Breaking News

Bank Aceh

Gema Tadarus Subuh di Masjid As-Sadaqah

Gema Tadarus Subuh di Masjid As-Sadaqah
Tadarus di Masjid | foto r ismail

PADA bulan suci Ramadhan, masyarakat di sentero Provinsi Aceh disibukkan dengan berbagai kegiatan ibadah.

Sebagaimana dilakukan warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, satu diantara tradisi peribadatan yang masih dipertahankan adalah membaca Al-Quran (tadarus) di meunasah (surau) dan masjid.

Di Mushalla Al-Muhajirin Lamlagang dan Masjid Jami’ As-Sadaqah Lamlagang, misalnya, hingga kini tradisi membaca Al-Quran secara bersama-sama masih tetap dipertahankan.

Pada Ramadhan 1441 H ini setiap hari sejak awal Ramadhan, Jumat 24 April 2020, sejumlah jamaah masjid peninggalan serta mengabaikan isu wabah virus corona (Covid-19) serta kegiatan lain itu.

Warga disibukkan dengan ibadah puasa di siang hari dan shalat tarawih di malam hari serta dilanjutkan dengan tadarusan Al-Qur’an bagi kaum laki-laki.

Tadarus tidak hanya dilakukan kaum pria dewasa dan remaja di malam hari. Tapi hal sama juga banyak dilakukan kaum hawa (ibu-ibu) seusai shalat fardhu Subuh, kaum ibu melantukan ayat-ayat Al-Qur’an secara bergiliran atau tadarus.

Tadarus tidak hanya dilakukan ustadz atau takmir masjid saja, bahkan anak-anak hingga kaum hawa pun ikut melakukan kegiatan keagamaan tersebut.

“Ini merupakan kegiatan rutin jamaah masjid setiap Ramadhan. Biasan kegiatan ini berakhir pada malam ke 27,“ kata Imum Chik (Imam Besar) Masjid As-Sadaqah Tgk.H.Marhaban, Rabu, 6 Mei 2020. 

Pria yang disapa dengan nama Cek Ban itu mengatakan, di Lamlagang khususnya dan umumnya jamaah laki-laki melakukan tadarus Al-Qur’an pada malam hari usai shalat wajib dan tarawih hingga pukul 24:00, bahkan ada yang sampai menjelang sahur. Sementara kaum perempuan membaca Alquran pada pagi hari usai shalat subuh hingga pukul 08:00.

Di beberapa meunasah (surau) dan masjid, peserta tadarus laki-laki secara bergantian membawa kopi, teh dan minuman serta makanan untuk dinikmati para jamaah tadarus.

Namun tidak jarang minuman dan makanan disediakan warga sekitar yang mau bersedeqah.

Bahkan, ada beberapa Masjid dan Surau yang melakukan Tadarus sesuai dengan makna tadarus yakni mengkaji atau mentelaah.

Disamping itu, dalam kegiatan itu peserta diajarkan cara membaca Alquran memakai ilmu tajwid, tentang melafalkan huruf, kefasihan kalimat, sampai pada hukum-hukum kapan boleh, harus dan kapan dilarang berhenti. “Kami tidak berkutat pada cara melafalkan ayat-ayat dan jumlah khatamnya,“ sebut seorang jamaah Tadarus.

Generasi Cinta Alquran

Tradisi serupa juga dilakukan di Mushalla Desa Lhong Cut, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Menurut seorang jamaah masjid, setiap Ramadhan warga di perkampungan itu senantiasa aktif menggelar tadarus Alquran bersama.

“Setiap malam sejak awal Ramadhan sebagian para jamaah mulai dari anak-anak hingga orang dewasa rutin tadarusan. Kegiatan ini dilakukan secara turun temurun sehingga masih tetap bertahan. Kita tentu khawatir jika tadarus tidak ada lagi, maka Alquran sebagai sumber ilham menjadi terasing di zaman modern sekarang ini,“ katanya. 

Berbeda dengan bulan lainnya, Ramadhan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Menurutnya, Ramadhan selalu mengandung kebaikan dalam setiap detiknya, karenanya akan sangat baik jika diisi dengan berbagai ibadah.

“Tidak heran jika seluruh umat muslim di selurtuh jagat raya berlomba-lomba mendapatkan pahala, termasuk tadarus,“ katanya.

“Selain itu untuk memberikan kesempatan kepada jamaah yang telah lancar membaca Alquran mengkhatamkan secara berjamaah, dan manfaat lainnya,“ tambahnya.

Tidak hanya sekedar rutinitas semata, kegiatan mengkaji Alquran pada bulan Ramadhan kerap diperlombakan. Seperti yang pernah dilaksanakan muda mudi Remaja masjid Kampung Lamlagang di Masjid Jami’ setempat.

Di Mushalla Al-Muhajirin Lamlagang, Tadarus Al-Quran umum kaum remaja bahkan anak-anak. Itu, dilakukan untuk mempertahankan tradisi tadarus Alquran. Selain itu bertujuan mempertahankan genarasi muda cinta Alquran.| r ismail |

Sponsored:
Loading...