Breaking News

Cara 'Langit' Mendidik Nova 

Cara 'Langit' Mendidik Nova 

Oleh : Sulaiman Datu

ENTAH mengapa, pelantikan Nova Iriansyah sebagai Gibernur Aceh  dipilih tanggal 5. Barangkali agar memiliki kenangan dengan tanggal pelantikan Irwandi - Nova, tiga tahun lalu, yang juga jatuh pada tanggal 5.

Dalam pidato tiga tahun lalu, Gubernur Aceh memulai tugas sebagai pemimpin Aceh, dipahaminya sebagai pemegang tugas berat. Salah salah  bisa saja tergelincir jadi musibah, dan karena itu disertai kalimah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”.

Satu tahun kurang dua hari, musibah itu datang menjemput. KPK melakukan OTT pada 3 Juli 2018 terhadap Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Sejak itu, tugas memimpin Aceh yang memang berat sejak di tahun pertama, menjadi semakin berat, hingga saat ini.

Tugas berat itu juga diemban oleh Nova Iriansyah. Sebagai wakil, dirinya harus mewakili untuk menghadiri sidang interpelasi yang berakhir pada penolakan DPR Aceh.

Peristiwa dua tahun lalu itu bisa jadi cara “langit” mendidik Nova agar memiliki mental sebagai seorang gubernur. Terbukti, ketika peristiwa politik interpelasi berulang dan menimpa dirinya, Nova dengan tenang hadir mendengar “penghakiman” DPR Aceh.

Nova tidak hanya berat menghadapi “gempuran” politik dari dalam gedung DPR Aceh, tapi juga cukup berat mengahadapi “tembakan” politik dari luar gedung DPR Aceh.

Syukurnya, meski digempur kiri - kanan, Nova bisa dibilang menjadi pemimpin yang membawa berkah bagi demokrasi. Hanya di masa Nova, sampai detik ini, belum ada warga yang diserang balik oleh penerintah secara langsung hanya karena sebuah kritik.

Juga sampai saat ini belum ada pimpinan media yang “dipaksa” untuk menyampaikan permintaan maaf karena kerja jurnalistiknya. Bahkan, ASN yang menghujatnya pun tidak mengalami “musibah”, begitu pula dengan lainnya.

Saya jadi teringat dengan naskah pidato Perdana Menteri GAM, yang kini menjadi Wali Nanggroe tentang visi demokrasi sejati. Dikatakan, jalan satu-satunya untuk menjamin perdamaian di Acheh adalah dengan melalui pelaksanaan demokrasi yang sejati.

Dijelaskan, demokrasi sejati tidak membatasi ruang pemikiran-pemikiran, ia justru menggalakkan berkembangnya berbagai pemikiran.
Dan demokrasi yang sejati tidak berlutut di hadapan kekerasan – ia adalah alat untuk mengakhiri kekerasan dan ketidak-adilan.

Saya berharap, di sisa masa jabatan dari periode 2017 - 2022, Nova masih tetap menjaga ruang bebas demokrasi di Aceh. Riuh memang, tapi dengan cita-cita mewujudkan demokrasi sejati, keriuhan itu haruslah dilihat sebagai orkestra yang pada waktunya akan indah untuk di dengar.

Kita di Aceh yang pernah hidup di zaman kekerasan, tentu sangat tidak enak walau hanya mencermati dinamika politik nasional yang berakhir dengan pengintelan, penangkapan, dan bahkan diwarnai aksi kekerasan disetiap aksi menyampaikan pikiran.

Saya tidak tahu mengapa dalam pengajian diacara pelantikan Nova hari ini dipilih Surat Ali Imran ayat 26: “Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki...”

Barangkali DPR Aceh ingin mengingatkan dalam hidup ini, termasuk dalam semua peristiwa politik tidak ada yang tidak mungkin terjadi, semuanya mungkin terjadi dan semua yang terjadi sudah pasti atas izin dan kehendakNya.

Kembali kepada naskah Malik Mahmud, perdamaian yang diindikasikan dengan demokrasi sejati, menjadi syarat menjemput keadilan, dan Nova telah memulai tradisi yang memungkinkan semua bisa bersuara tanpa rasa takut, bahkan untuk politik "teumeunak"!

Selamat bertugas Pak Gubernur Aceh..

Penulis Adalah : Ketua Harian J.P.K.P (Jaringan Pemantau Kebijakan Pemerintah) dan Ketua Tim Monitoring SATGAS PPA (Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Aceh)

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...