Breaking News

Bank Aceh Komit Dukung Investasi 

Bank Aceh Komit Dukung Investasi Ist..
Melayani Nasabah

Banda Aceh, BeM - Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Bank Aceh berkomitmen mendukung pengusaha berbisnis dan berinvestasi di Aceh melalui penyaluran pembiayaan produktif. Aktivitas bisnis diharapakan menciptakan iklim investasi yang mampu menghasilkan barang dan jasa serta memberikan akses terhadap lapangan kerja bagi masyarakat.
Demikian dikatakan Direktur Dana dan Jasa PT Bank Aceh Syariah, Amal Hasan. Lebih lanjut dikatakannya, di tengah gempuran investasi asing di Indonesia, Bank Aceh Syariah sebagai salah satu perbankan daerah di tanah air memiliki tanggung jawab moral dalam mendukung roda perekonomian, khususnya di Aceh. "Bank Aceh memprioritaskan pengusaha lokal untuk mengambil bagian dalam menjalankan aktivitas bisnis. Orientasi Bank Aceh tentunya tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga aspek sosial," kata Amal.
Dikatakan Amal, merujuk data Kajian Ekonomi Regional Provinsi Aceh yang dirilis oleh Bank Indonesia, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Aceh pada Desember 2019 lalu berada di kisaran 6,2%. Meski mengalami penurunan bila dibandingkan periode tahun sebelumnya, yaitu 6,38% hal tersebut, kata Amal, telah memberikan sinyal bagi perbankan untuk mendukung investasi yang hadir di Aceh.
Selain itu, lanjut Amal, tingkat kemisikinan sebesar 15,01% pada September 2019, mendorong Bank Aceh untuk lebih proaktif dalam mendukung program pemerintah Aceh melalui pembiayaan di sektor riil yang memiliki dampak luas bagi masyarakat. "Kami berharap lebih banyak muncul pengusaha lokal yang berorientasi pada aktivitas ekspor dan impor," ujar Amal. Selain, membuka lapangan kerja, skala bisnis yang besar dapat memberikan multiplier effect yang lebih luas bagi perekonomian.
Prinsip Kehati-hatian.
Dalam menjalankan aktivitas bisnis, lanjut Amal, Bank Aceh selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) sebagaimana yang berlaku lazim pada industri perbankan. "Industri perbankan tidak lepas dari regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku otoritas mikroprudensial dan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas makroprudensial," ujarnya.
Dijelaskan Amal, dalam penyaluran pembiayaan, terutama kepada korporasi, Bank Aceh tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menggunakan four eye principle, dimana setiap keputusan pembiayaan melibatkan sinergi antara unit bisnis yang bertangggung jawab dalam studi profitabiitas dan unit risiko yang bertanggung jawab dalam profil risiko.
Di samping itu, lanjut Amal, seluruh bank yang menjalankan aktivitas di Indonesia juga memiliki prosedur yang relatif sama terkait penyaluran pembiayaan skala besar. Di antaranya adalah penggunaan akuntan publik dalam penyusunan laporan keuangan nasabah. Artinya, laporan keuangan nasabah yang digunakan oleh pihak bank akuntabel dan telah sesuai dengan standar akuntansi yang disusun dan diterbitan oleh dewan standar akuntansi keuangan ikatan akuntan Indonesia (IAI).
Selanjutnya, terhadap penillaian agunan calon nasabah, pihak bank menggunakan dasar penilaian dari kantor jasa penilai publik (KJPP) yaitu badan usaha yang telah mendapat izin usaha dari Menteri sebagai wadah bagi penilai publik dalam memberikan jasanya. "Penilaian terhadap objek agunan yang dilakukan oleh KJPP megikuti kaidah yang telah ditetapkan dalam standar penilaian Indonesia," ujar Amal.
Selain itu, dalam menjalankan aktivitas bisnisnya bank selalu diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara reguler, begitupun lembaga lainnya seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Akuntan Publik, dan lembaga independen lainnya.
"Implementasi good corporate governance telah menjamin independensi Bank Aceh dalam melaksanakan ativitas bisnis tanpa ada intervensi dari pihak manapun," pungkas Amal.
Dukungan Pembiayaan UMKM
Sebagai bank daerah, dikatakan Amal, Bank Aceh terus berkomitmen dalam mendorong sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk tumbuh secara tangguh dan kontiniu. Dikatakan, portofolio pembiayaan UMKM pada Bank Aceh mengalami pertumbuhan 5% pada Desember 2019 lalu, sehingga selama dua tahun terakhir realisasi pembiayaan UMKM tumbuh menjadi 13%.
"UMKM saat ini menjadi prioritas Bank Aceh, karena menjadi sektor dominan dalam memberikan konstribusi bagi pertumbuhan perekonomian daerah maupun nasional. Optimalisasi pembiayaan akan kami galakkan pada sektor pertanian, perikanan, perkebunan, kelautan, pariwisata dan perdagangan," ujar Akmal.
Terkait strategi penyaluran pembiayaan UMKM, Bank Aceh teleh melakukan sinergi dengan sejumlah pihak, seperti Pemerintah Aceh, Regulator (BI,OJK-red), Akademisi,ulama, inkubator bisnis, dan lembaga pengembangan lainnya. "Referensi dari sejumlah pihak dimaksudkan sebagai upaya mendorong pembiayaan yang berkualitas berbasis potensi ekonomi yang dimiliki oleh setiap daerah," lanjut Amal.
Selain itu, para pelaku usaha juga diberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas soft skill melalui sejumlah pelatihan. Aksesbilitas modal dan soft skill diharapkan dapat menumbuhkan pengusaha yang handal, sehingga akselerasi perekonomian dapat berkesinambungan.

Dikatakan Amal, pada tahun 2019 Bank Aceh telah memberikan pelatihan soft skill kepada 3.000 pelaku UMKM yang tersebar di seluruh Aceh.

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...