Breaking News

Berbuka dengan Kuah Beulangong Merajut Silaturrahim

Berbuka dengan Kuah Beulangong Merajut Silaturrahim

BEBERAPA warga menyiapkan masakan daging Kuah Beulangong, menu khas Aceh Besar, dalam 2 kuali ukuran besar yang dimasak komplek Masjid Al-Muhajirin, Dusun Satu Raja Djali, Desa Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. 

Kuah beulangong adalah masakan khas Aceh yang bahan utamanya bisa daging sapi, daging kambing, atau daging kerbau dicampur dengan buah nangka, atau ada juga yang menggunakan pisang kepok dan juga buah labu air.

Kepala Lorong (Keplor) Dusun Raja Djali, Kapri kepada BERITAMERDEKA.net, Kamis 14 Mei 2020 lalu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk berbuka pusa bersama mengataka, pada Ramadhan 1441 Hijriyah tahun ini hanya kuah beulangong dimasak dua kuali untuk persiapan buka puasa bersama di masjid saja.

Hal itu dilakukan karena kondisi ekonomi masyarakat yang kurang mendukung untuk melakukan kenduri kuah beulangong secara besar-besaran yang dibagikan kepada seluruh warga kampong.

“Faktor ekonomi masyarakat akibat dampak wabah virus Corona (Covid-19) menyebabkan khenduri ada kadar saja (sederhana),“ keluh Kapri.

Hal itu jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pihak panitia menyiapkan kuah beulangong hingga 8 beulanga besar. Karena setelah makanan ini masak, dibagikan atau diambil warga untuk disantap di rumahnya. Selebihnya tinggal di Masjid untuk disantap bersama dalam acara buka puasa bersama.

Di sela-sela menyiapkan menu berbuka puasa bersama, Kapri mengatakan, khenduri yang disiapkan itu adalah sumbangan masyarakat (meuripee-Aceh).

“Mulai memasak hingga menyiapkan menunya dilakukan warga dengan bergotong royong,“ katanya.

Silaturrahmi dan gotong royong warga gampong pinggiran Sungai Daroi itu masih berjalan baik. Setelah bekerja bersama, mereka juga akan berbuka bersama.

“Kita juga mengundang sejumlah orang dari Dusun tetangga untuk berbuka di sini,“ sebut Kapri.

Buka puasa bersama merupakan bagian tak terpisahkan sejak masa turun temurun di Dusun Satu Raja Djali, Gampong Lamlagang. Tradisi yang unik ini untuk memperkuat ukhuwah Islamiah dalam mempererat tali silaturrahmi sesama warga.

Kebiasan dalam khenduri buka puasa bersama ini sebagai bentuk kebersamaan dalam tradisi yang terus dilaksanakan baik pada bulan Ramadhan maupun khenduri lainnya karena nikmatnya rasa kuah beulangong di Gampong Lamlagang membuat para tamu tergiur untuk menikmati kembali rasa kuah beulangong yang menggoyang lidah. 

Tradisi kuah beulangon itu sering dijadikan kegiatan puncak acara dari berbagai kegiatan sehingga jika belum menikmati kuah beulangong khas gampong Lamlagang, para tamu enggan beranjak dari lokasi makan kuah beulangong. Bahkan, terkadang, sejumlah tamu yang datang langsung menanyakan soal kuah beulangong seakan berharap bisa mencicipi menu lezat kuah beulangong khas Atjeh Rayeuek itu.

Selain Dusun Raja Djali Lamlagang, gampong lainnya juga melakukan tradisi yang sama ketika bulan Ramadhan tiba para warga berumbuk menentukan jadwal berbuka puasa bersama sehingga jadwal kegiatan tidak beradu. Semua gampong bisa saling berbagi dalam perhelatan tahunan itu.

Di sisi lain tradisi khenduri gampong itu erat sekali kaitannya dengan memperkuat tradisi silaturrahmi sesama warga. Saling memaafkan satu dengan lainnya kerap terjadi dalam khenduri itu.

Sehingga, kata warga gampong lainnya, tradisi memaksa dan menikmati kuah beulanga dalam bulan Ramadhan dan hajatan lainnya di desa atau gampong perlu tetap dipertahankan untuk ketahanan warga menjaga perdamaian di masing-masing gampong (desa).

Khenduri dan berbuka bersama bulan Ramadhan di Kampung Lamlagang, juga dirangkai ceramah agama dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an, usai ibadah shalah tarawih berjamaah di meunasah. Kegiatan rutin lainnya dilakukan warga Lamlagang dalam bulan puasa seperti menyantuni anak yatim.

“Santunan yang kita serahkan jelang akhir puasa itu juga hasil sumbangan masyarakat kampung,“ ujarnya.| R. Ismail |

Sponsored:
Loading...
Loading...