Breaking News

Mengenang Romantisme Kejayaan Jengek di Masa Free Port

Aku Senang Jadi Anak Seorang 'Jenggo'

Aku Senang Jadi Anak Seorang 'Jenggo'
Teks Foto: Pelabuhan Ulhee Lheue tahun 1890. (Foto koleksi Tropen Museum, Belanda)

Masih kental dalam ingatanku saat menanti kepulangan ayah dari Sabang, Pulau Weh, di masa kejayaan Free Port Sabang tahun 1970 - 1980 an. Memori itu tiba-tiba menguak kembali ke masa-masa kecilku yang lucu, indah, dan penuh warna ketika aku menjejakkan kaki di Pelabuhan Pantai Cermin (PPC) Ulhee Lheue, Banda Aceh, pekan lalu.

Harapan seorang anak perempuan berusia empat tahun akan mendapatkan oleh-oleh unik, cantik, dan menarik terbalut bungkusan yang rapi---adalah harapan yang tak mungkin kudapatkan lagi saat ini, saat aku telah dewasa.

Aku, ketika itu, teringat betul beraneka ragam cenderamata bawaan orang tuaku yang tak pernah nampak di pasaran Aceh daratan. Aku sangat tertarik dan selalu menunggu serta mendambakan barang-barang bawaan orang tuaku itu. Maklumlah, kehidupan anak jengek sudah terlanjur "wah".

Walaupun kedatangan kapal sering terlambat dari jadwal sebenarnya, namun hal itu tak membuatku bergeming di PPC Ulhee Lheue. Dari balik pagar, aku sesekali mengintip ke arah dermaga. Selepas itu, aku pun bermain bersama anak-anak lain seusiaku yang juga menunggu kedatangan keluarganya.

Begitu kapal merapat, teriakan kecilku memanggil Ayah dari kejauhan tak kunjung reda---tak tahu apakah Ia mendengarnya. Yang penting bagiku kegembiraan hati tertuangkan melalui teriakan tersebut. "Ayah... Ayah... Imah (nama panggilan semasa kecilku) di sini bersama mamak," kataku saat itu.

Dari jauh sosok Ayah ku terlihat gagah menenteng bungkusan besar di tangan kanan dan kirinya. Di bahunya menggelantung beraneka produk barang-barang tentengan. Badan Ayahku yang kurus tiba-tiba menggelembung setiap kali pulang dari Sabang.  Orang yang tak mengerti pasti mengira ayahku keseringan menyantap makan makanan enak dan berlemak yang bertabur di Kota Free Port Sabang.

Tapi bagi yang mengerti, khususnya para keluarga jengek, pemandangan itu adalah lumrah. Sebab---penggemukan alami terjadi pada tubuh para jengek merupakan pengelabuan terhadap petugas bea cukai di pelabuhan. Sepatu di pakai langsung---begitu juga aksesoris lain, seperti jam tangan, ikat pinggang, dan kalau perlu baju kaos, kemeja, dan jaket dipakai sekaligus.

Begitupun, tampaknya hal itu tak jadi soal dan sudah menjadi rahasia bersama antara petugas BC dan para jengek. Yang penting, di mata hukum tak terlalu mencolok. Ayahku pun melakukan hal demikian.

Unik memang pemandangan kala itu, apalagi hampir semuanya yang keluar dari kapal tersebut berbadan gemuk-gemuk dengan barang bawaannya. Selepas meletakkan bungkusan di hadapan kami di balik pagar masih dalam pelabuhan PC Ulhee Lheue, Ayahku kembali ke kapal mengambil sisa bawaannya. Itupun untung-untungan kalau tidak keburu orang lain mengambilnya.

"Untuk menghindari barang tidak dicuri orang, ada baiknya merekrut dua pekerja. Satu bertugas menjaga barang di kapal dan satunya lagi mengangkut barang," kata Ayahku, PNS yang saat itu sedang tugas belajar di Fakultas Adab IAIN Ar-raniry Darussalam Banda Aceh.

Petugas bea cukai, cerita ayah, terkadang ada juga yang kelewat disiplin. Kelebihan sekilogram saja barang langsung disita dan tidak jelas dikemanakan barang tersebut. Namun, ada juga petugas yang cuek bebek dan membiarkan para jengek itu berlenggang kangkung melintas di depan matanya.

Barang bawaan Ayahku tidak sampai ke rumah sudah terjual, karena begitu keluar dari pelabuhan telah menunggu puluhan pedagang yang memang setia memakai masa-masa 'Jenggo' seperti Ayahku itu. Namun, ada juga barang bawaan dijual langsung ke pedagang kelontong yang ada di Pasar Aceh

Sekali keberangkatan ke Sabang untung diraih mencapai Rp 30.000,- hingga Rp.100.000,-. (Pembaca dapat bayangkan berapa gaji guru sekitar tahun 1973-an), dimana mengharapkan gaji saja belum tentu mencukupi dengan kondisi perekonomian Indonesia saat itu dan tentu saja perolehan demikian dapat dikatakan lumayan meningkatkan kesejahteraan keluarga yang pas-pas an.

Pasca Ayahku jadi 'Jenggo' berbagai produk luar negeri pun sempat kami rasakan, seperti pakaian, sepatu, sandal, makanan, buah-buahan, sabun cuci dan mandi, shampoo, sampai peralatan dapur dan rumah tangga. Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama menyusul runtuhnya kejayaan Free Port Sabang di pertengahan tahun 80-an.

Runtuhnya pelabuhan bebas Sabang ikut pula melorotkan perekonomian seorang 'Jenggo' dan keluarganya. Pengaruh itu jelas kurasakan -- dari yang hidup serba berkecukupan sampai harus menikmati yang namanya berbagi jatah dengan empat saudaraku yang lain kesemuanya perempuan.

Sekarang, Ayahku tak jenggo lagi. Di usia tuanya dia tengah asyik menikmati masa-masa santai karena telah purna tugas sebagai 'Umar Bakri' di salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Aceh Besar. Diapun telah menunaikan ibadah haji meski bukan dari hasil warisan kejayaannya sebagai seorang 'Jenggo'. Cerita Ayahku seorang jengek, masih terpatri dalam ingatan.  Ayahku pun telah tiada, sepenggal kisahnya mengais rezeki demi keluarga, tertoreh dalam catatan hidupku.

Mengenang cerita 30 tahun silam (kini terbilang 50 tahunan) hingga ayahku pensiun dan naik haji---aku pun tersadar diri sebagai anak mantan jenggo. Aku tinggalkan pelabuhan Ulhee Lheue, pekan lalu, sambil tersenyum.  Rupanya, aku tergoda lagi dengan romantisme masa kanak-kanakku dahulu. Aku bangga dan senang jadi anak seorang jenggo. Aku akan selalu mengenangmu. Al-Fatihah untuk Ayahku. | Dian Emsaci | (Tulisan ini, pernah dimuat di Hr. Waspada, 24 April 2003).

Editor:
Iklan BM Bank Aceh
Sponsored:
Loading...
Iklan BM DPRA
Sponsored:
Loading...