pengungsi terusir, wilayah Azerbaijan lepas, dan sanksi PBB terhadap Armenia jatuh," harapnya.

Arya juga menyebutkan, status quo Nagorno Karabakh ini membutuhkan mekanisme multilateral seperti OSCE, Organization for Security and Cooperation in Europe, untuk mencapai skenario terbaik selain perang panjang.
Arya optimis, melihat adanya mekanisme multilateral yang masih tersedia saat ini tidak akan ada perang besar antara Armenia dan Azerbaijan.

"Negara-negara besar yang terlibat pasti dapat menemukan titik temu kepentingan mereka. Sehingga skenario paling mungkin perang parsial sejenak lalu kembali pada status quo perundingan.

Efektivitas diplomasi soal Nagorno Karabakh ini sangat bergantung pada komunikasi dengan negara-negara sekitar yang punya kepentingan, dengan tetap menjaga eksistensi dan dignity kedua negara (Armenia Azerbaijan) di mata internasional," pungkas Arya.(*)

Sponsored:
Loading...
Loading...