Breaking News

Ada Apa, Pedagang Kepung Masjid Raya Baiturrahman?

Ada Apa, Pedagang Kepung Masjid Raya Baiturrahman?
Sepanjang jalan samping MRB jadi lahan dagangan | foto rusli ismail

SETELAH melaksanakan ibadah puasa seharian penuh dan shalat Tarawih selama Ramadhan, dan hari ini, Sabtu 16 Mei 2020 memasuki hari ke-23, umat Islam masih dihadapkan dengan lebaran Idul Fitri 1441 H yang sudah diambang pintu.

Kesempatan emas untuk meraup untung lebih banyak saat umat Islam menghadapi lebaran Idul Fitri khusunya di Provinsi Aceh, kini dimanfaatkan dengan seluas-luasnya oleh sejumlah pedagang obralan dan pedagang kaki lima, yang menggelar berbagai motif pakaian di berbagai sudut kota baik kota provinsi maupun kota-kota kabupaten dan kecamatan, mulai ramai dibanjiri pedagang dan konsumen.

Bahkan yang sangat menarik apa yang terjadi di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, meski masih berlangsung shalat tarawih. Imam masjid masih memimpin rakaat-rakaat terakhir tarawih bagi yang shalat dua puluh rakaat, sebelum ditutup dengan sunat witir tiga rakaat.

Pasar malam di depan Masjid Raya itu terus beraktifitas dan pengunjungnya pun mulai berdatangan terutama jamaah tarawih yang menyelesaikan tarawih delapan rakaat.

“Suasana ini sudah biasa bagi orang ramai melaksanakan shalat tarawih di Masjid Raya, yang posisinya tepat di tengah-tengah kota Banda Aceh itu,“ ujar seorang konsumen seraya menambahkan sejak awal bulan puasa, para pedagang kaki lima telah membuka lapak jualannya di depan masjid ini.

Mereka yang sebelumnya hanya berada di luar pagar bagian halaman depan  masjid. Di bawah tenda-tenda pedagang menggelar dagangannya, ada yang menggunakan lampu terang, ada yang mengandalkan lampu hias jalan dengan remang-remangnya.

Namun, mulai Ramadhan tahun ini digeser (pindahkan) ke jalan depan atau jalan utama (Jalan Diponogoro). Ini dimaksudkan agar tidak terganggu jamaah sedang shalat Tarawih di Masjid dari suara-suara pera pedagang, kata seorang pengunjung.

Di sini beraneka pakaian jadi dijual, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, sepatu, sandal termasuk sepatu/sandal monza, beraneka ragam peci, mainan anak-anak, aksesoris, jam tangan, voucher, kartu dan aksesoris HP, kembang api, mie bakso, bahkan pedagang jamu juga berbaur di situ.

Ketika memasuki kawasan tersebut, meski sempit layaknya memasuki sebuah loss pasar saja. Karena pedagang berjualan berlapis di dalamnya, di atas trotoar samping pagar masjid. Bahkan banyak pedagang pakaian jadi membuka lapak dagangan itu hingga ke pinggir jalan utama Sementara di jalan itu pula hilir mudik orang-orang dan hiruk pikuk kenderaan lewat.

Sedangkan di sebelah utara Masjid Raya, Jalan Tgk Chik Pante Kulu, juga sejumlah pedagang membuka jualannya seperti pedagang sandal dan sepatu. Berbelok ke arah Barata belakang masjid juga dipenuhi para pedagang. Begitu juga penjual sirih juga tak ketinggalan beraktifitas di malam hari Ramadhan sehingga menambah keramaian sekitar masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut.

Ibu-ibu penjual sirih ini, memang sudah sejak lama menggunakan kawasan jalan strategis tersebut untuk menjual sirih. Baik itu pada siang hari maupun malam hari. Sehingga mereka juga ikut berbaur dengan pedagang kaki lima dan pedagang dadakan lainnya.

Di antara lapak-lapak jualan pedagang itu masih ada lokasi taman yang kosong, yakni taman kota  yang masih berseberangan  jalan dengan pagar Masjid Raya Baiturrahman.

Tempat ini sebelumnya biasanya digunakan pedagang obat kaki lima dengan berbagai atraksinya, selain juga di taman kota itu digunakan sebagai lapak parkir kenderaan.

Usai shalat tarawih dan witir di Masjid Raya, penjual obat kaki lima ini mulai cuap-cuap dengan menggunakan alat pengeras suara. Sementara sejumlah qari melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di dalam Masjid Raya sebagai aktifitas rutin mengisi malam tadarus di malam Bulan Ramadhan.

Suara pedagang pakaian obral, suara becak, kenderaan dan lalu lalang warga serta kebisingan lainnya menambah hiruknya suasana malam Ramadhan di pusat Kota Banda Aceh, yang membuat Masjid Raya Baiturrahman bagai terkepung lautan manusia di sepanjang malam di Bulan Ramadhan itu.| rusli ismail |.  

Sponsored:
Loading...
Sponsored:
Loading...