Breaking News

Ibarat Makan Kawan Sendiri. Begitulah yang Menimpa Gadis Berbaju Maroon Ini

Ibarat Makan Kawan Sendiri. Begitulah yang Menimpa Gadis Berbaju Maroon Ini
Foto Ilustrasi. (Tempo.co)

Kawan makan kawan atau Makan Kawan Sendiri. Begitu lah yang menimpa gadis berusia 16 tahun ini, Selasa dua pekan lalu. Ia pun tidak menduga sama sekali bakalan ditipu dan dijadikan tumbal oleh temannya sendiri berinisial MRA (17), hingga menjadi korban rudapaksa oleh sepuluh pria sepantaran MRA.

Hari naas itu, tidak dapat dilupakan gadis belia ini. Temannya tega menghianati kepercayaannya, bahkan menjadikannya tumbal pembayar utang-piutang senilai Rp300.000,-

Dari petugas kepolisian diketahui, awalnya MRA tidak sanggup membayar utangnya kepada MS (18). Lalu MS bersedia menghapus utangnya, asal MRA membawakannya seorang perempuan untuk melampiaskan nafsunya.

MRA pun menyanggupinya. Dan membawa gadis berbaju maroon, temannya sendiri ke lokasi yang disepakati di sebuah rumah kosong di salah satu gampong di Langsa, sekira pukul 20.30 WIB. MS dan satu pelaku lainnya berinisial BK (19) sudah menunggu MRA di rumah kosong itu.

Petugas kepolisian tidak menjelaskan lebih detail, hanya saja, gadis berbaju maroon ini setelah 'dimakan'  MS, kemudian sembilan pria lainnya ikut menyicipi. Kesepuluh pria itu, ada yang masih anak berusia 15 tahun. Miris memang dengan kelakuan anak-anak sekarang ini, kata beberapa ibu-ibu yang geram membaca beritanya.

Dan masih dari kepolisian Polres Langsa, mengungkapkan bahwa pihak keluarga korban melaporkan kejadian rudapaksa ke polisi dan tidak lebih dari 1 x 24 jam pelaku diciduk polisi. Barang bukti pun diamankan dari lokasi kejadian, termasuk baju berwarna merah maroon, jilbab korban, juga dalamannya yang berwarna serupa. Dari sepuluh pelaku,  dua diantaranya menyerahkan diri, sedangkan BK buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kapolres Langsa AKBP Agung Kanigoro Nusantoro didampingi Kasat Reskrim Iptu Arief Sukmo, menyebutkan penyidik kepolisian menerapkan Pasal 47 Sub Pasal 46 dan atau Pasal 50 Sub Pasal 48 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat Sub Pasal 55 KUHPidana Sub Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

"Para pelaku diancam kurungan penjara paling singkat 150 bulan atau 12 tahun setengah dan paling lama 200 bulan atau 16 tahun delapan bulan," ungkap Kapolres.

Sementara itu, dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh,  mengakui mereka prihatin dengan kejadian tersebut. Padahal, sejak beberapa tahun lalu, pihaknya telah mengampanyekan atau memberikan edukasi ke sekolah-sekolah tentang berinternet sehat.

Mengapa? Hal ini berdasarkan hasil survei dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, mengungkapkan ada 65,34 persen anak usia sembilan hingga 19 tahun yang menggunakan gawai untuk menonton konten pornografi, baik disengaja atau tidak.

Kadis P3A Aceh, mulai dari Dahlia. M. Ag., hingga Nevi Ariyani, gencar ke sekolah memberikan edukasi kepada anak usia dini, soal bahaya berinternet tak sehat, makanya mereka tak bisa berpangku tangan lagi.

"Masalahnya, segencar pihaknya memberikan edukasi tentang upaya peningkatan perlindungan dari bahaya pornografi, lebih cepat anak-anak membuka gawainya, sehingga angka kasus anak di bawah umur menjadi pelaku pelecehan seksual tidak dapat ditekan," kata Nevi.

Angka dan kasus pelecehan seksual. Kali ini, korbannya gadis berbaju warna merah maroon. Kali lain, entah siapa lagi yang bakalan rusak masa depannya. Entahlah...Yang pasti bijak lah, wahai gadis memilih teman dan berani lah menolak ajakan ke tempat yang sepi. |DEC|

Editor:
Iklan BM Bank Aceh
Sponsored:
Loading...
Iklan BM DPRA
Sponsored:
Loading...