Breaking News

Bank Aceh

Anggota DPRA Usulkan Proses Belajar Dikombinasikan, Tatap Muka dan Virtual

Anggota DPRA Usulkan Proses Belajar Dikombinasikan, Tatap Muka dan Virtual
Anwar Husen

Banda Aceh, BERITAMERDEKA.net - Meskipun belum diterapkan secara resmi status Aceh sebagai daerah zona hijau Covid-19, sehingga tidak ada lagi rasa was-was bagi warga.

Namun, tampaknya masyarakat sudah mulai antusias sekali dalam beraktivitas sesuai bidan profesinya masing-masing.

Demikian kesan yang terangkum dalam pantauan BERITAMERDEKA.net dan dialog dengan beberapa warga masyarakat, Minggu 31 Mei 2020 di Banda Aceh.

Masyarakat secara umumnya sangat berharap keadaan normal segera kembali terwujud sehingga berbagai bidang dan sektor kegiatan dapat berjalan normal.

Seperti halnya bidang pendidikan yang hingga saat ini belum tau arah tujuan pelaksanaannya yakni masih tetap belajar di rumah. Ini hendaknya segera dapat berakhir dan kembali dapat belajar di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah. Demikian harapan masyarakat.

Dalam tatanan normal, kata mereka, semuanya bisa terlaksanak secara normal, tidak ada yang perlu dan harus diwaspadainya secara berlebihan. Meski kehati-hatian itu tetap harus terjaga.

Menyahuti hal dan harapan masyarakat itu, anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Anwar Husen,S.Pdi, MAP juga berharap, dalam tatanan yang baru akan diterapkan sejak 1 Juni 2020 besok, Pemerintah Aceh harus mengombinasikan Proses Belajar Mengajar (PBM) antara tatap muka dan virtual.

Hal itu dikatakan Anwar Husen dari Komisi VI DPRA, Jumat 29 Mei 2020.

Dia berharap Pemerintah Aceh, melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Pendidikan Dayah harus mengatur kembali sedemikian rupa agar di saat para pelajar dan santri belajar dalam kondisi normal sesuai dengan standar dan SOP Covid-19 dengan tidak mengenyampingkan Aceh sebagai Daerah Syariat Islam, kata Anwar.

Menyangkut pembagian jam belajar bagi siswa, sebutnya juga harus diatur dengan sedemikian rupa.

Disebutkan, penyediaan fasilitas-fasilitas seperti ruang belajar, penyediaan hand sanitizer, wastafel, sabun, dan kelengkapan akses internet, harus disediakan. 

Anwar Husen berharap hal itu dapat menjadi prioritas untuk didorong dalam masa new normal ini agar tidak ada lagi golongan yang termarjinalkan di bidang pendidikan. Sebelum hal itu terwujud. Pemerintah Aceh harus memikirkan program-program afirmasi, seperti program pendampingan guru ke rumah murid dan lainnya, “katanya.

Demikian juga pihak Dinas Pendidikan harus terus menggencarkan program peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan orang tua agar hal ini dapat berjalan efektif. Untuk standar pendidikan dan tenaga pendidikan juga harus disesuaikan.

Guru diharapkan dapat menjadi pihak yang secara aktif memantau keadaan murid mereka baik dalam kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani, sebutnya. | rusli ismail |

Sponsored:
Loading...