Breaking News

Dituding  Raup Rp 50 Milyar Lebih Saat Migrasi, Ini Penjelasan Manajemen BSI Aceh

Dituding  Raup Rp 50 Milyar Lebih Saat Migrasi, Ini Penjelasan Manajemen BSI Aceh

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Kendati berbagai isu miring dilanda PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Aceh, namun pihak lembaga keuangan syariah itu tetap bekerja maksimal dan meminta dukungan dari semua pihak. Sehingga berbagai proses operasional masa transisi berjalan lancar. "Kami mohon dukungan semuanya," pinta Head of Corporate Communication BSI, Eko Nopiansyah kepada beritamerdeka.net Kamis 10 Juni 2021.

Sejumlah keluhan dan informasi liar yang berseleweran diterima media ini, langsung dikonfirmasikan dengan pihak manajemen BSI Aceh. Misalnya, persoalan informasi tentang pemotongan Rp 50 ribu setiap melakukan migrasi. Jika jumlah nasabah BSI seluruh Aceh mencapai 1,1 juta, artinya total dana masyarakat yang diraup mencapai Rp 50 milyar lebih. "Tidak benar begitu, itu informasi salah," bantah Eko Nopiansyah.

Sebenarnya, jelas Eko, dana Rp 50 ribu itu adalah batas minimum saldo nasabah di rekening. Jadi tidak ada pemotongan dana saat melakukan migrasi."Saldo di dalam tabungan sebesar Rp 50 ribu itu merupakan batas saldo menimum," tegasnya lagi.

Karena itu, mengimbau para nasabah tidak perlu khawatir dengan hal itu karena dana tidak akan hilang dan  terpotong. Dengan proses migrasi selesai, nasabah dipastikan akan lebih aman dalam melakukan transaksi di BSI. Pihaknya terus melakukan migrasi ditengah pandemi saat ini, tentu dengan mengikuti prokes yang ketat. Migrasi itu sendiri akan berlangsung hingga 30 Juni 2021.

Ketika ditanya menyangkut dengan isu ATM sering kosong, Eko Nopiansyah mengakui ketika menjelang hari raya dulunya. Hanya ATM eks BRIS yang bermasalah waktu itu. Setelah pihak manajemen menurun tim IT sebanyak 31 orang, begitu pun menyangkut dengan transaksi dengan pihak bank konvesional sudah berjalan baik.

Sebelumnya, media ini juga sudah memberitakan menyangkut  sistem operasional layanan migrasi di wilayah Aceh yang  berlangsung mulai7 Juni 2021 dan meminta masyarakat tidak perlu panik dalam proses penyatuan sistem tersebut.

"Kami minta masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik, karena Integrasi sistem ini bertujuan memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah dan standarisasi model operasional serta layanan di seluruh outlet BSI di Aceh," kata Wakil Direktur Utama I BSI, Ngatari di Banda Aceh, Senin 7 Juni 2021.

Ia menjelaskan integrasi yang dilakukan di Aceh merupakan yang keempat dan penyatuan tersebut merupakan komitmen perusahaan mendorong pengembanga keuangan syariah dan meningkatkan literasi masyarakat.

Ia mengatakan proses migrasi di Aceh ini akan dilaksanakan secara maksimal dan akan meminimalisir berbagai kendala yang pernah terjadi pada daerah sebelumnya.
"Artinya, berbagai upaya telah kita siapkan dengan baik dan Insyaallah di Aceh akan berjalan dengan lancar," katanya.

Regional CEO BSI Aceh Nana Hendriana mengatakan Proses integrasi Sistem Operasional dan layanan di Aceh merupakan salah satu dari proses roll out BSI.

Dalam proses integrasi sistem operasional layanan ini, selain fokus ke layanan ke nasabah, BSI juga tetap berusaha menjaga compliance dalam proses migrasi.
"BSI juga telah mempersiapkan teknis untuk mengoptimalkan dan mempercepat layanan migrasi di wilayah Aceh. Integrasi sistem operasional dan layanan akan ditandai dengan proses auto migrasi yang  dilakukan mulai 7 Juni 2021," katanya.

Ia mengatakan penyatuan sistem layanan di Aceh ini mencakup migrasi rekening nasabah, kartu ATM, hingga mobile dan internet banking. Perseroan pun menjamin proses tersebut mengedepankan kenyamanan dan keamanan data nasabah. ( tarmilin usman )

Sponsored:
Loading...