Breaking News

Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Konsultan Pengawas Lapangan Janji Memperbaiki

Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Konsultan Pengawas Lapangan Janji Memperbaiki
Esvacator mengisi batu ke dalam beronjong di bibir Sungai Lawe Alas. (Foto Pardi)

Kutacane, BERITAMERDEKA.net - Pembangunan beronjong untuk pengamanan tebing sungai Lawe Alas, Aceh Tenggara (Agara), diduga  kualitas pengerjaan proyek penahan tebing asal jadi.

Pemasangan beronjong ini dilakukan di bibir Sungai Lawe Alas, Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara oleh PT Mutiara Aceh dengan nomor kontrak PB.02.01/BWS 1.7.2/82, dan tanggal kontrak 01 Februari 2021 yang bersumber dari dana APBN.

Pantauan awak media, Rabu kemarin, di lokasi pemasangan beronjong tepi sungai, melihat pengisian batu beronjong tersebut mengunakan alat berat eskavator, dan diikuti sejumlah tenaga kerja untuk merapikan batu yang dimasukan oleh alat berat tersebut, dan pengisian bronjong itu, terlihat mengunakan batu sebesar kelapa.

Selain itu, ada beberapa titik beronjong yang sudah siap, tetapi tidak diikat atau tidak dikunci sebagai mana harusnya. Tak hanya itu, beronjong baru langsung ditimpa dengan beronjong berikutnya, tanpa di kunci.

Belum lagi, di papan proyek tidak tercantum pagu anggaran beronjong tersebut, hanya terlihat nama perusahaan, nomor kontrak, dan sumber dananya.

Terkait dugaan pekerjaan pemasangan beronjong asal jadi. Aktivis Mahasiswa Teknik Sipil AL Mujawadin, kepada awak BERITAMERDEKA.net, Kamis (1/4/2021), mengatakan sistem dan metode teknik pengerjaan proyek pada pekerjaan pondasi dasar bronjong diduga dikerjakan asal jadi.

Al Mujawadin menilai pemasangan pondasi dasar diragukan dengan kedalaman seperti itu, akibatnya  sewaktu penguncian kawat bronjong tidak mungkin bisa dilakukan oleh pekerja, karena lokasi proyek digenangi air dan ditengarai kualitas pondasi dasar tidak bisa dijamin dengan sempurna.

Padahal seharusnya, sebelum kawat bronjong tersebut di isi dengan material batu, seharusnya kolam pondasi harus kering, sehingga kawat bronjong dapat dilakukan penguncian, ujarnya

Ditambahkannya, fakta nya banyak batu kerikil dan pasir masuk ke dalam kawat bronjong. Bahkan sebagian kawat bronjong tersebut, terlipat, disebabkan oleh timbunan batu dan kerikil, serta  pondasi dasar bronjong tidak kokoh, jelasnya.

Antara beronjong di dasar dengan di atasnya tidak diikat atau dikunci. (Foto Pardi)

Ketika dikonfirmasi ke pihak perusahaan. Irwandi. ST.,  sebagai Konsultan pengawas lapangan, mengatakan proyek itu dari Balai Wilayah Sungai Sumatera-1 Propinsi Aceh, jadi mengenai pengisian beronjong itu, memang betul memakai alat berat, mulai dari pondasi beronjong sampai rata dengan tanah. Namun setelah rata dengan tanah, pengisian beronjong menggunakan sistem manual.

Batu untuk isian beronjong merupakan batu pilihan dari galian C di Desa Buah Pala, yang diangkut armada Damtruk dan ditumpukan didekat proyek, sebutnya

"Kita tidak mau mengambil batu yang tidak memiliki ijin galian C, dan galian C di Buah Pala itu, memiliki ijin, “ katanya

Kata Irwandi, beronjong yang belum diikat atau belum dikunci itu akan kita perbaiki, dan mengenai pagu proyek itu tidak ditampilkan di papan plang, karena masih pagu sementara. Dengan kata lain, pagu Rp 28 miliar, kemungkinan di potong untuk covid-19.

"Pagunya sebesar Rp 28 Milyar,  tau-taunya ada pemotongan untuk Covid, yang jelas itu tim Propinsi yang tau”, ujarnya

Ditempat terpisah, Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (P2TSP) Aceh Tenggara, Ir. Edi Suriadi, menyebutkan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang resmi ada 4 (empat) perusahaan, keempat perusahaan itu tidak ada satupun alamatnya di Buah Pala, tutupnya. | Pardi Alas|

Editor:
Iklan BM Bank Aceh
Sponsored:
Loading...
Iklan BM DPRA
Sponsored:
Loading...