Breaking News

Bank Aceh

Asa Di Laut, Kecewa di Darat

Asa Di Laut, Kecewa di Darat

BERITAMERDEKA.net - Selama Ramadhan 1441 Hijriyah tahun ini, hasil tangkapan para nelayan yang bertangkahan di Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh, dilaporkan sangat menurun dan bahkan sangat sedikit, sehingga suasana di pusat pendaratan ikan itu nyaris sepi.

Menyusul hasil tangkapan nelayan yang sangat sedikit itu telah berimbas pula pada kenaikan harga ikan begitu melonjak. Selain hasil tangkapan sangat sedikit itu, juga nelayan yang beraktivitas masih sedikit, tingginya harga ikan di pasaran karena disebabkan masih banyak nelayan yang tidak melaut selama Ramadhan karena mereka fokus menjalankan ibadah puasa. 

Namun, dengan harga ikan yang begitu mahal menyebabkan sejumlah nelayan begitu menggebu ketika mulai melaut kembali. Namun, niat mereka yang menggebu asa di laut, tapi sampai ke tepi penuh kecewa karena hasilnya sangat sedikit bahkan tak ada sama sekali.

Sebagai yang dialami Ruslan (55), seorang nelayan tradisional. Setelah hampir sepekan tak melaut, menggebu harapannya untuk mendapatkan hasil tangkapan. Apalagi terbayang harga yang agak melayang.

Petang hari dia bersama tiga rekannya sudah sibuk menyiapkan perahu, jaring, memeriksa mesin, menyediakan perbekalan untuk berbagai kebutuhan ketika berada di tengah laut nanti. Melaut, berarti bekerja keras, fisik harus kuat, apalagi mereka sedang melaksanakan ibadah puasa. Ditambah lagi berada di tengah hamparan air yang luas di tengah lautan yang sering mendatangkan maut.

Harga ikan yang sedikit jumlahnya beredar di pasar ikan mencapai Rp.50.000 per kg (untuk ikan biasa). Ikan tambak jenis bandeng dan udang mendominasi tatkala sepinya ikan laut. Untuk harga bandeng mencapai Rp.40.000 per kg, dan udang Rp.50.000 per kg-nya.

Terbayang akan harga ikan yang mahal itu. Ruslan begitu bersemangat ketika berada di tengah laut. Setidaknya, dengan hasil tangkapan ikan sebanyak 20 kg, dia dan dua teman melautnya bisa mendapatkan uang banyak.

Padahal, hasil tangkapan yang banyak dan harga yang bagus adalah impian semua nelayan. Namun mereka juga tahu, harga ikan tidak selamanya sama, seperti juga harga cabai yang sering mengalami perubahan.

“Kalau saja saya mendapatkan sedikit banyak ikan dan harga yang lumayan, maka akan menutupi utang dan keperluan lainnya selama hari raya,“ katanya kepada penulis, Rabu 13 Mei 2020 di Lampulo.

Ruslan, mengaku kecewa. apalagi biaya operasionalnya tergolong cukup besar. Mereka harus menutupi biaya perahu mesin dengan menghabiskan sekira 10 liter bensin atau solar. Biaya itu bisa sedikit ditekan kalau bensin itu dicampur dengan minyak lampu atau solar. Itu belum lagi semalaman mereka di tengah laut, yang menyibukkannya dari petang kemarin.

Hari-hari yang dilalui lelaki beranak tiga itu tidaklah begitu menyenangkan di rumah yang sangat sederhan tidak dapat berbuat banyak. Lebaran baginya tidak lebih sebagai melepas lelah setelah bertahun-tahun melaut dan menjalani puasa Ramadhan.

Kekecewaan itu tidak saja dirasakan Ruslan, tapi sejumlah nelayan lainnya, seperti Apa Raman, Munir, dan sejumlah mereka yang menepikan perahu mesinnya pagi tadi.

“Memang dalam beberapa hari ini ikan masih begitu diminati. Orang-orang sudah agak jenuh dengan daging yang dibeli pada hari meugang dimakan selama menjalani puasa,“ ucap Raman.

Mereka memang tidak pernah putus berharap, karena Allah yang memberi mereka tenaga untuk terus bekerja. Allah pula yang terus menghidupkan mereka, sehingga ikan selalu ada di pasaran. Tentangan-tantangan memang tidak pernah sepi, termasuk ketika mahalnya BBM, sehingga pernah membuat mereka tidak bisa beroperasi. | r ismail |   

Sponsored:
Loading...