Breaking News

Pandemi dan Kisah Sepi Saksi Bisu Tsunami

Pandemi dan Kisah Sepi Saksi Bisu Tsunami

Bangkai kapal “raksasa” berbobot mati 2.600 ton itu kini teronggok sepi di tengah pemukiman warga Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Sebelum pandemi Covid-19, objek wisata “warisan” tsunami 2004 ini paling laku dan sering penuh sesak.

Kapal generator PLDT Apung yang memiliki panjang 63 meter dan luas 1.900 meter persegi itu adalah milik PLN. Pada Minggu 26 Desember 2004, sekitar pukul 8:45 WIB, kapal itu terseret sepanjang 2,4 km dari pantai Ulee Lheue ke daratan akibat bencana ganda gempa dan tsunami setinggi 9 meter.

Saat itu di perut kapal terpasang mesin pembangkit listrik berdaya 10,5 megawatt, berikut tujuh awak pekerja, dua warga Aceh, empat warga Kalimantan dan satu orang warga Medan.

“Yang selamat hanya warga Medan itu. Tapi sekarang ia trauma melihat air. Beberapa kali ditemui, ia tak mau bicara,” cerita Agus Hartanto, kordinator Kapal Apung, kepada BERITAMERDEKA.Net, Minggu 10 Januari 2021.

Pada 2010, mesin generator PLTD Apung dipindahkan dan pengelolaan kapal pun dialihkan ke Kementerian ESDM.

Kemudian, PLTD Apung berubah fungsi dari pembangit listrik menjadi objek wisata andalan Aceh. Kelak, kapal ini dikenal dengan nama Kapal Apung.

Kapal ini dibawa ke Aceh saat terjadi konflik pemerintah dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Pada 2012-2013, Kapal Apung direnovasi sehingga pengunjung bisa naik ke geladak kapal.

Sebagai area wisata baru, Kapal Apung sudah dilengkapi 2 menara, sebuah monumen peringatan, jalan setapak, dan air mancur.

Hingga kini Kapal Apung masih dirawat dan dijadikan objek wisata edukasi sejarah. Banyak wisatawan berkunjung ke kapal ini, baik dari pelosok nusantara maupun mancanegara. Keberadaan kapal ini seakan menggambarkan dan menceritakan betapa dahsyatnya musibah gempa tsunami enam belas tahun lalu.

“Tapi, sejak pandemi Covid-19, pengunjung sepi. Ekonomi warga anjlok. Biasanya, dalam sehari bisa ribuan orang datang ke sini,” kata Agus Hartanto.

Di sekeliling monumen, kini dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Tidak hanya itu, di lambung kapal juga terlihat banyak puing bersejarah untuk dijadikan alat bukti betapa dahsyatnya tsunami. Bahkan pengunjung bisa menonton video rekonstruksi terseretnya kapal tersebut.

Objek wisata Kapal Apung menyisakan banyak peristiwa menarik perhatian pengunjung untuk dijadikan objek wisata andalan di kota Banda Aceh.

Sezi, salah seorang pengunjung asal Padang, Sumatera Barat, mengaku terharu melihat Kapal Apung. "Ini merupakan kuasa Tuhan, ya, dari sini kita menyadari manusia tidak ada apa-apanya. Kapal seberat ini bisa dibawa air sejauh ini. Itulah jika Allah berkehendak," sebut Sezi kepada BERITAMERDEKA.Net.

Sezi baru pertama kali ke Banda Aceh. Ia datang dari Padang awal Januari 2021 dan menginap di rumah saudaranya di kawasan Lhoknga, Aceh Besar.

Siti Bilqis, pengunjung asal Kabupaten Pidie, melihat monumen Kapal Apung sangat baik untuk wisata sejarah.

"Ini pendidikan yang sangat berharga untuk adik-adik kita, terutama saya sendiri yang pada saat tsunami terjadi masih berumur satu tahun. Tapi, begitu melihat Kapal Apung, saya menyadari betapa hebatnya musibah itu," kenang Bilqis.

Kordinator Kapal Apung Agus Harianto, di ujung wawancara dengan BERITAMERDEKA.Net, berharap pandemi Covid-19 segera berlalu agar objek wisata saksi bisu gugurnya 200 ribu lebih syuhada Aceh dihumbalang tsunami, kembali ramai. “Biar ekonomi warga bangkit kembali,” tutup Agus. | ROMADANI |

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...